Beastly

Nggak terasa (kata Hardrock FM) hampir enam bulan bioskop-bioskop Indonesia sepi dari film-film mainstream Hollywood akibat permasalahan pajak importir yang udah menggunung. Kalo nggak salah, film terakhir yang saya sempet tonton sebelum ‘berita duka’ itu merebak adalah “No String Attached”. Waktu itu saya lagi nunggu-nunggu rilisnya “Black Swan”, dan berita bahwa film Hollywood nggak masuk Indo lagi, nggak bikin saya ketar-ketir. Waktu itu saya (seperti kebanyakan orang lain) cuma mikir: “Aaaah… biasalah… paling bentar lagi juga masuk lagi.”

Dan tibalah nyaris enam bulan kemudian, tiap tengah minggu dan mulai kangen sama popcorn 21 *eh , saya ngecek jadwal film, dan selalu jadi down ngeliat judul-judul yang terpampang di sono. Arrrgh. Sebal.

Ini poster yang edar di Indo dan poster ini lumayan bikin saya ilfil juga. Terkesan jadul dan nggak kaya film romance

Poster ini lebih biasa design-nya, tapi lebih keliatan romance-nya, nggak sih?

Nah, Beastly ini udah bertengger hampir sebulan di bioskop waktu akhirnya saya dan pacar memutuskan buat nonton ini. Singkat cerita, tiap minggu, selama tiga minggu, kami berencana buat nonton bareng, tapi langsung patah semangat begitu liat pilihan filmnya. Beastly ini sempet jadi kandidat juga, tapi jujur saya sih rada males ya, secara saya udah baca reviewnya di Cinemags dari tahun lalu, dan ceritanya plek-plek-an Beauty and The Beast versi modern. Kok rasanya bisa merusak selera dan imajinasi saya ya? Lagian saya kuatir si pacar ngantuk nonton adegan (yang pasti) menye-menye di film itu.

Tapi setelah hampir sebulan ngidam makan caramel popcorn di ruangan berkursi merah itu, dengan setengah putus asa, kami nonton Beastly juga.

Dikisahkan, Kyle seorang remaja pria supertampan dan superkaya, yang selalu diindoktrinasi papanya bahwa fisik adalah yang utama, adalah juga seorang pria yang suka melecehkan teman-temannya yang dia anggap biasa aja. Dan (seperti film ala-ala sinetron pada umumnya) dia sesungguhnya hidup kesepian bersama papanya yang supersibuk.

Suatu hari dia ngerjain temannya, Kendra yang ternyata seorang penyihir (yaelah….tepok jidat), yang lalu mengutuknya jadi buruk rupa. Kyle baru bisa kembali jadi seperti sedia kala, jika dalam satu tahun, dia berhasil membuat seorang cewe bilang “I love you” ke dia. Dan begitulah cerita berlanjut, dia diasingkan papanya, tinggal sendirian di pinggiran kota dengan seorang pelayan wanita yang hidup jauh dari anak-anaknya, dan seorang guru privat yang buta.

Di suatu malam Halloween, Kyle kabur keluar rumah. Pas buat dia, karena nggak perlu menutup-nutupi mukanya. Di situlah dia bertemu lagi dengan Lindy yang dulu juga teman sekolahnya, dan menemukan ketertarikan gadis itu padanya di masa lalu. Singkat cerita, Kyle mulai jatuh cinta, dan sering mengawasi Lindy di rumahnya. Di suatu malam, seorang pengedar narkoba mengancam akan mencelakakan Lindy. Nah pinternya si Kyle nih, dia maksa papanya Lindy buat ngebiarin Lindy tinggal di rumah Kyle sampai keadaan aman.

Dan dimulailah kisah cinta Kyle (yang mengaku bernama Hunter) dengan Lindy, yang nggak menyadari bahwa Hunter adalah Kyle. Sisanya, udah tau dong ceritanya? Yah persis sama Beauty and The Beast, versi modern.

 —-0O0—-

Seperti diduga, emang buanyak adegan menye-menye ala abege di sini. Mulai dari Kyle yang berwajah merana sambil ngeliat muka papanya di siaran berita yang di-pause (emang nggak punya foto papah ya, Kyle?). Lalu Lindy yang selalu (catat: selalu) senyum manis malu-malu ala princess dan bisa out of nowhere yakin kalo Kyle aslinya baik walau sifatnya buruk (Lah, tau darimana?). Lalu Kyle yang bersibuk-sibuk bikin rumah kaca berisi mawar buat Lindy dan nulis surat cinta setiap harinya. Yah so sweet, so menye-menye….

 

Eh tapi… si pacar di tengah-tengah film, beberapa kali ngomong: “eh, aku kok suka ya yang menye-menye gini…”.

 

 JEGER! Mane pacar eke yang dulu sukanya film action spionase, fantasi macam Pirates of Carribean, atau slapstick sekalian ala Hang Over?

Eh tapi… saya kok juga jadi suka ya… yang menye-menye gini? Lain kali nonton yang model ginian lagi ah. Plus ada Neil Patrick Harris. Eke ngefans sama doski *berasa anak lama*

 

Note: Vanessa Hudgens-nya supercakep di sini. Konon kata si pacar, bibirnya mirip saya. *langsung melotototin cermin berusaha mencari kemiripan dari berbagai angle*

 

GIG: Hiburan di kala bioskop begitu kelam oleh pocong dan kuntilanak, plus bonus quality time sama si pacar, dan dibilang mirim Vanessa Hudgens (biarin bibirnya doang juga). Pesan film ini yang sesungguhnya, bahwa penampilan bukan segalanya, malah nggak kena sama sekali buat saya. Malah jadi tambah pengen diet, supaya tambah mirip si mbak Vanessa(nggak bibirnya doang).

Dua Juli (part 1-Terjadinya)

Yeah, I know sekarang mah udah tanggal 3 Juli, bukan 2 Juli. emang sebenernya mau nge-post pas tanggal dua, tapi apa daya…lupa. Hehe

Hampir sebulan yang lalu, saya baru denger kalo papanya temen kantor saya kena stroke ringan. Mendadak saya ingat kejadian dua tahun lalu, 2 Juli 2009. Sebuah tanggal yang sepertinya nggak akan saya lupa seumur hidup saya. Ya, hari itu, Papi saya kena stroke. Dan selama dua tahun, saya nggak pernah membuka kisah ini selain kepada orang-orang terdekat. Bagaimanapun, pengalaman ini adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh perjuangan dan air mata, tapi juga tentu selalu ada berkat Tuhan yang bisa saya lihat di dalamnya.

Di masa-masa itu, pengalaman teman-teman yang udah pernah menghadapi keluarga penderita stroke, sering memberikan pencerahan buat saya. Saya sering dapat informasi dan penghiburan dari mereka. Lebih dari itu, saya jadi nggak ngerasa sendirian menghadapinya, karena saya tahu ternyata udah ada orang-orang lain yang pernah di posisi saya, bahkan mungkin lebih sulit. Karena itulah, setelah dua tahun, saya berniat membagikan pengalaman saya, dengan harapan ada pembaca yang sedang menghadapi penderita stroke bisa mendapat tambahan informasi dan penghiburan dari tulisan ini.

Karena kisahnya bakalan panjaaaaang….. dan lamaaaaa…. saya bagi jadi beberapa posting, yang akan saya lanjutkan sedikit demi sedikit, disesuaikan dengan waktu luang saya. Hehe. Happy reading.

 

Terjadinya…

24 Juni 2009, saya sidang akhir S1. Saya dan temen-temen di gereja yang sebagian besar juga baru lulus  kuliah, lagi pada ngidam main ke Dufan, dan 2 Juli 2009 jadi tanggal pilihan kami. Hari itu, saya dan Dea (sahabat sekaligus housemate masa kuliah) masih di rumah kontrakan di Karawaci, sepertinya ada administrasi kampus yang masih harus kita urus. Rencananya, siangnya kita berdua bakal langsung meluncur ke Dufan dari sana dan menemui teman-teman kami yang lain.

Baru sampe Kemayoran, HP saya bunyi, sambil nyetir, saya angkat panggilan itu dan di seberang sana, koko saya ngomong: “Kamu di mana? Papi stroke. Kita ada di RS Mitra (Klp Gading)”. FYI, seminggu sebelumnya, Papi saya baru aja keluar dari RS yang sama karena sesak nafas akibat ada cairan di paru-parunya. Dan terakhir saya ketemu, dia keliatan sehat-sehat aja.

Setelah menutup telepon, saya masih sangat tenang, masih bisa mikir jernih dan tersenyum. Dalam hati, saya yakin semuanya baik-baik saja dan Papi cuma stroke ringan. Saya sering denger orang yang kena stroke ringan dan mereka pulih dengan cepat, nyaris tanpa bekas.

Saya bilang ke Dea tentang informasi itu. Saya bilang juga, saya bakal drop dia di Dufan, dan minta tolong dia ‘bohong’ ke teman-teman lain, kalo saya harus balik ke kampus karena ada urusan yang ternyata belum selesai. Waktu itu saya cuma mikir, nggak mau ganggu mood mereka bersenang-senang, sekaligus saya nggak mau menghadapi sikap dan pertanyaan-pertanyaan bernada kuatir dari mereka. Dan setelah anter Dea ke Dufan, saya meluncur ke RS Mitra.

Sampai di sana, bayangan saya bahwa semua akan baik-baik saja dalam waktu singkat, mulai sirna. Waktu itu Papi saya masih tergeletak di UGD, dengan macam-macam alat dan selang terhubung ke tubuhnya. Mami, Koko, dan dua tante saya yang dokter, terlihat cukup tenang. Cuma Cici yang *seperti biasa* sesenggukan. Hehe. Masih ada sedikit harapan di kepala saya, kalo ini hanya stroke ringan, dan Papi akan cepet pulih. Tapi semua harapan beneran sirna, waktu Papi saya didorong masuk ke ICU.

Dan Koko menceritakan kejadiannya. Jadi, pagi itu, Papi lagi mandi, dan Koko ada keperluan yang harus diomongin sama Papi, jadi ditungguinlah sampe Papi kelar. Nah, Papi emang biasa lamaaaaa banget mandinya. Tapi hari itu sepertinya kok lebih lama, dan karena Koko perlu ngomong dan urgent, diketoklah kamar mandinya. Lah, kok nggak ada sahutan sama sekali. Diketok lagi, tetep nggak ada sahutan. Untungnya, Papi nggak pernah kunci pintu kalo lagi mandi. Pintu kamar mandinya cuma ditutup aja, tanpa dikunci. Jadi, Koko bisa langsung masuk, dan di situ ditemuin Papi udah tergeletak di bak mandi dengan shower masih nyala. Untung juga showernya masih nyala (air hangat) jadi Papi nggak kedinginan.

Si Koko cerita, waktu dia mau angkat Papi, Papi masih sempet marah-marah dan bilang bisa bangun sendiri. Hehe emang ‘galak’ sih Papi eke dan ego nya sangat besar. :p Tapi yang tentu dia nggak bisa bangun sendiri pada kenyataannya. Untungnya hari itu rumah lagi cukup ‘ramai’ karena ada sopirnya Koko, tukang kebun, dan pembantu cowo di rumah. Jadi dengan bantuan mereka, Papi diangkat ke ranjang (Papiku waktu itu gemuk sekali, boooo) lalu ke ambulance, dan lalu ke Rumah Sakit.

yah demikianlah singkat terjadinya. Besok-besok lanjut lagi ya… 😀

 

 

GIG: sepanjang ‘kisah sedih’ ini, udah berapa kali saya nulis ‘untung’ dan ‘untungnya’? Sebenernya itu bukan sekadar untung-untungan karena saya percaya ada pekerjaan Tuhan di dalamnya. Yah, bersyukur Koko lagi ada perlu ngomong sama Papi, jadi ada yang notice kalo Papi nggak kelar-kelar mandinya. Bersyukur Papi punya kebiasaan nggak kunci pintu kamar mandi, jadi nggak butuh waktu lama lagi buat bongkar-bongkar atau dobrak pintu. Bersyukur, shower-nya masih nyala air hangat, jadi Papi nggak terbaring kedinginan di bak mandi. Bersyukur, waktu itu lagi banyak pekerja pria di rumah, kalo nggak bingung juga siapa yang kuat bantu Koko buat angkat Papi ke ranjang. Dan bersyukur juga terjadinya tepat setelah saya kelar sidang, jadi saya bisa segera meluncur ke rumah sakit tanpa beban. Baik ya Tuhan itu?

Did I Cry Watching My First Broadway Show?

Yang pernah baca 20 fakta tentang saya di About The Recipient mungkin inget kalo saya itu dari kecil udah suka seni dan bisa sampe nangis kalo ngeliat sesuatu yang terlalu bagus. Dan seperti yang saya ceritakan di posting sebelumnya, saya menghabiskan weekend kemarin di Singapura, dengan satu tujuan utama: nonton pertunjukan Broadway pertama saya, Lion King Musical.

 Pertanyaannya adalah: Apakah saya nangis waktu nonton itu?

Nonton pertunjukan Broadway udah jadi mimpi saya sekitar 2 tahun belakangan. Saya sampai pernah bilang ke seorang teman, kalo saya pengen ke New York, karena pengen liat pertunjukan Broadway secara langsung. Tapi waktu itu saya nggak terlalu serius berharap, secara biayanya udah pasti bakalan gede luar biasa.

Kalo diinget-inget lagi, saya mulai ‘kenal’ sama yang namanya Broadway show, gara-gara nonton film Chicago. Waktu itu saya masih SMP, dan saya emang udah pernah denger ada yang namanya Broadway, tapi nggak kebayang dan nggak kepikiran juga seperti apa bentuknya. Waktu nonton Chicago, walau saya nggak terlalu ngerti jalan ceritanya, jelas saya terpesona sama lagu-nyanyi-tari-nya.

Adegan yang langsung bikin saya jatuh cintrong adalah adegan “They Both Reached For The Gun”. Saya bener-bener amazed dengan penggambarannya, dengan harmonisasi pembagian suaranya, dengan kreatifitas lagunya, dan dengan simbolisasi di dalamnya. Nih saya embed adegannya di bawah ini. Buat yang nggak tau ceritanya, ini adegan waktu si Roxie, seorang wanita tersangka pembunuhan, bersama pengacaranya, memberikan pembelaan di sebuah konferensi pers.

Sekitar tiga tahun kemudian, saya udah kuliah, dan salah satu sahabat, Melina, kuliah di LSPR. Tahun itu, LSPR mengadakan pementasan Chicago, dan si Melina jadi salah satu anggota choir-nya, makanya saya diajak nonton. Walau ‘cuma’ diperankan para mahasiswa, acara ini sukses bikin saya inget lagi sama pertunjukan Broadway, dan mulai menanti-nanti ada pementasan ala-ala Broadway lagi di Jakarta.

Waktu itu, saya pikir, yang namanya Broadway tuh selalu bergaya swing-jazz dengan kostum klasik ala tahun 50-an, yah… seperti yang di Chicago itulah. Sampai sekitar 2 tahun lalu, saya kenal “So You Think You Can Dance”, dan dari review para juri, mata saya mulai terbuka kalo Broadway ternyata juga macem-macem style-nya, walau saya tetep nggak ngerti sih apa aja style yang ada di sana.

Menurut wikipedia, sebenernya definisi teater Broadway yang adalah:

Teater Broadway, atau sebuah Pertunjukan Broadway, merujuk pada sebuah pertunjukan, biasanya sebuah drama atau drama musikal, yang tampil di salah satu dari 39 teater profesional yang berkapasitas 500 tempat duduk atau lebih yang terletak di bilangan Theatre District, Manhattan, New York. Pertunjukan-pertunjukan yang hadir di Broadway dan sukses disana secara historis dianggap sebagai karya-karya yang dibuat untuk konsumsi khalayak ramai dan bukan karya-karya teater yang “mendalam” secara artistik seperti yang diproduksi oleh teater-teater lain di luar Broadway

Nah, kalo Lion King sendiri, adalah film Disney favorit saya waktu kecil! Lion King sepertinya film pertama yang saya tonton di bioskop. Waktu itu saya kelas 1 SD sepertinya. Dan sejak itu, saya dan dua orang sepupu rajin mengkoleksi mainannya (semacam action figure). Dan tiap kali ketemu, kita bertiga selalu mainin action figure ini sambil ngulang adegan di film-nya. Saya bahkan masih hafal nama-nama dan karakter hampir semua tokohnya, termasuk tokoh kecil dan antagonis.

Dan waktu saya mulai tertarik cari tahu tentang Broadway, saya juga tahu kalo Lion King Musical adalah salah satu pertunjukan paling terkenal yang udah ratusan kali dimainkan. Tapi jujur aja, saya ngebayangin teater di mana tokoh-tokohnya pake kostum binatang kok rasanya nggak sedap di mata ya? hahaha. Makanya pas denger dia ngadain show di Singapura (yang mana deket banget, dibanding harus ke New York), saya nggak terlalu mikirin.

Thanks to Glory, yang mendadak ngajak saya di moment yang tepat (baca: lagi haus liburan dan tantangan), jadinya saya langsung iya aja gitu.

Di dalam teater. Selama pertunjukan nggak boleh foto nih. Ini waktu layar belum keangkat. Photo by: Benny

The happy girls

Dan ternyata… astaganagrang. Buaguuuuuussss banget!!!!! Kostum binatang yang tadinya saya ‘kuatirkan’ bakal terlihat aneh, ternyata keren luar biasa! Artistik pake jempol sepuluh deh *hayo jempol siapa yang rela dipinjemin?*. Tata panggung juga di luar akal pikiran saya, bisa muter-muter, naik-turun, setiap detail dipikirin sampai nggak ada jeda kosong sama sekali di antara adegan. Jalan cerita dan lagu-lagunya, sama seperti filmnya, jempol sebelas.

Tapi yang paling bikin saya terpesona tuh ngeliat detil-detil kayak gesture badan yang luar biasa. Iya, saya tau pemainnya emang profesional dan mungkin udah ratusan kali mainin adegan yang sama. Tapi ya ampun…. sulit dikatakan dengan kata-kata deh. *loh*. Tiap gerakan dan kostum udah sangat diperhatikan. Misalnya waktu kepala leopardnya gerak, kepala si pemain juga gerak, bikin semuanya jadi terlihat harmonis, indah, artistik, tapi juga rill dan bisa dimengerti. Terus pas pemain antelope menliukkan tubuhnya, bener-bener kayak sekumpulan antelope yang lagi lari-larian. Keren luar biasa deh.

Aaaaah…. pokoknya bagus banget!!! Masih nggak percaya? Coba liat trailer-nya nih

Balik lagi ke pertanyaan semula : Apakah saya nangis waktu nonton itu?

Ehem…

Yes.. THRICE. *blush*

Tepatnya waktu adegan pertama waktu baby Simba ‘diperkenalkan’ di Priderock (Circle of Life), lalu waktu Simba dan Nala kabur dari Zazu (I just can’t wait to be king), dan adegan terakhir waktu Simba dan Nala ‘memperkenalkan’ anak mereka.

Adegan-adegan lainnya, saya nggak sampe nangis, tapi terus-terusan merinding.

Singkat kata, BAGUS BANGET. Yang lagi di Singapur, atau yang di Jakarta dan lagi ada budget lebih untuk liburan sejenak, segeralah ke sana. Pengalaman luar biasa 🙂

GIG: Ya pertunjukan Broadway pertama yang (akhirnya) bisa saya tonton. Sungguh berkat luar biasa. Thank You, Daddy!

10 Kali Pertama dalam 24 Jam

Weekend kemarin, saya pergi travelling bareng Pacar dan 2 teman kuliah saya, Glory dan Inggrid. Secara keseluruhan, karena satu dan lain hal, saya nggak terlalu menikmati travelling-nya. Tapi dalam 24 jam itu, banyak banget hal yang baru pertama kali saya alami dan bikin liburan singkat ini jadi berkesan.

  1. Pertama kali travelling hanya dalam waktu 24 jam di luar negeri pula, Singapura tepatnya. Yes, literally 24 jam. Karena pesawat kami landing di Changi di hari Sabtu, 28 Mei 2011 sekitar pk. 08.15 waktu Singapura. Dan kita take off dari Changi di hari Minggu, 29 Mei 2011 pk 08.50. Okeh, 24 jam 35 menit tepatnya.

    Welcome! Eh kok ga ada foto berdua si pacar ya?

  2. Pertama kali memutuskan pergi ke luar negeri tanpa booking akomodasi dengan hanya bermodalkan satu backpack. Kita emang udah niat mau ngemper di Changi aja karena toh kita pulang pake pesawat paling pagi.
  3. Pertama kali bener-bener lari-larian di Soekarno Hatta karena ngejar pesawat, dan jadi penumpang terakhir yang masuk ke pesawat. Ini karena kesalahan saya sih. Pesawat dijadwalkan take-off pk 05.40. Glory dan Inggrid udah stand-by di airport dari jam 4.30 pagi. Nah, jam segitu, si Pacar baru nyampe rumah saya, dan ini total karena kesalahan saya. Saya yang minta dia jalan dari rumahnya jam 4 pagi aja. Entah gimana, saya kaya salah ngitung spare waktu dan bener-bener nggak nyadar kalo saya salah, sampai mbak-mbak petugas check-in suruh kita beneran lari karena gate-nya udah mau tutup. Gilingan, dari berusaha nahan ngantuk, sampe langsung seger. Plus puas dicemberutin sama dua temen saya itu. Doh, nggak enak ati. Maap ya, teman… saya khilaf.
  4. Pertama kali spesial disenyumin sama seorang pria Singaporean yang lumayan ganteng tapi masih abege. Wkwkwkwk. TKP nya di Suntec. Anak ini (jiah sok tua) lagi mau kebaktian youth di gereja di sebelah toko buku yang kita datengin. Dia special senyumin saya, tapi tau-tau kayak gak jadi karena kaget. Kebayang gak? Kaya nyengir manis, tau-tau kaya kaget, trus gak jadi senyum, sok-sok nge-cool sambil liat ke arah lain. Eh ternyata itu karena ke-gap sama si Pacar. Si pacar malah bangga tuh, pacarnya masih ‘laku’ sama abege. Haha *tampol*. Btw kenapa sampe saya disenyumin ya? Saya jadi mikir apa karena saya cuma pake kaos Big Jill, jeans, dan backpack? Jadi kaya abege? Cihuy! Pake bacpack terus aaaaaah.

    Gimana? Apakah saya keliatan kayak abege? 😀

  5. Pertama kalike Marina Bay Sands, dan terkagum-kagum sama eksterior dan interiornya. Kita nggak ngapa-ngapain sih di sana, cuma jalan-jalan, lihat-lihat, sambil nunggu acara puncak dari travelling ini. Dan kita duduk-duduk di ruang terbuka di lantai atas, sambil makan egg taart dan foto-foto tentunya. Ah sungguh nikmat.

    Look at the ceilings!

    My fave spot

    The view + the egg taart = ❤

    Kita nggak janjian warna baju loh... sehati mungkin? ❤

  6. PERTAMA KALINONTON BROADWAY! Ya, Lion King! Ini dia nih acara utama kami. Tujuan utama kami ke Singapura ya karena mau nonton ini. Saya super hepi. Saking bahagianya, saya akan bikin posting sendiri nanti khusus untuk bahas pengalaman luar biasa ini.

    Nggak sabar...

    Finally...

  7. Pertama kali nyoba minum Affogato di Dome. Ya… ya… saya tau di Jakarta juga ada Dome, dan di kafe-kafe di Jakarta ada Afogato. Waktu itu saya dan pacar ‘cuma’ bermaksud cari kopi untuk membunuh kantuk dan kebetulan kami lagi di Paragon, yang mana ada Dome. Dan udah beberapa minggu, sejak baca blog-nya Niyaoke, saya pengen nyoba yang namanya Affogato. Dan…. I love it!!!! Affogato is my fave beverage from now!
  8. Pertama kali makan Rojak, di Chomp Chomp Hawker Center tepatnya. Tiap ke luar negeri, saya selalu pengen nyoba makanan-makanan lokalnya. Di Singapura, saya udah pernah nyoba Popiah, Char Kwetiau, Carrot Cake, Roti Canai, Stingray, tapi selalu gagal nyoba Rojak. Akhirnya kesampean kemaren itu. Hehe. Enak! Yah, mirip sama rujak buah di sini, tapi mereka pake cakwe garing juga. Jadi unik dan enak.
  9. Pertama kali kehilangan handphone. Keren ya, kehilangan handphone aja sampe musti ke luar negeri dulu. Hehe. Sedih banget karena saya baru pake handphone ini (tepatnya BB onyx putih) selama 3 bulan. Tapi yang paling bikin sedih, karena hilangnya akibat kecerobohan sendiri. Jadi ceritanya, menjelang jam 12 malam, kami tiba di Changi, langsung ke restroom karena mau ganti baju dan cuci muka. Dalam keadaan sangat lelah dan ribet dengan barang bawaan sambil ganti baju, saya ninggalin BB saya di meja dalam toilet. Saya keluar toilet dengan semua barang saya… kecuali BB ber-casing shocking pink itu. Beberapa menit di luar, sadar, dan waktu balik lagi, it’s gone. Bye, darla…. beserta dengan foto-foto, gambar karya-karya saya, dan beberapa contact number yang belum di back-up. Hiks
  10. Pertama kali tidur di airport semalaman. Ya seperti yang udah disebut di nomor 2, kami emang udah rencana mau ngemper di airport. Yang nggak disangka, Changi di kala malam, dinginnya di luar akal sehat. Saya betul-betul menggigil. Ditambah perasaan kacau karena baru kehilangan BB, saya nggak bisa tidur. Subuh-subuh, si Pacar ajak cari tempat yang lebih hangat dan untungnya ketemu. Ternyata di sana banyak yang tidur juga, selonjoran di kursi. Dan setelah pindah, kami bisa tertidur dengan nyenyak. Waktu akhirnya bangun jam 5 pagi, tinggal kita berdua aja yang masih tidur. Orang lain udah nggak tau pada ke mana. Astaga, malu-maluin aja! Udah mana si Pacar ngorok juga tidurnya. Hahahahahahah. Sayangnya saya nggak kepikiran foto-foto adegan ini. Semuanya udah bad mood sih. Kecapean jalan-jalan seharian plus ngurusin kehilangan handphone. Padahal bisa jadi kenangan lucu sebenernya.

    Baru nyadar kok foto terakhir di Sing-nya geje gini ya? Btw, ini di MRT station Serangoon kayanya

GIG: Sebuah perjalanan penuh kesan, banyak kenangan yang positif dan negatif, tapi yang pasti memaksa saya belajar untuk tetap bersyukur dan hepi dalam segala keadaan.

Limitless

Katanya sih, manusia hanya bisa mengakses maksimal 20% dari total kemampuan otaknya. Nah, gimana kalo ada pil yang bisa membuat kita mengakses 100% kemampuan otak kita?

Isi film ini kurang lebih seperti itu. Jadi si tokoh utama, Edie Morra, adalah seorang penulis yang seharusnya hidupnya baik-baik saja. Dia punya kontrak untuk nulis sebuah buku, dia pernah cerai, tapi udah punya pacar tetap. Tapi nyatanya nggak begitu. Dia kesulitan menuangkan isi kepalanya dalam kata-kata, jadinya bukunya nggak maju-maju. Dia hidup nggak teratur, nggak mapan, dan akhirnya…. bisa ditebak, ditinggalin pacarnya.

Dalam kondisi desperado kaya gitu, dia ketemu Vernon, mantan adik iparnya. Vernon terkenal sebagi seorang drug dealer, dan dia tawarin sebuah pil (sebagai sample) yang bisa membuat Edie mengakses 100% kemampuan otaknya. Edie sempet takut juga ya cobainnya, tapi dia pikir apa ruginya, toh hidupnya udah ancur berantakan. Dan ternyata… dalam 30 detik, dia jadi seperti orang yang berbeda. Dia jadi cinta kerapihan, dia jadi bisa mengakses memori masa lalunya di saat-saat yang dibutuhkan, dan dia menyelesaikan sebagian besar bukunya dalam semalam.

Esok paginya, efek pil tersebut habis, dia kembali jadi Edie yang dulu. Setelah ngalamin segala keuntungan pil itu, dia jadi pengen lagi dong. Nah jadilah dia nyari lagi si Vernon. Ada hal tak terduga di sana, tapi akhirnya dia berhasil mendapatkan pil ajaib lagi. Singkat cerita, dengan bantuan pil tersebut, dia jadi orang super sukses, banyak uang, dan mendapatkan kembali pacarnya dalam waktu singkat. Seperti bisa ditebak lanjutannya, muncul banyak efek negatif yang dibawa pil itu dalam kehidupan Edie.

Efek negatif macam apa?
Berhasilkah Edie mengatasinya?
Happy ending atau sad ending atau gantung?

Nonton sendiri ya, nggak mau jadi spoiler.

Yah, yang jelas, ide dan trailer film ini menarik banget. Dari pertama saya liat, udah niat banget mau nonton ini. Setelah menunggu sekiat lama, diputer juga di Indonesia. Moment-nya pun pas, pas lagi nggak ada film bagus yang masuk, jadinya dia macam satu-satunya film bagus saat itu yang belum saya tonton. Haha

Awalnya, film lumayan menarik, tapi kok saya kecewa sama endingnya ya? Rasanya langsung pop-up dalam pikiran saya: “Yah, gitu aja?”

Kan dengan genre film kayak gini, saya berharap ending-nya bakal keren dan bikin saya mikirin dan berimajinasi bahkan setelah film-nya kelar. Yah, macam Inception atau Source Code gitu deh. Tapi ternyata endingnya sangat ‘clear’. Semua konflik seakan selesai begitu aja macam fairy tale. Saya sampe mikir, apa saya yg salah tangkep endingnya ya?

GIG: Tontonan yang overall lumayan lah sebagai tontonan di tengah padang yang gersang film bagus tapi dipenuhi pocong dan kuntilanak ini. Hehe

Hatiku Hilang!

Hari itu hari istimewa sekaligus menyedihkan. Tunanganku menghampiriku di hari perpisahan kami. Ya, kami harus berpisah hari ini, aku harus pergi ke negeri yang jauh, jauh dari rumah yang telah kami rancangkan sebagai rumah masa depan kami berdua. Aku sedih dan takut, aku tidak rela berpisah dengan kekasihku, tapi kami berjanji akan bertemu kembali. Dan pada saat itu aku akan menjadi pengantinnya.

Supaya aku tetap mengingatnya dan tetap mengingat janji kami, ia memberiku suatu benda yang sangat berharga, sebuah hati.

Sejujurnya, aku tidak mengerti mengapa ia menyebutnya berharga. Benda itu tidak berkilau seindah permata dan juga tidak sehalus sutra. Benda itu kelihatan lembek, rapuh, biasa saja, namun terlindungi oleh kain putih miliknya. Ia bilang aku boleh menggunakannya sesuai kebutuhanku di negeri asing nanti tapi aku harus selalu menjaganya. Aku tidak mengerti, tapi karena kekasihku bilang begitu, aku percaya saja.

Akupun pergi ke negeri yang jauh, yang sungguh membuatku merasa asing dan sendirian. Aku tidak punya kawan apalagi sahabat. Aku merasa rakyat negeri ini berbeda dan aku tahu mereka juga merasa aku berbeda, bahkan sepertinya mereka membenciku. Aku sedih dan kesepian. Hanya hati hadiah dari kekasihku yang selalu membuatku terhibur, membuatku teringat akan negeri asalku dan tentunya kekasihku.

satu tahun…dua tahun… tiga tahun…
Lama-kelamaan aku semakin menyesuaikan diri dengan rakyat di negeri asing ini. Ternyata mereka tidak seburuk yang aku sangka.
Anehnya, ketika aku mengingat kekasihku, ia malah terasa semakin jauh. Tapi…ya sudah, apa mau dikata. Waktu bertemu kami toh masih lama. Aku harus pandai-pandai menyesuaikan diri di negeri yang baru ini.

empat tahun…lima tahun…enam tahun…
Aku memiliki banyak kawan dan sahabat. Aku semakin merasa aku tidak berbeda dengan mereka. Aku merasa makin nyaman dan hampir tidak ingin pulang. Aku ingat kekasihku, aku ingat janji pernikahan kami, tapi aku hampir tidak peduli. Aku tidak yakin lagi kami akan bisa bertemu lagi. Sudah terlalu lama dan ternyata negeri asing ini cukup menyenangkan juga.

Lalu tiba-tiba hari itu datang. Kekasihku datang!

Ia datang dengan senyum, menghampiriku.
“Pengantinku, aku datang menjemputmu.”
Aku terpaku, tidak menyangka ia datang secepat ini. Dan dalam sekejap mata, aku teringat sesuatu. HATIKU!

Ya ampun! Sudah lewat begitu lama! Di mana kutaruh hatiku? Kekasihku pasti akan segera menanyakan keberadaan benda berharga itu.
Ah, kekasihku tak boleh sampai tahu. Aku harus menemukannya terlebih dahulu.
‘Kekasihku, akhirnya kau datang menjemputku. Tapi ada sesuatu yang harus aku urus terlebih dahulu sebelum pulang bersamamu.’
Aku segera berlari menjauhi kekasihku.

Di mana hatiku? Aku betul-betul lupa.
Mungkin di bawah ranjangku yang nyaman? Ya, aku pernah menyimpannya di sana karena sangat nyaman, kukira pasti aman. Mmm tidak ada.
Mungkin di dalam folder-folder penuh data di laptopku? Aku pernah menaruh hatiku dalam data-data pekerjaan kantorku. Kupikir itu investasi yang sepadan. Mmm tidak ada.
Mungkin di dalam buaian orangtuaku di negeri asing ini. Mereka selalu melindungiku, jadi sempat kuserahkan hatiku pada mereka. Mmm tidak ada.
Mungkin ada di dalam pelukan pacar baruku? (Kekasihku memang menganjurkan aku punya pendamping sepadan selama ada di negeri asing) Pacarku selalu menjaga dan menyayangiku (kupikir begitu). Mmm tidak ada.

Ah ini dia! Akhirnya kutemukan hatiku di pojok rumahku. Penuh debu, tapi kain putih yang melindunginya masih utuh. Aku membukanya.
Di situ ada hati yang obesitas karena terlalu nyaman di tempat tidur dan sofa yang empuk. Hati itu juga penuh virus komputer dan ambisi merajalela dari pekerjaanku. Hati itu terluka oleh tuntutan orangtua yang kurang masuk akal. Juga kotor oleh hasrat seksual pacar yang tidak mengerti betapa berharganya hati itu.

Aku berusaha memperbaikinya tapi tidak bisa dan ternyata kekasihku terlanjur melihat perbuatanku.

Ia menitikkan air mata. Aku menitikkan air mata.
Bagaimana mungkin benda yang begitu berharga bagi kekasihku, kuserahkan pada tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab dan tidak mengerti harganya?

Tapi kekasihku mengambil hatiku dan memperbaikinya dengan penuh kelembutan hingga menjadi seperti baru, sambil mengingatkanku:
‘Hati ini seharusnya jadi milikku, kekasihku’

Maafkan aku, kekasihku.

Sebuah ilustrasi tentang hidup bersama sang Kekasih jiwa yang sejati

Originally posted on October 22th, 2008, di sini

Do Try This (but not) At Home

Jadi, tanggal 17 kemarin, yang merah di kalender itu, saya dan pacar nggak jadi ke Melrimba karena satu dan lain hal. Tapi karena pagi itu cuaca cerah banget, ditambah saya kalo nganggur di hari libur bawaannya bisa bad mood seharian, saya memutuskan untuk pergi sendirian, me time. Saya pengen ke suatu tempat yang nyaman buat duduk lama sampai sore buat baca buku. Kandidat saya tadinya ke tamannya Cetral Park, tapi bayanginnya kok gerah, panas, dan pasti rame ya? Kepikiran juga ke Serpong atau Karawaci, tapi kok ya nggak menantang ya…itu kan daerah ‘kekuasaan’ saya pas jaman kuliah. Sempet juga muncul ide main ke Outbondholic, Ancol, tapi dengkul saya lagi bonyok gara-gara jatoh pas di parkiran Taman Ismail Marzuki hari Minggu kemaren, mana mungkin kuat outbound?

Lalu saya terpikir…. Kebun Raya Bogor!

Adem, banyak pohon, ideal buat duduk-duduk lama dan baca buku, nggak mahal, ada cafenya juga, dan pastinya banyak tantangan secara saya belum pernah ke luar kota (kecuali Karawaci-Serpong) SENDIRIAN.

Saya sepertinya emang butuh dikasih ‘tantangan’ secara berkala buat boosting mood. Saya kan nyetir sendirian… not really sure rute nya bener atau nggak. Dan kegiatan nyetir itu aja udah berhasil bikin saya lebih hepi. Saya merasa menemukan kepercayaan diri yang selama ini agak ngumpet di bawah sana karena mungkin terlalu sering menggantungkan diri di balik perlindungan si pacar selama 4 tahun. Agak sulit jelasin perasaan saya kemaren itu, tapi kalian pasti ngerti dan pernah ngalamin kan? Ketika ada kombinasi antara ketegangan dan excitement, jantung mulai berdegup lebih kencang, adrenalin mengalir, trus jadi lebih hepi deh. Hahahahahahahahaha

Saya berangkat dari rumah pk 11.00 dan sampai Bogor hampir pk 12.30. Saya nggak ngerti Kebun Raya masuknya lewat mana, jadi bermodalkan ‘tanya orang’ akhirnya saya nyampe dan parkir di tepi jalan, seberang pintu 2 Kebun Raya. Untung parkiran nggak terlalu rame, soalnya saya kan nggak bisa parkir paralel. Hehe. Dengan Rp 8000,- saya bisa parkir seharian di situ.

Harga tiket masuk Kebun Raya Bogor Rp 9.500,- saja. Agak maksa nggak sih angkanya? Kenapa nggak Rp 10.000,- aja? Yah begitulah saya masuk, dan bengong beberapa menit di depan peta. Maklum, saya terakhir ke sana sepertinya waktu SMP waktu karyawisata sekolah. Dan saya memutuskan, tujuan saya adalah: Museum Zoologi, De Daunan Cafe, dan Ocrhid House. Saya udah melihat posisi ketiga tempat tujuan itu di peta, dan menentukan rute paling efektif untuk melewati ketiganya.

Yah jauh dari perkiraan saya… ternyata Kebun Raya itu buessaaaaar sekaliiiii dan jarak antara ketiga tempat itu juga jauuuuh sekali. Dan saya parkir di pintu 2, yang berarti tepat berseberangan dengan De Daunan Cafe, yang tadinya saya rencanakan jadi tempat singgah terakhir untuk lunch dan bersantai ria sebelum pulang. Alhasil saya jalan kaki sampe Museum Zoologi aja udah makan waktu lama.

Saya seneng di sana, bisa liat jenis-jenis hewan yang hampir nggak mungkin saya temui sehari-hari, walaupun dalam bentuk model dan binatang yang diawetkan. Amazed banget loh ngeliat betapa rumit, unik, sekaligus indahnya Tuhan ciptain macem-macem binatang. Dari serangga yang kecil-kecil, yang satu jenis aja bisa ada muacem-muacem bentuk, sampe yang gede-gede kaya badak dan gajah. Bentuk-bentuknya bener-bener variatif. Ada yang indah banget kayak kupu-kupu malam (saya baru tahu loh ada serangga yang namanya emang kupu-kupu malam) sampe yang ngeliatnya bikin geli sendiri, kayak ular dan kelabang. Hiiiy. Dan banyak banget yang unik…. ada burung yang bersayap tapi nggak bisa terbang, tapi ada juga tupai yang bersayap dan bisa melayang walaupun nggak terbang beneran. Ada hewan yang dikasih bulu lebat banget padahal aslinya badannya kecil, ada yang ‘cuma’ dikasih kulit yang agak bersisik. Ada hewan yang melindungi diri dengan bisa, ada yang dengan menggembungkan badan, ada juga yang dengan jarum.

Sebenernya, kita semua ‘kenal’ kan hewan-hewan ini? Tapi seberapa sering kita amazed sama penciptaan mereka? Kalo saya sih nggak terlalu sering secara saya nggak terlalu suka hewan. Nah, kesempatan ke tempat kaya gini, buka mata saya lagi tentang keberagaman dan keunikan mereka, karena semuanya seolah dijejer di depan mata saya.

O ya, satu pemandangan ‘manis’ lagi adalah seorang ibu muda yang dateng sama anak perempuannya (sekitar 7-8 tahun) dan si ibu aktif ngejelasin anaknya tentang hewan-hewan di situ. Awwwwww. Seneng ngeliatnya… Nanti kalo udah punya anak, bakal saya kenalin sama museum dari kecil ah. Moga-moga dia juga suka sama museum kayak mamanya. Hehe

Keluar dari Museum Zoologi udah jam 13.30-an, perut mulai complain, dan saya pun menuju ke De Daunan yang ternyata jauuuuuuuh boooook. Ditambah dengkul bonyok yang bikin jalan saya jadi lebih lambat gara-gara nahan rasa ‘pedes’nya, baru nyampe di De Daunan menjelang jam 2 siang. Dan woooow ternyata bagus banget ya tempatnya!!!! Maap ya kalo agak norak, maklum… walau udah beberapa kali ke Kebun Raya, saya nggak pernah makan di sana. Biasanya kalo ke sana ya piknik, duduk di tiker, bawa bekal dari rumah :p.

Saya duduk menghadap ke tamannya yang luas. senang rasanya melihat warna hijau daun di mana-mana, plus pemandangan sekelompok anak muda yang (sepertinya) sedang KTB, pasangan yang sedang menanggal, dan anak-anak kecil yang berlari-larian. Sungguh pemandangan makan siang yang indah. Saya order De Daunan Mix Grill dan De Daunan Fruit Punch. Minumannya top markotop! Enaaaak! Makanannya…. mmm bumbunya sih enak tapi dagingnya agak alot-alot. Yah OK-lah…. Trus karena mikir pulangnya bakal macet, saya pesen poffertjes buat take away. Total menghabiskan Rp 78.000,- Lumayan…

Jam 3 sore, saya akhirnya memutuskan nggak ke Orchid House, mengingat perjalanan saya ke tempat parkir bakal jauh dan makan waktu lumayan lama. Jalan santai menuju ke Pintu 2, sambil memandangi pepohonan di sekitar saya, rasanya damai sekali. Lalu saya menyadari Kebun Raya udah mulai sepi dan ini bikin saya rada kuatir. Maklum ya… ngebayangin ‘ilang’ atau diculik di Kebun Raya, bisa-bisa nggak ketemu lagi batang idung saya. Haha. Tapi keren banget loh di sana…. Ada pohon-pohon yang kayanya umurnya udah tuir banget, sampe batangnya superbesar menyerupai bebatuan. Jadi tambah ngerasa Tuhan keren deh…

Dan selesailah petualangan saya hari itu. Untungnya perjalanan pulang juga nggak terlalu macet. Satu setengah jam saja, jam 17.30 saya udah sampe rumah. Sampai rumah… saya hepi… tapi dimarahin Mama gara-gara nekad ke Bogor sendirian!!!! Haha ya udah lah ya, biar umur kepala dua gini, tetep aja di mata dia kan saya anak perempuan bontotnya yang nggak gede-gede.

PS: Jadi apa dong yang harus ‘dicoba’ seperti saya sebutkan di judul? Ya cobalah berpetualang, melihat-lihat hal yang di luar kebiasan, lebih bagus lagi kalo bisa ngeliat ciptaan Tuhan seperti pengalaman saya ini. Makanya, jangan dicoba di rumah ya… soalnya kalo di rumah ya sama aja dooong liatnya itu-itu lagi. Saya percaya, petualangan, keluar dari rutinitas, baik untuk kesehatan fisik dan mental. Dan menikmati ciptaan Tuhan, baik untuk spiritualitas kita. Selamat mencoba!

GIG: kekaguman sama Tuhan karena melihat ciptaan-Nya yang begitu artistik dan beragam, dan tentunya mood yang super hepi di akhir hari 😀

(foto-foto akan saya upload nanti malam kalo udah sampe rumah ya… *sekarang kan colongan blogging di kantor*)

About The Recipient

Nambah satu page baru nih, tengok di kanan atas dan klik About The Recipient… Yah maksudnya ini isinya mah “About Me” gitu.

Kan page satunya yang jelasin tentang blog ini, namanya “About The Gifts” nah biar kompak, yang tentang saya namanya “About The Recipient” dong (recipient of the gifts). Haha.

Yang jelas, waktu saya nulis 20 point tentang saya di sana, saya jadi seperti mengingat-ingat lagi banyaknya ‘hadiah’ dari Tuhan dalam hidup saya. Dua puluh tuh ternyata banyak juga ya, itu bikin saya jadi membuka-buka memori lama yang ternyata lucu-lucu dan membahagiakan.

Cukuplah preview nya… Silahkan disimak, dikomen, dikonfirmasi kalo bener, disanggah kalo salah

😀