Pindah *lagi*

Simply karena saya sudah menikah, dan kata Pak Pendeta kami sudah menjadi satu daging, jadi nggak ada point-nya lagi untuk memisahkan blog pribadi dengan blog berdua,

dengan ini… blog GIG ditutup.

*padahal alasan sebenernya sih karena nggak sangguh ngurus 2 blog sekaligus*

==========================

Haha, OK versi seriusnya… Ternyata secara tidak direncanakan, kami mendulang *emangnya emas(?)* lebih banyak pembaca di Cerita Bendi dibanding di GIG. Dan melalui blog itu, saya bisa kenalan dan *merasa* berteman sama beberapa orang yang sampe sekarang sebenernya belum pernah ketemu.

Dan memang, karena udah nikah, toh kisah hidup saya pasti nyambung-nyambungnya sama si Mas yang satu itu. Jadi… pointless juga kan untuk mencoba memisahkan yang mana yang harusnya masuk GIG dan yang mana yang harusnya masuk Cerita Bendi.

Jadi…. mari kita pindah *lagi*. GIG nggak akan saya tutup, tapi nggak akan saya update lagi. Saya (dan si Mas Ben) akan share kisah dan pemikiran kami di blog Cerita Bendi.

Dan emang saya kerepotan sih ngurus 2 blog *teteup*

Yah…anggaplah semua alasan saya ini valid lah ya… lalu, silahkan rajin-rajin klik screenshot di bawah ini.

See you di Cerita Bendi!

Believe

“JalanMu tak terselami
Oleh setiap hati kami
Namun satu hal kupercaya
Ada rencana yang indah

Tiada terduga kasihMu
Heran dan besar bagiku
Arti kehadiranMu slalu
nyata di dalam hidupku

PenyertaanMu sempurna
RancanganMu penuh damai
Aman dan sejahtera
Walau di tengah badai

Ingin ku slalu bersama
Rasakan keindahan
Arti kehadiranMu Tuhan”

(A song by Jonathan Prawira)

Ya, Tuhan, aku percaya. Rancangan Tuhan tak pernah salah

Limitless

Katanya sih, manusia hanya bisa mengakses maksimal 20% dari total kemampuan otaknya. Nah, gimana kalo ada pil yang bisa membuat kita mengakses 100% kemampuan otak kita?

Isi film ini kurang lebih seperti itu. Jadi si tokoh utama, Edie Morra, adalah seorang penulis yang seharusnya hidupnya baik-baik saja. Dia punya kontrak untuk nulis sebuah buku, dia pernah cerai, tapi udah punya pacar tetap. Tapi nyatanya nggak begitu. Dia kesulitan menuangkan isi kepalanya dalam kata-kata, jadinya bukunya nggak maju-maju. Dia hidup nggak teratur, nggak mapan, dan akhirnya…. bisa ditebak, ditinggalin pacarnya.

Dalam kondisi desperado kaya gitu, dia ketemu Vernon, mantan adik iparnya. Vernon terkenal sebagi seorang drug dealer, dan dia tawarin sebuah pil (sebagai sample) yang bisa membuat Edie mengakses 100% kemampuan otaknya. Edie sempet takut juga ya cobainnya, tapi dia pikir apa ruginya, toh hidupnya udah ancur berantakan. Dan ternyata… dalam 30 detik, dia jadi seperti orang yang berbeda. Dia jadi cinta kerapihan, dia jadi bisa mengakses memori masa lalunya di saat-saat yang dibutuhkan, dan dia menyelesaikan sebagian besar bukunya dalam semalam.

Esok paginya, efek pil tersebut habis, dia kembali jadi Edie yang dulu. Setelah ngalamin segala keuntungan pil itu, dia jadi pengen lagi dong. Nah jadilah dia nyari lagi si Vernon. Ada hal tak terduga di sana, tapi akhirnya dia berhasil mendapatkan pil ajaib lagi. Singkat cerita, dengan bantuan pil tersebut, dia jadi orang super sukses, banyak uang, dan mendapatkan kembali pacarnya dalam waktu singkat. Seperti bisa ditebak lanjutannya, muncul banyak efek negatif yang dibawa pil itu dalam kehidupan Edie.

Efek negatif macam apa?
Berhasilkah Edie mengatasinya?
Happy ending atau sad ending atau gantung?

Nonton sendiri ya, nggak mau jadi spoiler.

Yah, yang jelas, ide dan trailer film ini menarik banget. Dari pertama saya liat, udah niat banget mau nonton ini. Setelah menunggu sekiat lama, diputer juga di Indonesia. Moment-nya pun pas, pas lagi nggak ada film bagus yang masuk, jadinya dia macam satu-satunya film bagus saat itu yang belum saya tonton. Haha

Awalnya, film lumayan menarik, tapi kok saya kecewa sama endingnya ya? Rasanya langsung pop-up dalam pikiran saya: “Yah, gitu aja?”

Kan dengan genre film kayak gini, saya berharap ending-nya bakal keren dan bikin saya mikirin dan berimajinasi bahkan setelah film-nya kelar. Yah, macam Inception atau Source Code gitu deh. Tapi ternyata endingnya sangat ‘clear’. Semua konflik seakan selesai begitu aja macam fairy tale. Saya sampe mikir, apa saya yg salah tangkep endingnya ya?

GIG: Tontonan yang overall lumayan lah sebagai tontonan di tengah padang yang gersang film bagus tapi dipenuhi pocong dan kuntilanak ini. Hehe

About The Recipient

Nambah satu page baru nih, tengok di kanan atas dan klik About The Recipient… Yah maksudnya ini isinya mah “About Me” gitu.

Kan page satunya yang jelasin tentang blog ini, namanya “About The Gifts” nah biar kompak, yang tentang saya namanya “About The Recipient” dong (recipient of the gifts). Haha.

Yang jelas, waktu saya nulis 20 point tentang saya di sana, saya jadi seperti mengingat-ingat lagi banyaknya ‘hadiah’ dari Tuhan dalam hidup saya. Dua puluh tuh ternyata banyak juga ya, itu bikin saya jadi membuka-buka memori lama yang ternyata lucu-lucu dan membahagiakan.

Cukuplah preview nya… Silahkan disimak, dikomen, dikonfirmasi kalo bener, disanggah kalo salah

šŸ˜€