2011 Review by WordPress

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Happy New Year, semuanyaaaa!!!!!

Jiaaah canggih aja nih WordPress. Saya aja belom sempet upload review hidup saya selama 2011, WordPress malah udah colong start, bikin review blog saya selama 201. Singkat cerita, beginilah ‘rapor evaluasi’ blog saya

Blog ini dikunjungi sekitar 4400 kali selama tahun 2011

Dengan posting yang paling sering dikunjungi:

  1.  10 Kali Pertama dalam 24 Jam – 8 comments – June 2011
  2.  Something Borrowed dan Persahabatan Tiga Turunan – 16 comments – July 2011
  3.  My Sassy Girl – 6 comments – May 2011
  4.  Limitless – 2 comments – May 2011
  5.  Rahasia – 3 comments – January 2011

 

Sedangkan temen-temen yang paling sering komen adalah:

  1.   dea – 22 comments
  2.   bun ( -> ini maksudnya Mas Ben) – 17 comments
  3.   Brigitta – 10 comments
  4.   gloryekasari – 3 comments
  5.   nirmala – 3 comments

Makasih ya, Man-Teman!!!!!!! *kiss kiss*

 

Dan hari ter-ramai buat blog ini adalah 2 Juni 2011, dengan 188 views *eh serius loh eke melotot kaget liat angka ini!*. Dan di hari itu, posting yang paling sering diliat adalaaaah……. 10 Kali Pertama dalam 24 Jam.

 

Giling saya nggak pernah kebayang bisa diliat 188 kali dalam sehari. Dari mana ya orang-orang itu dapet link blog saya? Ternyata eh ternyataaaa, WordPress kasih tahu juga jawabannya. Banyak dari mereka di-refer dari:

Buat Dea, Laras, Mel O, dan Mark Zuckerberg…..trimkisi very much!

Dan buat temen-temen yang penasaran betapa kerennya report yang dibuat sama si WP ini, bisa klik link di bawah.

Click here to see the complete report.

 

 

GIG: Review blog yang melebihi ekspektasi… ternyata tulisan curahan hati dan pemikiran banyak dibaca orang juga yah…. semoga banyak juga yang terberkati, semoga nama-Nya bisa dimuliakan melalui tulisan-tulisan ini.

Advertisements

Rambut? Siapa Takut?

Saya yang takut…. hihihihi

 

Sejak kecil, saya dianugerahi rambut tebal. Gak cuma di kepala, tapi juga di kaki. *hiks hiks*. Dan karena berasal dari keluarga konservatif, yang sebelumnya nggak pernah ada wanita dengan rambut kaki setebal dan sebanyak saya, saya nggak dapet ijin (dan nggak terpikir) buat menghilangkan rambut-rambut itu. Salah satu alesannya juga karena saya sering ditakut-takutin, kalo dicukur ato di-wax, nanti tumbuhnya tambah tebel.

Lalu… menjelang lulus SMA, temen-temen saya mulai ada yang wax rambut kaki, dan tentu saja saya minat ngeliat kaki-kaki mulus mereka. Walau masih sedikit parno, pemandangan rambut subur di kaki saya udah semakin mengganggu. Jadi setelah mencari info ke sana ke mari, saya (dengan minta ditemani Mami saya yang funky) memberanikan diri ke salon untuk waxing.

Ternyata waxing nggak seseram dan sesakit yang biasa digambarkan di film-film. Rasa sakitnya biasa aja. Dan pada tarikan pertama, komentar spontan Mami saya adalah:

“Waaaah ternyata kaki kamu putih ya!!!!”

JEGER.

Yah begono deh, saya juga baru tahu sebenernya. Jadi karena seumur idup ketutup rambut, kaki saya keliatan agak dekil, dan begitu kertas wax pertama ditarik, langsung ada pitak yang memamerkan kulit putih saya *tsah*. Dan dari sinilah, saya mendapat restu sepenuhnya dari Mami untuk membumihanguskan rambut-rambut kaki setiap kali mereka mulai menampakkan diri.

Selama kuliah, saya rajin waxing di salon langganan deket kampus. Setidaknya sebulan sekali lah, demi kaki mulus senantiasa.

Lulus kuliah, saya nggak berhasil menemukan salon yang bisa waxing murah meriah di daerah rumah saya. Jadilah saya beralih ke razor, yang ternyata bawa masalah baru: rambut-rambut saya ada yang numbuh ke dalam. *duh*. Kebayang ga? Jadi ada beberapa rambut yang numbuh, keliatan ada rambutnya, tapi nggak bisa dipegang, karena dia tumbuh di bawah lapisan kulit paling atas yang bening. Ckck. Dan setelah baca-baca, ternyata itu memang salah satu efek samping razor.

Lalu saya beralih, beli gel untuk wax sendiri di rumah, yang mana nggak segampang yang saya bayangkan. Rambutnya nggak bener-bener bersih. Dan puncaknya, sekitar pertengahan tahun ini, saya nyoba waxing di salon Y*P*E… yang ternyata mengakibatkan kaki saya iritasi lumanjen parah. Lapisan kulit saya yang paling atas kayak ikut ketarik, jadi ninggalin bekas kemerahan berukuran lumayan besar-besar dan gatal. Hiks hiks.

Saya pun ke beautician buat ngilangin bekasnya. Dan dia saranin saya buat nyoba laser hair removal.

Sebenernya, saya udah denger metode itu dari beberapa tahun lalu, dan udah bikin ngiler banget, secara janjinya bisa ilangin rambut permanen. Tapi begitu denger harganya, saya langsung melotot. Huks, mahal bener. Dan karena ngilangin rambut tentunya bukan prioritas, saya milih razor aja deh.

Tapi kan sekarang kondisinya saya lagi mentok sana sini nih. Razor bermasalah, waxing bersamasalah. Hiks. Nelangsa banget hati ini rasanya, bagai ditutup semua pintu bagiku untuk menjadi sedikit lebih mulus *nangis garuk-garuk pintu*

Tapi ehtapi… walau semua pintu ditutup, Tuhan bukain jendela tuh. Hihi.

Di waktu yang genting itu *OK saya lebay*, paaaaas ada promo laser hair removal dari Coslab di Disdus

Kira-kira kaya gini prosedurnya

Owalah menariknyooooo. Promo ini paket 6x laser hair removal untuk armpit dan kaki. Apalagi promonya di Coslab yang mana deket bener sama rumah saya. Plus lagi, diskonnya sampe 90%…. yang tragisnya… tetep mahal buat kantong saya. Huks huks.

Setelah beberapa hari mencari wangsit, mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya saya merelakan nominal itu, karena mengingat my hubby-to-be semacam phobia rambut-yang-kurang-pada-tempatnya. Ckck. Mengapakah Tuhan mempertemukan pria phobia rambut dengan wanita berambut banyak, ya? 😀

Iya bayangin ye… pernah suatu ketika, waktu lagi main di rumahnya, nggak sengaja dia ngeliat my armpit hairs yang nongol dikit. Beneran dikit looooh… masih pendek numbuhnya, bukan yang semacam Ev* Arnaz itu….. Dan apa dong yang dia lakukan? Dia langsung ngasih saya razor, suruh bumihanguskan saat itu juga. *tsk* Dan tak lupa dia mengingatkan saya untuk mencukur segala rambut-rambut itu setiap hari. Astaga, bayangkan hidup bersama dia seumur idup, dibangunkan dengan  razor di depan muka setiap pagi?!

Jadi….okelah, anggaplah ini investasi seumur hidup.

Dan kemarin saya udah ambil session keenam (terakhir) saya. Hasilnya gimana? Puasssss. Memang belum mulus-mulus banget karena menurut mereka, yang mulus itu biasanya sekitar 10x (tapi kan mahaaaaal buat nambah paketnya *kekepin dompet*). Tapi segini juga udah bikin saya hepi. Yang numbuh tuh tinggal rambut-rambut yang agak tebal. Selebihnya menghilang ditelan bumi. *Yeay*. Ah senangnya… semoga beneran permanen yaaaaaa minimal jangka panjang deh ah.

 

GIG: Otak manusia-manusia pintar yang udah nyiptain teknologi laser hair removal, otak manusia-manusia cerdas yang udah nyiptain situs-situs jualan voucher diskon….

First Anniversary

First anniversary apa? Sama Mas Ben jelas-jelas udah ngelewatin 4th anniversary. Punya pacar lain? Tentu tidak! *kalopun iya kan nggak bakal eke publish di sini* *langsung diinterogasi Mas Ben* :p

First anniversary of my love-hate-relationship with Delamibrands. *yihaaaa*

Suatu hari di akhir Juni 2009, seorang mahasiswi DKV akhirnya berhasil melewati sidang Tugas Akhirnya dengan lancar. Ia ingin segera hunting kerjaan, tapi satu dan lain hal membuatnya baru bisa kirim-kirim CV dan portfolio di bulan Agustus. Setelah hampir putus asa karena hampir dua bulan nyebar CV ke mana-mana, interview di sana sini, tapi nggak dapet-dapet panggilan…. Setelah sedikit demi sedikit menurunkan standar dan berkompromi dengan mimpi, akhirnya ia diterima di sebuah perusahaan. Sebuah perusahaan yang jauh dari impiannya, tapi setidaknya bisa memberikan ‘imbalan’ yang lumayan menjanjikan dan ketenangan bahwa ia bukan lagi pengangguran.

Awal Oktober, di hari pertama ia bekerja, ia sudah memutuskan untuk resign dalam waktu dekat.

Terlihat impulsif, tapi di hari pertama ia tahu ini bukan tempatnya. Masuk bulan ketiga, di awal Desember, ia menyatakan niatnya pada atasan, tapi ditolak. Ia diminta menunggu setidaknya dua bulan lagi, atau sampai ia bisa dapat pekerjaan pengganti. Dan ia setuju.

Pertengahan Januari, ia dipanggil ikut tes masuk sebuah perusahaan multinasional. Sebuah perusahaan, yang produknya ia pakai sehari-hari. Sebuah perusahaan raksasa baginya, di mana ia nggak pernah mimpi untuk masuk ke sana, di bidang yang sebenarnya bukan bidangnya: marketing. Ia dipanggil sebagai bagian dari beberapa ribu orang terpilih walaupun ia nggak pernah mencoba melamar. Perusahaan ini menjanjikan prospek yang amat besar. Jangan tanya gajinya atau jenjang kariernya, sudah pasti memuaskan. Maka si desainer pikir, apa salahnya dicoba? Iseng-iseng berhadiah.

Iseng-iseng membawanya mengikut tes pertama: semacam interview tertulis, dengan mengisi form yang sudah disediakan. Banyak temannya yang ternyata nggak lanjut ke tahap kedua: phone interview, tapi si desainer ternyata lulus. Lulus jenjang pertama mulai menumbuhkan bibit harapan. Sebelum masuk kantor, si desainer menyempatkan diri mengikuti phone interview. Ia pesimis, apalagi setelah kabar yang ditunggu tak kunjung tiba. Suatu sore di dalam bioskop, ponselnya berbunyi. Dan orang di seberang sana memanggilnya untuk ikut psikotes lanjutan. Ternyata ia lulus ke tahap tiga.

Dan di akhir Februari, si desainer optimis untuk resign dari tempatnya bekerja. Di titik ini ia sebenarnya sudah diterima di sebuah advertising agency yang cukup kondang, tapi ditolaknya karena masalah jarak *yang gak sepadan sama gaji hihi*

Tahap tiga dilaluinya dengan otak ngebul tapi cukup optimis. Dan ia ternyata dipanggil lagi ke psikotes tahap dua. Dan setelah ini adalah tahap terakhir: Assestment Center. Di mana para peserta yang udah diseleksi sedemikian rupa dikumpulkan seharian, ‘dipaksa’ debat-presentasi-debat-presentasi. Dan suatu hari ketika si desainer lagi ikut retreat di puncak, ia dikabari kalo ia lulus ke tahap akhir.

Harapan yang tadinya kecil, makin lama makin besar. Ia sudah gak punya pekerjaan tetap (freelance aja) dan ia sudah di tahap akhir. Tapi tahap akhir ini langsung bikin dia sadar kalo dia nggak akan lulus. Dan kalopun lulus, kayaknya dia juga nggak akan berani nerima pekerjaan ini. Otaknya ngebul, hatinya minder ngeliat para kandidat lain. Dan sesuai perikiraan, ia tidak lulus.

Pupus sudah. Antara kecewa tapi juga tahu kalau memang tak layak. Dua bulan terkatung-katung mencari kerja, akhirnya awal Mei mulai bekerja di sebuah advertising agency berusia muda.

Di sini ia bertekad bertahan minimal satu tahun karena ogah dapet predikat kutu loncat. Teman-teman di sana menyenangkan. Pekerjaan awalnya menyenangkan, tapi lama kelamaan mulai membuatnya enggan. Satu dua hal mengecewakan, tapi belum muncul ide resign di kepalanya.

Hingga suatu pagi, ia mendapat e-mail, undangan interview untuk posisi graphic designer di Delamibrands. Si desainer bingung, ngerasa nggak pernah ngelamar ke perusahaan ini. Jangankan ngelamar, denger namanya pun nggak pernah. Searching sedikit di Google, ternyata perusahaan ini membawahi brand-brand fashion yang udah dikenal (dan dipakainya) sejak abege. Hmmm.

Ia mulai tertarik.

Tapi ragu… karena komitmennya untuk bertahan satu tahun.

Singkat cerita, ia pergi tes, dan dengan proses yang cepat, ia diterima.

22 November 2010, ia menjadi salah satu graphic designer Delamibrands.

Dan disinilah si desainer – saya – setahun kemudian. Masih bertahan entah sampai kapan.

Dulu… saya suka mikir, apa orang kerja tuh kayak gini-gini aja ya… Sekedar memenuhi kewajiban. Datang pagi sekedar nggak terlambat. Kerja lembur sekedar memenuhi deadline. Masuk kerja tiap hari sekedar supaya bisa terima gaji.

Apalagi waktu rajin denger Rene si Career Coach, saya makin mempertanyakan apa passion saya.

Baru di Delami, saya bisa tahu rasanya kerja dengan passion. Saya nggak bilang tiap hari semangat kerja dengan sepenuh hati. Tapi saya jadi tahu gimana rasanya semangat ngajuin ide-ide baru, bukan cuma supaya dapet gaji, tapi karena saya peduli. Bukan berarti juga saya selalu hepi. Tapi saya jadi tahu gimana rasanya rela stress supaya bisa menghasilkan yang terbaik.

Saya nggak bilang ini passion saya. Somehow saya tahu bukan ini passion saya.

Tapi rasanya banyak hal-hal yang bikin saya passionate waktu kerja di perusahaan ini. Entah industrinya yang fashion retail, produk-produk fashion yang memanjakan mata, brand yang membuat saya bangga, atau ruang yang luas untuk memberi kontribusi. Rasanya gabungan semuanya.

Tapi salah satu yang punya andil besar ya boss saya.

Boss saya, macam tokoh antagonis di kantor. Tapi dia orang yang jelas dengan visinya. Dia juga pendidik yang luar biasa buat saya. Dia mementor saya yang buta soal retail, fashion, interior, dan nggak kehilangan kesabaran waktu saya nggak memberi kotribusi terbaik waktu dia memberikan kepercayaan. Pernah dengan pedenya dia bilang dia bisa bikin orang mencintai apa yang dia kerjakan. Dan dia melakukannya ke saya.

Kalau banyak yang nggak suka sama dia, saya nggak heran. Dia seringnya emang terlihat keras dan sulit disenangkan. Tapi dia juga boss yang repot mikirin kalo saya pulang malam, dan nungguin serta sibuk bolak-balik tanyain progress kerjaan saya waktu saya harus lembur ngerjain sesuatu yang bukan tanggung jawab dia.

Dia yang kadang bikin saya pengen resign aja. Tapi dia juga yang bikin saya merasa beruntung kerja di sini, sampe berani ngajak temen saya kerja di sini juga. Hihi.

Mmm sepertinya saya akan bertahan lumayan lama di sini ya?

 

 

Happy anniversary to me 🙂

 

 

 

BIL dan Papi-Mami

Andaikan blog ini seperangkat perhiasan imitasi, saya rasa warnanya udah mulai menguning ke arah menghitam.
Andaikan blog ini mahasiswa baru, saya rasa udah mau menghadapi UTS pertamanya.
Andaikan blog gudang tak terisi, saya rasa sarang laba-laba di dalamanya udah memenuhi setiap pojokan.

OK, cukup berandai-andainya, kesimpulannya, udah dua bulan saya nggak ngeblog di sini.

Di sini? Ya di sini… karena salah satu alasan saya nggak ngeblog di sini adalah karena saya punya BIL.

BIL

Saya pernah denger, kata orang tahun kedua dan keempat pacaran adalah masa-masa rawan. Either lo putus ato lo lanjut dan jadi pasangan yang solid. Dan buat saya (setidaknya buat saya sih, Mas Ben kayanya adem-adem aja), mitos ini kayanya beneran kejadian (walaupun saya baru tahu mitosnya setelah kejadian :p). Seinget saya di tahun kedua ada masa-masa ‘seru’, tapi berhasil kami lewati dengan sukses. Dan di tahun keempat, tepatnya sekitar akhir 2010 kemarin juga masa-masa seru buat kami. Hihi.

Tapi tiap kali lewat dengan selamat dari masa-masa seru itu, hubungan kami rasanya makin solid dan komitmen makin jelas *eh curhat*. Nah kayaknya inilah awalnya saya berpikir untuk mempunyai BIL – Blog Idaman Lain. Yah maapkan ke-tidaklucu-an saya karena menciptakan istilah BIL ini. Hihi.

Waktu itu, karena lagi hepi-hepinya dan lagi merasa penuh kemenangan karena berhasil melewati rintangan, saya jadi pengen mendokumentasikan hepi-hepi dan lucu-lucunya hubungan kami, dengan tujuan kalo nanti suatu saat ketemu ‘masa seru’ lagi, saya bisa melihat ke belakang dan inget lagi betapa bersyukurnya saya akan hubungan ini.

Karena itu, buat yang berminat, atau sedikit kepo, silahkan menikmati ‘kisah cinta’ kami *mendadak geli sendiri* dengan meng-klik screenshot di bawah ini. Enjoy!

Note: Sejujurnya, sekarang saya rada bingung yg mana yang mau ditulis di blog ini, yang mana yang mau ditulis di si BIL. Sekarang sih segmentasinya, si BIL hanya berisi kisah-kisah antara saya dan pacar. Sedangkan blog ini berisi kisah-kisah pribadi, menyangkut kehidupan saya sehari-hari bersama Pacar Pertama yang menciptakan saya. Tapi nanti…. kalo sang pacar udah bener-bener menjadi bagian dari kehidupan saya *tsah* gimana ngebaginya ya? Ah… ya lihat saja nanti biar waktu yang akan menjawab. wkwkwkwk

Papi-Mami

Apa hubungannya dengan Papi-Mami saya? Jawabannya: Nggak ada. Lagi pengen cerita aja. Haha

Baru-baru ini waktu lagi denger kotbah tentang Samuel di gereja, saya tiba-tiba inget sebuah momen waktu Mami saya ceritain ke saya kisah tentang Tuhan memanggil Samuel sampai tiga kali. Samar-samar saya masih inget gimana Mami ceritain kisah ini dengan seru, walaupun nggak akurat banget, soalnya waktu itu kayanya saya bayangin Samuelnya lagi tidur di kamar (mungkin Mami kerepotan jelasin tentang Ruang Mahakudus ke anak balita, jadi dia cuma bilang lagi tidur, dan saya langsung mikir tidur itu di ranjang, di kamar. Hehe). Lalu Mami mencontohkan ‘suara Tuhan’. Suaranya diberat-beratin, lalu manggil:: “Samuel… Samuel…”. Dan the rest kalian tahu lah ceritanya.

Saya jadi mikir, kisah ini salah satunya yang bikin saya jadi anak yang berani tidur sendirian di kamar dengan tenang (padahal awalnya saya rada penakut deh). Saya selalu mikir ada Tuhan yang jagain saya (dan emang bener kaya gitu kan). Samuel aja dipanggil sama suara yang nggak ada wujudnya, tahunya itu suara Tuhan. Hehe.

Dari memori itu, saya jadi inget satu demi satu momen-momen di mana Mami ngajarin saya tentang Tuhan dengan cara-cara uniknya.

Bapak Yesus Disalib

Saya masih balita dan Mami nemenin saya main, lalu dia keluarin kertas HVS dan bolpen, lalu gambar sebuah garis lengkung dengan kurva ke atas, sambil ngomng: “Ini bukit, namanya bukit Golgota.” Terus dia gambar orang-orangan (yang lingkaran, terus dikasih garis jadi badan, kaki, dan tangan) di kaki bukit itu, dengan salib di pundaknya. “Ini namanya Bapak Yesus. Bapak Yesus mau disalib di atas bukit. Dia harus mikul salibnya sendiri naik ke atas.”. Lalu dia gambar si ‘Bapak Yesus’ ini di tengah-tengah lereng bukit (ceritanya udah di tengah jalan gitu), dilanjutkan gambar beberapa orang-orangan di kaki bukit. “Orang-orang jahat teriak-teriak ke Bapak Yesus, bilang ‘Salibkan Dia! Salibkan Dia! Padahal sebenernya Bapak Yesus orang baik, tapi Dia harus disalib supaya Dina bisa masuk surga.”

Yah begitulah kira-kira. Saya pastinya nggak inget persis ya Mami ceritanya kayak gimana, wong udah 20 tahun yang lalu *mendadak berasa tua*. Rasanya saya waktu itu bener-bener masih terlalu kecil, sampe nggak keluar pertanyaan apa-apa akan cerita yang ‘aneh’ itu (seperti: apa itu disalib? Saya bahkan nggak ngeh kalo disalib=dibunuh). Saya cuma tertarik sama cara Mami cerita. Sampe di waktu-waktu berikutnya, nggak sekali-dua kali saya dateng ke Mami sambil bawa kertas putih dan bolpen terus ngomong “Mami, ceritain lagi yang orang disalib” (kok kedengerannya sadis ya sekarang? Haha).

Tapi caranya bercerita sukses menanamkan di otak saya (belom sampe hati) kalo ada sebuah sosok bernama Bapak Yesus (entah kenapa Mami selalu nambahin kata ‘Bapak’ kalo cerita Yesus ke anak kecil) yang harus disalib supaya saya bisa masuk surga.

Bayi Yesus Lahir!

Usia saya waktu itu sepertinya sekitar 5 tahun. Menjelang bulang Desember, Mami ngajak saya ke toko buku Immanuel. Kami ngeliat satu set pajangan tokoh-tokoh Natal (Yusuf, Maria, bayi Yesus, malaikat, gembala, orang majus, lengkap dengan palungannya) dari keramik dan langsung dibeli mami. Sampe di rumah, saya langsung nggak sabar ngebuka kotaknya, dan dibiarin aja sama Mami. Dia sama sekali nggak kuatir saya bakal pecahin pajangan-pajangan itu sebelum Natal lewat. Terus… dia malah menghampiri saya, dan mulai cerita deh pake pajangan-pajangan itu. Mulai dari Maria didatengin malaikat, lalu Maria datengin Yusuf, lalu Maria dan Yusus pergi ke Betlehem naik keledai, lalu cari-cari penginapan tapi semua penuh. Saya inget karena nggak ada tokoh pemilik penginapan di pajangan itu, si pajangan gembala biasanya jadi dapet ‘peran’ dobel. Hehe. Lalu Maria melahirkan di palungan, lalu gembala dateng, lalu orang Majus dateng ngikutin bintang, ketemu Herodes, lalu berhasil nemuin bayi Yesus.

Dan sama seperti cerita penyaliban, setelah Natal lewat dan pajangan ini tersimpan dalam box-nya, sekali-kali saya dateng ke Mami bawa-bawa box ini: “Mami, ceritain lagi cerita Natalnya”. Dan mami akan mulai cerita lagi pake pajangan-pajangan itu. Dan yang saya inget, next-nya, malah saya yang ceritain ke Mami pake pajangan-pajangan itu: “Mami, gini bukan ceritanya…?”.

Cerita Alkitab

Yang saya maksud dari cerita Alkitab adalah sungguh-sungguh menceritakan isi Alkitab. Hehe. Dari dua cerita di atas, bisa menyimpulkan dong kalo Mami saya memang punya talent bercerita? Nah ada masa-masa di mana, buku bacaan saya udah abis dibaca, dan belum ada majalah Bobo yang baru. Di masa kayak gini, Mami akan suruh saya buka kitab Lukas dan cari perikop buat dia ceritain. Kenapa Lukas? Karena menurut Mami, kitab itu yang paling banyak perumpamaan buat diceritain. Jadi saya bakal milih perikop yang menarik hati saya, yang belom pernah saya denger, lalu Mami akan ceritain ke saya sambil baca langsung Alkitabnya. Tentunya dengan bahasa anak-anak yah, ceritanya. Dan kalo itu perumpamaan, dia jelasin juga maknanya. Canggih kan Mami saya.

Nyanyi Sebelum Tidur

Selain cerita, ada kegiatan lain yang sering Mami lakukan sebagai pengantar tidur: ngajarin nyanyi. Hehe. Nah kalo ini kejadiannya waktu saya sekitar kelas 1 SD. Waktu itu, sekolah saya mewajibkan murid-murid SD punya sebuah buku nyanyian. Saya lupa namanya apa, tapi bentuknya kecil dan warnanya merah. Lulusan SD Penabur tahun 90-an pasti tahu buku ini.

Buku ini berisi lagu-lagu rohani anak-anak, lengkap dengan not angka dan teks-nya. Sebelum tidur, waktu nggak ada lagi bacaan untuk diceritakan, kita buka buku nyanyian ini, dan nyari lagu yang kita sama sekali nggak tahu. Lalu…? Lalu kita belajar nyanyi sambil baca not angkanya pelan-pelan. Ya, jadi saya udah belajar baca not di kelas 1 SD, diajarin Mami saya, di atas ranjang. Hehe. Canggih ya. Mungkin anak kecil emang lebih gampang nyerep ilmu ya, saya bisa aja tuh ngikutin Mami saya baca not.

Berkat ajaran ini, saya belajar banyak lagu rohani anak-anak. Saya juga jadi bisa belajar lagu baru dengan cepat, dan nolong banget waktu saya jatuh cinta dengan paduan suara di kemudian hari.

—o0o—

Inget-inget semua ini, bikin saya bersyukur banget, Mami udah memperkenalkan Yesus dengan cara-cara yang sangat fun, sehingga nggak ada beban sama sekali buat saya mempelajari hal-hal tentang Dia. Mami mau menginvestasikan waktu dan tenaganya, optimal, untuk hal yang satu ini. Dan suatu saat, kalo saya juga punya anak, saya mau banget meniru kretifitasnya. Saya mau anak saya juga nanti bisa belajar tentang Tuhan dengan hepi.

Sampai di point ini, saya nyaris merasa Mami saya superhero sementara Papi saya nothing, dalam hal memperkenalkan Yesus ke saya. Haha iya, ini ungkapan yang lebay sih, tapi yah gitu lah pokoknya… :p Tapi langsung berubah dong… begitu Mami cerita kalo Dulu Papi yang ngotot buat ‘maksa’ saya ke Sekolah Minggu walaupun saya ngerengek nggak mau pergi.

Jadi ceritanya, sekitar umur 3 tahun saya udah dibawa ke Sekolah Minggu. Karena masih kecil, kerjaannya ya banyakan gambar-gambar, lipet-lipet, gunting-tempel, mewarnai. Gitulah. Nah si guru SM ini entah kenapa selalu salah nyebut saya dengan nama GINA. Dan ini udah diralat loh beberapa kali, tapi dia tetep panggil saya Gina. Puncaknya, suatu hari saya gambar ayam dan si guru SM ‘mengkritik’ gambar ayam saya. Saya lupa deh, dia pokoknya bilang: “Ayam kok begitu? Harusnya begini kan.”. Sementara saya di rumah kalo gambar ayam ya kaya begitu dan nggak ada yang complain tuh, jadi saya agak kesal (sensi-nya segede badan. Hahaha). Lalu…. kan gambarnya dikumpulin buat ditulisin nama kita sama si guru SM (kita kan umur 3 tahun, nggak semuanya bisa nulis). Dan dia nulis nama saya GINA! (saya kayanya udah bisa baca deh, tapi belom lancar nulis).

Saya pun tambah sebel. Mutung. Minggu depannya, saya milih nonton Doraemon dan Candy-Candy sementara keluarga saya ke gereja semua. Dan bolos ke Sekolah Minggu berlangsung kira-kira sebulan. Sampai akhirnya Mami saya membujuk rayu pelan-pelan, nyariin temen buat saya, dan akhirnya saya mau ke Sekolah Minggu lagi walaupun bukan SM yang dulu (jadinya pindah SM gituuuh).

Dan ternyata aktor intelektual di balik pemaksaan saya kembali ke SM ini adalah Papi saya. Eksekutor emang Mami saya sih… tapi tetep aja otaknya ya Papi saya ituh…

GIG: Hadiah terindah adalah memiliki orangtua seperti mereka. Saya bangga dan bersyukur banget punya orangtua seperti mereka. Kalo Papi nggak dengan tegas mengharuskan saya ke Sekolah Minggu…. Kalo Mami nggak dengan lembut dan kreatif menceritakan kisah Alkitab… mungkin sekarang saya akan jadi orang yang berbeda. Dan suatu saat nanti, saya mau jadi orangtua yang seperti itu juga.

Menuju Kesempurnaan

Bukan… ini bukan topik ‘berat’ atau ‘serius’ yang ngebahas makna dan hakekat kehidupan menuju kesempurnaan. Ini adalah kisah soal perjalanan saya sejak mengenal make-up, mulai dari pengalaman pertama yang ‘menyakitkan’ hingga berangsur-angsur menjadi sedap menuju kesempurnaan *jiaaaah* *ditimpukkin pembaca lagi* *nge-les lagi*.

Dan yah, kisah ini ditulis untuk mengikuti Looxperiments’ 1st Blog Giveaway. Minat ikutan juga? Tapi deadlinenya malam ini jam 12 malem. Buruaaaaaaaan!!!!! Klik http://looxperiments.blogspot.com/2011/06/1st-looxperiments-blog-giveaway.html

Pengalaman Pertama Itu….

Pengalaman pertama saya bersentuhan dengan make-up sesungguhnya nggak terlalu menyakitkan. Secara make-up pertama saya adalah pressed powder keluaran Pigeon yang dibeliin Mama saya waktu saya TK!!!! Ya!!! TK!!!

Di saat mama-mama lain memakaikan bedak tabur putih yang bikin wajah temen-temen saya kayak geisha, mama saya tinggal nyuruh saya pakai pressed (compact) powder itu sebelum berangkat sekolah. Kurang funky apa coba mama saya? Jadi, Mama…. kalau anakmu sekarang jadi genit gini, jangan tanya salah siapa!!!!!

Tapi tentunya, nggak ada yang seru dong dari pengalaman pertama ini… wong cuma compact powder aja kok bangga.

Pengalaman Menyakitkan Itu…

Nah, pengalaman pertama saya bener-bener kenalan sama make-up, masih waktu saya masih TK, tepatnya waktu jadi flower-girl di wedding kakak sepupu saya, di mana rambut saya disasak ala telur burung unta dan saya bagai tak berdaya menahan air mata sambil bertanya-tanya dalam hati: “Apa salah saya hingga didandani macam tante-tante baru menang arisan begini?”

*Sebenernya kalo dipikir-pikir, jadi pengen nyalahin mama saya lagi sih, yang potong rambut saya superpendek ala Demi Moore di film Ghost. Kayaknya ini yang bikin si orang bridal bingung mau styling kaya apa rambut saya* *eh, peace, Mama!!! lop yu pul!*

Sayang peristiwa itu nggak ada fotonya… jadi saya pasrah aja kalo dibilang hoax *hela nafas*

Nah, tapi…. nggak lama setelah peristiwa banjir airmata itu, tepatnya di kelas 1 SD, saya menerima ‘belas kasihan’ dari guru tari SD -mungkin karena trenyuh ngeliat anak perempuan chubby nan manis yang rajin latihan nari walau gerakannya nggak bagus ini- sehingga dia milih saya untuk nari jadi domba di perayaan natal sebuah departemen pemerintah.Dan tentu saja, saya harus ketemu lagi sama yang namanya make-up.

Waktu pertama kali mengamati wajah saya yang udah di make-up di cermin, saya bener-bener ngerasa aneh sambil mikir: “Bukannya make up itu biasanya bikin cewek tambah cantik ya? Kok perasaan muka saya jadi tambah horor gini?”. Tapi karena mama dan guru-guru bilang saya cantik – dan saya baru kelas 1 SD jadi gampang diboongin – saya percaya aja.

satu kata: HOROR!

Tapi beberapa tahun kemudian, waktu saya ngeliat foto ini, sambil mereka-ulang kejadian waktu itu…. saya yakin, mereka bilang saya cantik cuma supaya saya nggak complain, soalnya waktu pentasnya udah mepet. Speechless. Btw, ini foto beneran saya umpetin loh. Nggak pernah ada satupun orang yang pernah ngeliat ini (selain Mama saya) sampai….saat ini tentunya. *masih mikir, nyesel nggak ya upload foto ini?*

Dan Semuanya Mulai Terasa Manis…

Dari pengalaman menyakitkan itu, untungnya saya nggak trauma sama make-up. Malahan, saya mulai belajar make-up dasar macam eye shadow dan lipstik. Siapa coba yang ngajarin kalo bukan mama saya? Mikir apa ya dia, ngajarin anak SD dandan?

Hingga suatu ketika, “To Liong To”, alias “Golok Pembunuh Naga” merajai layar kaca. Dan saya sebagai anak gadis biasa yang kekurangan tontonan, juga ngefans sama serial silat ini, terutama sama salah satu tokoh cewenya (yang sekarang saya udah lupa sama sekali). Lalu, dengan restu Mama, suatu malam, saya dandan mirip dia. Inilah pengalaman pertama saya pakai make-up sendiri (tentunya dengan dibantu si Mama dong ya…), dan menghabiskan satu rol film (ya, waktu itu kan belom ada kamera digital) buat foto-foto bergaya genit.

Mirip kan??? *pedejaya* foto si pemain silat dipinjam dari http://www.lautanindonesia.com

Semakin dipikir, saya jadi semakin heran kenapa si Mama dulu begitu menfasilitasi ke-genit-an saya. Tapi dengan support-nya lah, perjalanan saya menuju kesempurnaan dalam ber-make-up dimulai. Sedikit demi sedikit saya mengumpulkan koleksi alat make-up saya. Dan perlahan tapi pasti, jalan menuju kesempurnaan semakin nyata *sungguh lebay*. Eh tapi….

Sayapun Hanya Manusia…

yang bisa salah dan nggak sempurna. Terjadi ketika saya memutuskan dandan sendiri waktu prom night SMA. Dibantu Mama (lagi) buat curling rambut saya, saya puas dengan hasilnya, dan sukses bikin saya merasa cantik semalaman. Waktupun berlalu, foto prom night dibagikan bersamaan dengan pengumuman kelulusan kami. Dan ketika ngeliat tuh foto, saya ngerasa saya jelek dan aneh banget. Mendadak ngerasa maluuuu banget kok muka saya kayak gitu.

Ayo apa yang salah?

Setelah dipandang, diamati, dan diteliti…. saya sadar…. saya nggak pake pensil alis! *tutup muka*. Karena alis saya super tebel, saya emang jarang pake pensil alis. Tapi kan hari itu saya make up berat, pake foundation, alhasil alis yang tebel itupun jadi bule karena ketutupan foundation dan bedak. *dodol*

Yah, nggak ancur-ancur banget sih sebenernya, tapi jadi malu aja karena udah semaleman berasa perfect, ternyata ada yang ngaco, dan sama sekali nggak nyadar sampe terima fotonya. *eh tapi saya tetep cuantiiik doooong tanpa alis?* *eh?*

Menuju Kesempurnaan…

Dari berbagai kesalahan nan menyakitkan dan memalukan, perlahan tapi pasti, saya terus belajar, sampai tau-tau, saya malah dikenal -lumayan- jago make-up, dan sering diminta ajarin atau bantuin make-up-in orang. Jasa saya paling laku kalo lagi ada tugas pemotretan pas kuliah di jurusan DKV. Nggak make up cantik aja, tapi juga make-up tematik. Hihiy *bangga*. Menyenangkan kok bereksperimen dengan make-up, masih ada hubungannya sama graphic design.

Kalo soal menuju kesempurnaan… Sempurna yang nggak akan lah ya… mana ada yang sempurna sih di art. Tapi eh tapi… boleh dong berbangga diri kalo saya makin jago….

Tema: "Selepas Tawuran" hahahahaha. Dua-duanya hasil make-up saya loh. Saya yang kanan yaaaa.... (ya iya laaaaaah)

*sluurrrp*

Note: eh yang di atas itu cuma karya seni loh ya…. saya nggak beneran psycho kayak gitu kok. Saya kan gadis manis yang senang menolong, tenggang rasa, rendah hati, dan suka menabung yaaaaaa

Untuk memenuhi persyaratan 🙂

Dua Juli (part 1-Terjadinya)

Yeah, I know sekarang mah udah tanggal 3 Juli, bukan 2 Juli. emang sebenernya mau nge-post pas tanggal dua, tapi apa daya…lupa. Hehe

Hampir sebulan yang lalu, saya baru denger kalo papanya temen kantor saya kena stroke ringan. Mendadak saya ingat kejadian dua tahun lalu, 2 Juli 2009. Sebuah tanggal yang sepertinya nggak akan saya lupa seumur hidup saya. Ya, hari itu, Papi saya kena stroke. Dan selama dua tahun, saya nggak pernah membuka kisah ini selain kepada orang-orang terdekat. Bagaimanapun, pengalaman ini adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh perjuangan dan air mata, tapi juga tentu selalu ada berkat Tuhan yang bisa saya lihat di dalamnya.

Di masa-masa itu, pengalaman teman-teman yang udah pernah menghadapi keluarga penderita stroke, sering memberikan pencerahan buat saya. Saya sering dapat informasi dan penghiburan dari mereka. Lebih dari itu, saya jadi nggak ngerasa sendirian menghadapinya, karena saya tahu ternyata udah ada orang-orang lain yang pernah di posisi saya, bahkan mungkin lebih sulit. Karena itulah, setelah dua tahun, saya berniat membagikan pengalaman saya, dengan harapan ada pembaca yang sedang menghadapi penderita stroke bisa mendapat tambahan informasi dan penghiburan dari tulisan ini.

Karena kisahnya bakalan panjaaaaang….. dan lamaaaaa…. saya bagi jadi beberapa posting, yang akan saya lanjutkan sedikit demi sedikit, disesuaikan dengan waktu luang saya. Hehe. Happy reading.

 

Terjadinya…

24 Juni 2009, saya sidang akhir S1. Saya dan temen-temen di gereja yang sebagian besar juga baru lulus  kuliah, lagi pada ngidam main ke Dufan, dan 2 Juli 2009 jadi tanggal pilihan kami. Hari itu, saya dan Dea (sahabat sekaligus housemate masa kuliah) masih di rumah kontrakan di Karawaci, sepertinya ada administrasi kampus yang masih harus kita urus. Rencananya, siangnya kita berdua bakal langsung meluncur ke Dufan dari sana dan menemui teman-teman kami yang lain.

Baru sampe Kemayoran, HP saya bunyi, sambil nyetir, saya angkat panggilan itu dan di seberang sana, koko saya ngomong: “Kamu di mana? Papi stroke. Kita ada di RS Mitra (Klp Gading)”. FYI, seminggu sebelumnya, Papi saya baru aja keluar dari RS yang sama karena sesak nafas akibat ada cairan di paru-parunya. Dan terakhir saya ketemu, dia keliatan sehat-sehat aja.

Setelah menutup telepon, saya masih sangat tenang, masih bisa mikir jernih dan tersenyum. Dalam hati, saya yakin semuanya baik-baik saja dan Papi cuma stroke ringan. Saya sering denger orang yang kena stroke ringan dan mereka pulih dengan cepat, nyaris tanpa bekas.

Saya bilang ke Dea tentang informasi itu. Saya bilang juga, saya bakal drop dia di Dufan, dan minta tolong dia ‘bohong’ ke teman-teman lain, kalo saya harus balik ke kampus karena ada urusan yang ternyata belum selesai. Waktu itu saya cuma mikir, nggak mau ganggu mood mereka bersenang-senang, sekaligus saya nggak mau menghadapi sikap dan pertanyaan-pertanyaan bernada kuatir dari mereka. Dan setelah anter Dea ke Dufan, saya meluncur ke RS Mitra.

Sampai di sana, bayangan saya bahwa semua akan baik-baik saja dalam waktu singkat, mulai sirna. Waktu itu Papi saya masih tergeletak di UGD, dengan macam-macam alat dan selang terhubung ke tubuhnya. Mami, Koko, dan dua tante saya yang dokter, terlihat cukup tenang. Cuma Cici yang *seperti biasa* sesenggukan. Hehe. Masih ada sedikit harapan di kepala saya, kalo ini hanya stroke ringan, dan Papi akan cepet pulih. Tapi semua harapan beneran sirna, waktu Papi saya didorong masuk ke ICU.

Dan Koko menceritakan kejadiannya. Jadi, pagi itu, Papi lagi mandi, dan Koko ada keperluan yang harus diomongin sama Papi, jadi ditungguinlah sampe Papi kelar. Nah, Papi emang biasa lamaaaaa banget mandinya. Tapi hari itu sepertinya kok lebih lama, dan karena Koko perlu ngomong dan urgent, diketoklah kamar mandinya. Lah, kok nggak ada sahutan sama sekali. Diketok lagi, tetep nggak ada sahutan. Untungnya, Papi nggak pernah kunci pintu kalo lagi mandi. Pintu kamar mandinya cuma ditutup aja, tanpa dikunci. Jadi, Koko bisa langsung masuk, dan di situ ditemuin Papi udah tergeletak di bak mandi dengan shower masih nyala. Untung juga showernya masih nyala (air hangat) jadi Papi nggak kedinginan.

Si Koko cerita, waktu dia mau angkat Papi, Papi masih sempet marah-marah dan bilang bisa bangun sendiri. Hehe emang ‘galak’ sih Papi eke dan ego nya sangat besar. :p Tapi yang tentu dia nggak bisa bangun sendiri pada kenyataannya. Untungnya hari itu rumah lagi cukup ‘ramai’ karena ada sopirnya Koko, tukang kebun, dan pembantu cowo di rumah. Jadi dengan bantuan mereka, Papi diangkat ke ranjang (Papiku waktu itu gemuk sekali, boooo) lalu ke ambulance, dan lalu ke Rumah Sakit.

yah demikianlah singkat terjadinya. Besok-besok lanjut lagi ya… 😀

 

 

GIG: sepanjang ‘kisah sedih’ ini, udah berapa kali saya nulis ‘untung’ dan ‘untungnya’? Sebenernya itu bukan sekadar untung-untungan karena saya percaya ada pekerjaan Tuhan di dalamnya. Yah, bersyukur Koko lagi ada perlu ngomong sama Papi, jadi ada yang notice kalo Papi nggak kelar-kelar mandinya. Bersyukur Papi punya kebiasaan nggak kunci pintu kamar mandi, jadi nggak butuh waktu lama lagi buat bongkar-bongkar atau dobrak pintu. Bersyukur, shower-nya masih nyala air hangat, jadi Papi nggak terbaring kedinginan di bak mandi. Bersyukur, waktu itu lagi banyak pekerja pria di rumah, kalo nggak bingung juga siapa yang kuat bantu Koko buat angkat Papi ke ranjang. Dan bersyukur juga terjadinya tepat setelah saya kelar sidang, jadi saya bisa segera meluncur ke rumah sakit tanpa beban. Baik ya Tuhan itu?

Do Try This (but not) At Home

Jadi, tanggal 17 kemarin, yang merah di kalender itu, saya dan pacar nggak jadi ke Melrimba karena satu dan lain hal. Tapi karena pagi itu cuaca cerah banget, ditambah saya kalo nganggur di hari libur bawaannya bisa bad mood seharian, saya memutuskan untuk pergi sendirian, me time. Saya pengen ke suatu tempat yang nyaman buat duduk lama sampai sore buat baca buku. Kandidat saya tadinya ke tamannya Cetral Park, tapi bayanginnya kok gerah, panas, dan pasti rame ya? Kepikiran juga ke Serpong atau Karawaci, tapi kok ya nggak menantang ya…itu kan daerah ‘kekuasaan’ saya pas jaman kuliah. Sempet juga muncul ide main ke Outbondholic, Ancol, tapi dengkul saya lagi bonyok gara-gara jatoh pas di parkiran Taman Ismail Marzuki hari Minggu kemaren, mana mungkin kuat outbound?

Lalu saya terpikir…. Kebun Raya Bogor!

Adem, banyak pohon, ideal buat duduk-duduk lama dan baca buku, nggak mahal, ada cafenya juga, dan pastinya banyak tantangan secara saya belum pernah ke luar kota (kecuali Karawaci-Serpong) SENDIRIAN.

Saya sepertinya emang butuh dikasih ‘tantangan’ secara berkala buat boosting mood. Saya kan nyetir sendirian… not really sure rute nya bener atau nggak. Dan kegiatan nyetir itu aja udah berhasil bikin saya lebih hepi. Saya merasa menemukan kepercayaan diri yang selama ini agak ngumpet di bawah sana karena mungkin terlalu sering menggantungkan diri di balik perlindungan si pacar selama 4 tahun. Agak sulit jelasin perasaan saya kemaren itu, tapi kalian pasti ngerti dan pernah ngalamin kan? Ketika ada kombinasi antara ketegangan dan excitement, jantung mulai berdegup lebih kencang, adrenalin mengalir, trus jadi lebih hepi deh. Hahahahahahahahaha

Saya berangkat dari rumah pk 11.00 dan sampai Bogor hampir pk 12.30. Saya nggak ngerti Kebun Raya masuknya lewat mana, jadi bermodalkan ‘tanya orang’ akhirnya saya nyampe dan parkir di tepi jalan, seberang pintu 2 Kebun Raya. Untung parkiran nggak terlalu rame, soalnya saya kan nggak bisa parkir paralel. Hehe. Dengan Rp 8000,- saya bisa parkir seharian di situ.

Harga tiket masuk Kebun Raya Bogor Rp 9.500,- saja. Agak maksa nggak sih angkanya? Kenapa nggak Rp 10.000,- aja? Yah begitulah saya masuk, dan bengong beberapa menit di depan peta. Maklum, saya terakhir ke sana sepertinya waktu SMP waktu karyawisata sekolah. Dan saya memutuskan, tujuan saya adalah: Museum Zoologi, De Daunan Cafe, dan Ocrhid House. Saya udah melihat posisi ketiga tempat tujuan itu di peta, dan menentukan rute paling efektif untuk melewati ketiganya.

Yah jauh dari perkiraan saya… ternyata Kebun Raya itu buessaaaaar sekaliiiii dan jarak antara ketiga tempat itu juga jauuuuh sekali. Dan saya parkir di pintu 2, yang berarti tepat berseberangan dengan De Daunan Cafe, yang tadinya saya rencanakan jadi tempat singgah terakhir untuk lunch dan bersantai ria sebelum pulang. Alhasil saya jalan kaki sampe Museum Zoologi aja udah makan waktu lama.

Saya seneng di sana, bisa liat jenis-jenis hewan yang hampir nggak mungkin saya temui sehari-hari, walaupun dalam bentuk model dan binatang yang diawetkan. Amazed banget loh ngeliat betapa rumit, unik, sekaligus indahnya Tuhan ciptain macem-macem binatang. Dari serangga yang kecil-kecil, yang satu jenis aja bisa ada muacem-muacem bentuk, sampe yang gede-gede kaya badak dan gajah. Bentuk-bentuknya bener-bener variatif. Ada yang indah banget kayak kupu-kupu malam (saya baru tahu loh ada serangga yang namanya emang kupu-kupu malam) sampe yang ngeliatnya bikin geli sendiri, kayak ular dan kelabang. Hiiiy. Dan banyak banget yang unik…. ada burung yang bersayap tapi nggak bisa terbang, tapi ada juga tupai yang bersayap dan bisa melayang walaupun nggak terbang beneran. Ada hewan yang dikasih bulu lebat banget padahal aslinya badannya kecil, ada yang ‘cuma’ dikasih kulit yang agak bersisik. Ada hewan yang melindungi diri dengan bisa, ada yang dengan menggembungkan badan, ada juga yang dengan jarum.

Sebenernya, kita semua ‘kenal’ kan hewan-hewan ini? Tapi seberapa sering kita amazed sama penciptaan mereka? Kalo saya sih nggak terlalu sering secara saya nggak terlalu suka hewan. Nah, kesempatan ke tempat kaya gini, buka mata saya lagi tentang keberagaman dan keunikan mereka, karena semuanya seolah dijejer di depan mata saya.

O ya, satu pemandangan ‘manis’ lagi adalah seorang ibu muda yang dateng sama anak perempuannya (sekitar 7-8 tahun) dan si ibu aktif ngejelasin anaknya tentang hewan-hewan di situ. Awwwwww. Seneng ngeliatnya… Nanti kalo udah punya anak, bakal saya kenalin sama museum dari kecil ah. Moga-moga dia juga suka sama museum kayak mamanya. Hehe

Keluar dari Museum Zoologi udah jam 13.30-an, perut mulai complain, dan saya pun menuju ke De Daunan yang ternyata jauuuuuuuh boooook. Ditambah dengkul bonyok yang bikin jalan saya jadi lebih lambat gara-gara nahan rasa ‘pedes’nya, baru nyampe di De Daunan menjelang jam 2 siang. Dan woooow ternyata bagus banget ya tempatnya!!!! Maap ya kalo agak norak, maklum… walau udah beberapa kali ke Kebun Raya, saya nggak pernah makan di sana. Biasanya kalo ke sana ya piknik, duduk di tiker, bawa bekal dari rumah :p.

Saya duduk menghadap ke tamannya yang luas. senang rasanya melihat warna hijau daun di mana-mana, plus pemandangan sekelompok anak muda yang (sepertinya) sedang KTB, pasangan yang sedang menanggal, dan anak-anak kecil yang berlari-larian. Sungguh pemandangan makan siang yang indah. Saya order De Daunan Mix Grill dan De Daunan Fruit Punch. Minumannya top markotop! Enaaaak! Makanannya…. mmm bumbunya sih enak tapi dagingnya agak alot-alot. Yah OK-lah…. Trus karena mikir pulangnya bakal macet, saya pesen poffertjes buat take away. Total menghabiskan Rp 78.000,- Lumayan…

Jam 3 sore, saya akhirnya memutuskan nggak ke Orchid House, mengingat perjalanan saya ke tempat parkir bakal jauh dan makan waktu lumayan lama. Jalan santai menuju ke Pintu 2, sambil memandangi pepohonan di sekitar saya, rasanya damai sekali. Lalu saya menyadari Kebun Raya udah mulai sepi dan ini bikin saya rada kuatir. Maklum ya… ngebayangin ‘ilang’ atau diculik di Kebun Raya, bisa-bisa nggak ketemu lagi batang idung saya. Haha. Tapi keren banget loh di sana…. Ada pohon-pohon yang kayanya umurnya udah tuir banget, sampe batangnya superbesar menyerupai bebatuan. Jadi tambah ngerasa Tuhan keren deh…

Dan selesailah petualangan saya hari itu. Untungnya perjalanan pulang juga nggak terlalu macet. Satu setengah jam saja, jam 17.30 saya udah sampe rumah. Sampai rumah… saya hepi… tapi dimarahin Mama gara-gara nekad ke Bogor sendirian!!!! Haha ya udah lah ya, biar umur kepala dua gini, tetep aja di mata dia kan saya anak perempuan bontotnya yang nggak gede-gede.

PS: Jadi apa dong yang harus ‘dicoba’ seperti saya sebutkan di judul? Ya cobalah berpetualang, melihat-lihat hal yang di luar kebiasan, lebih bagus lagi kalo bisa ngeliat ciptaan Tuhan seperti pengalaman saya ini. Makanya, jangan dicoba di rumah ya… soalnya kalo di rumah ya sama aja dooong liatnya itu-itu lagi. Saya percaya, petualangan, keluar dari rutinitas, baik untuk kesehatan fisik dan mental. Dan menikmati ciptaan Tuhan, baik untuk spiritualitas kita. Selamat mencoba!

GIG: kekaguman sama Tuhan karena melihat ciptaan-Nya yang begitu artistik dan beragam, dan tentunya mood yang super hepi di akhir hari 😀

(foto-foto akan saya upload nanti malam kalo udah sampe rumah ya… *sekarang kan colongan blogging di kantor*)