Barnabas, Si Pemberi Semangat

*Aduh kasian banget blog ini ditelantarkan sedemikian waktu. Maaf ya, berbagai kesibukan dan hal-hal pribadi menghalangi saya nulis nih -banyak alasan ya- padahal udah lama mau tulis macem-macem.*

"Barnabas Befriends Saul" - gambar dipinjam dari http://www.goodsalt.com/details/stdas0677.html

Barnabas dan Saulus

OK, Setelah Andreas, mari kita bahas tokoh berikutnya, Barnabas. Hayoooo kenal nggak dia siapa? Dia ini salah satu rekan sepelayanan Paulus (yang dulunya adalah Saulus). Intermezzo sedikit…. saya ingat waktu pertama kali denger cerita tentang Saulus yang bertobat. Masih ingat kan, Tuhan ‘nyuruh’ seseorang bernama Ananias untuk ‘bimbing’ Saulus yang baru bertobat? Waktu kecil itu, dalam pikiran saya: “Haiyah, kasian banget sih si Ananias…. ada orang jahaaaaaaaat banget, baru bertobat, buta, bingung, tapi dia ‘terpaksa’ harus melayani ini orang karena disuruh Tuhan.” Yaaah maafkan pemikiran sangat-tak-penuh-kasih saya ini. Tapi itu pemikiran jujur dan polos saya waktu itu.

Nah, makanya pas saya baca tentang Barnabas di buku Sorotan Iman ini, saya jadi kagum banget sama dia, karena bisa dibilang dia adalah orang pertama yang kasih kepercayaan pada Saulus yang baru bertobat untuk bergabung dalam pelayanan rasul-rasul (Kis 9:27-28). Padahal waktu itu Saulus ditakuti karena masa lalunya yang suka menyiksa dan membunuh orang-orang percaya. Bayangin aja, dia sampe bersedia repot-repot ngurus surat ijin supaya dia bisa dengan leluasa memberantas pengikut-pengikut Kristus yang dia anggap sesat (Kis 7:54-8:3). Jelas aja waktu dia bertobat, jemaat di Yerusalem pada skeptis, jangan-jangan ni orang cuma pura-pura dan mau menghancurkan mereka dari dalam (Kis 9:26).

*yah sebagai intermezzo, coba bayangkan…. andai ada sebuah kelompok yang suka bakar-bakarin gereja, nyebar teror bom tiap ada hari raya Kristen, suka provokasi dan berusaha memberantas kekristenan. Lalu suatu saat si pemimpin kelompok itu mengaku udah bertobat dan terima Tuhan Yesus, dan mau gabung di pelayanan gereja kita, sebagai penginjil. Kira-kira gimana perasaan dan pikiran kita? Bisa langsung percaya gak?*

Tapi Barnabas beda sama orang-orang kebanyakan. Dia lebih memilih berbelas kasih daripada menghakimi dan lebih memilih menaruh kepercayaan pada orang lain sekalipun dengan risiko bisa kehilangan kepercayaan itu. Kalo dipikir-pikir secara manusia, mungkin ini kelihatan sebagai tindakan bodoh, impulsif, dan kurang pikir panjang, ya? Tapi kalo dipikir-pikir lagi, sudah pasti ada pekerjaan Roh Kudus yang memberi hikmat pada Barnabas untuk menjadi pendukung bagi si petobat baru ini. Kalo di Kis 11:24, malah dengan jelas dikatakan bahwa Barnabas adalah orang yang baik, penuh Roh Kudus, dan iman. Dan saya yakin, inilah yang melatarbelakangi tindakannya tersebut.

Dan, ternyata keputusannya itu nggak salah, toh? Berkat dukungannya, Paulus (Saulus) diterima dan diakui oleh para rasul. Melalui pelayanannya, Paulus menjadi salah satu perintis gereja terbesar dan merintis dasar pelayanan penjangkauan yang kemudian diikuti gereja-gereja hingga 2000 tahun ke depan. Paulus juga menjadi penulis dari sebagian besar kitab di Perjanjian Baru.

Karena apa? Karena sebuah kepekaan dan satu kesempatan yang dipercayakan oleh Barnabas (dengan siap menanggung segala risikonya).

Dan yang nggak kalah penting, karena teladan ini, Paulus di kemudian hari juga belajar menaruh kepercayaan terhadap orang lain (Timotius, Titus, Onesimus, Epafroditus, Febe, Priskila, Lidia, dan… ada lagi yang mau menambahkan?)

Barnabas dan Yohanes Markus

(Kis 15:36-40)

Nah nah… intermezzo lagi… Soal Yohanes Markus ini, dulu waktu pertama kali baca, saya juga punya pendapat tertentu. Saya suka bingung kenapa kok pelayan-pelayan Tuhan yang luar biasa ini sampai segitunya, berselisih, trus pisah pelayanan. Kok kayanya aneh ya… Trus, karena dari kecil, nama Paulus itu kayak tokoh utamanya gitu, saya jadi selalu mikir Barnabas yang salah. Udah tahu si Yohanes Markus salah, kok malah dibelain. Gimana sih. Gitu deh….

Di buku ini, dijelasin latar belakangnya. Jadi singkatnya gini: waktu Paulus, Barnabas, dan Yohanes Markus (dan entah siapa lagi, gak disebutin) untuk pertama kalinya pelayanan di Asia Kecil, ‘mendadak’ si Yohanes Markus ninggalin pelayanana itu (entah karena apa) sampai mereka kekurangan orang. Lalu, di kemudian hari, Paulus mau balik lagi ke Asia Kecil buat meninjau, dan dia nggak mau ajak Yohanes Markus karena kelalaian di waktu sebelumnya itu. Barnabas ‘ngotot’ mau kasih Yohanes Markus kesempatan kedua. Akhirnya, seperti tercatat di Alkitab, Barnabas dan Paulus pisah pelayanan. Barnabas ajak Yohanes Markus ke Siprus. Paulus ajak Silas ke Eropa untuk ke Makedonia.

Dari sini, kelihatan sebenernya nggak ada yang salah dan nggak ada yang benar. Cuma ada perbedaan karakter dan fungsi (dan karunia, mungkin?) yang saya yakin sih udah Tuhan tempatkan sesuai ‘tujuan hidup’ mereka masing-masing di dunia. Paulus adalah seorang dengan karakter penginjil, otak seorang teolog, dan sikap seperti nabi di Perjanjian Lama. Jadi dia keliatan lebih saklek, yang mana dalam banyak hal memang diperlukan pemimpin macam ini kan? (btw, saya ngefans loh sama Paulus, sampe sekarang). Sedangkan Barnabas punya hati sebagai seorang gembala yang penuh kesabaran dan kepedulian pada tiap pribadi.

Barnabas dan Saya

Nah gimana dengan saya? *loh kok jadi saya?* hehe.

Ya, kisah perenungan tentang kisah hidup Barnabas ini banyak menohok saya. Kenapa? Karena sebagai seorang melankolik-kolerik, saya punya kecenderungan untuk menghakimi orang lain, yang mana saya tahu salah, tapi sering secara otomatis suka susah dikendalikan.

Dan satu lagi, saya masih terlibat dalam melayani remaja. Ya, saya punya beberapa anak-anak bimbingan. Dan ketika melihat satu angkatan baru masuk untuk pertama kalinya, saya yang suka analitis ini, sering langsung mengkotak-kotakkan mereka secara nggak sadar: “ini kelompok gaul”, “ini kelompok inferior”, “ini kelompok agak bermasalah”, “ini kelompok butuh perhatian khusus”, “ini kelompok rajin dan anak alim”, dst dst.

Dan dalam perjalanan saya mengamati dan membimbing mereka, sebagian besar dari mereka justru bertumbuh luar biasa di luar ‘kotak’ yang saya lihat pada awalnya. Si kelompok ‘geng cantik dan gaul’ ternyata tumbuh menjadi seorang aktivis yang teramat ramah dan mampun merangkul segala lapisan adik-adik remajanya. Si remaja pendiam dan pemalu ternyata punya kemampuan memimpin dan kepedulian yang nggak terduga. Si anak gaul dan cuek ternyata sangat bertanggung jawab, kreatif, dan rela bayar harga dengan waktu dan tenaganya untuk mewujudkan suatu proyek pelayanan.

Yang saya lihat sendiri, seorang anak bimbingan saya, yang awalnya dikenal sebagai anak yang hobi ngomong kasar berubah menjadi seorang pelayan yang giat dan mau belajar, berkat doa serta beberapa kepercayaan yang diberikan oleh pengurus kepadanya.

GIG- Sebuah perenungan, bahwa Paulus, tokoh favorit saya, ‘lahir’ dari sebuah kepercayaan yang penuh risiko dari seorang Barnabas. Demikian, saya juga nggak boleh sembarangan under estimate sama seseorang, karena mungkin Tuhan akan memakai dia menjadi ‘paulus’ masa depan.

Advertisements

Andreas, Saudara yang Kurang Dikenal

Note: posting ini disadur dari bab pertama buku Sorotan Iman

The Calling of Saints Peter and Andrew by Bernardo Strozzi - http://www.corbisimages.com

Siapa yang nggak kenal Simon Petrus? Saya yakin, buanyaaaaaak yang tahu kalo Petrus itu murid Yesus. Tapi siapa yang kenal Andreas? Yah sebagian besar mungkin tahu kalau dia juga murid Yesus. Tapi sebagian lagi mungkin ragu: bener gak ya dia murid Yesus? Dia tokoh Alkitab sih, tapi murid Yesus bukan, ya?

Andreas memang salah satu dari keduabelas murid Yesus, bahkan mungkin dia termasuk yang pertama dipanggil. Tapi dia nggak termasuk “lingkaran murid-murid terdekat” Yesus (Simon Petrus, Yohanes, Yakobus). Yohanes dan Yakobus yang bersaudara termasuk dalam “lingkaran” tersebut. Sedangkan Andreas yang saduara Simon (Petrus) nggak. Padahal, sesungguhnya Andreas loh yang “membawa” Simon kepada Yesus. Agak ironi ya?

Dengan semua latar belakang itu, kenapa ya tokoh Andreas jadi terasa sedikit perannya? Apa salah dia ya? hehe. Sebelum buru-buru menyimpulkan, mari kita kenal tokoh yang satu ini lebih jauh.

Siapa Dia?

Andreas tadinya adalah salah satu murid Yohanes Pembaptis yang berasal dari Kapernaum. Karena dia murid Yohanes Pembaptis, kemungkinan besar dia menyaksikan sendiri pertemuan gurunya dengan sang Mesias (Yesus). Bahkan Yohanes Pembaptis menyatakan sendiri kepada Andreas (dan temannya) bahwa Yesus adalah Mesias (Yohanes 1:35-40). Sejak itu, Andreas berinisiatif mengikut Yesus dan menjadi salah satu dari dua murid pertama Yesus.

Andreas Mengajak Petrus

Apa yang pertama kali dilakukan Andreas begitu tahu Yesus adalah Mesias dan mengikut-Nya? Dia pergi ke tempat saudaranya, Simon, dan membawanya kepada Yesus (Yohanes 1:41-42). Tindakan ini menunjukkan karakteristik Andreas yang peduli terhadap keselamatan tiap pribadi. Dan dengan menceritakan imannya kepada seorang Simon, Andreas sebenarnya punya tiga ‘kesulitan’.

Pertama, Simon adalah saudaranya. Buat kalian yang punya saudara seperti saya, pasti tahu kalo cerita tentang iman dan share pengalaman rohani paling susah ke anggota keluarga dan orang deket. Ya nggak? Mungkin nih… soalnya mereka kan yang paling kenal baik buruknya kita. Mereka berpotensi ‘melecehkan’ pengalaman rohani kita karena nggak sebanding dengan keburukan kita. Kedua, Simon adalah orang yang ‘sulit’. Tahu sendiri kan perangainya Simon yang suka heboh, impulsif, dan agak ngotot? Ketiga, Simon adalah orang yang ‘membayang-bayangi’ hidup Andreas.

Tapi di tengah kesulitan tersebut, toh Andreas tetap membawa Simon kepada Yesus. Dan apa hasilnya? Seorang rasul besar lahir! So, teman-teman, ingatlah bahwa kita nggak tahu akan jadi apa setiap jiwa yang kita bawa. Tapi setiap jiwa yang diubahkan Kristus mungkin memiliki potensi besar seperti Simon.

Andreas, 5 Roti, dan 2 Ikan

Pasti tahu dong peristiwa Yesus memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan? Coba baca lagi dengan teliti Yohanes 6:8-9. Siapa yang membawa anak kecil dengan bekal 5 roti dan 2 ikan tersebut kepada Yesus? Ya, betul! Andreas! Coba dibayangin deh adegannya. Ada 5000 orang lebih yang mulai kelaparan. Murid-murid mulai panik, nggak tahu harus gimana kasih makan segini banyak orang. Lalu tiba-tiba dari kerumunan, si Andreas nuntun seorang anak kecil sambil ngomong: “Guru, nih ada anak kecil yang bawa 5 roti dan 2 ikan”.

Kalau saya ada di situ dan dengar omongan dia, mungkin komentar saya: “Terus…???”

Ya… terus kalau ada anak kecil bawa bekal 5 roti dan 2 ikan, kamu mau apa? Mau dibagiin maksudnya? Menurut kamu bakal cukup?? Mikir yang benar dong! hehe

Nah makanya, ‘ke-nekad-an’ bang Andreas waktu membawa anak ini beserta bekal sederhananya, sebenarnya menunjukkan imannya bahwa Yesus bisa melakukan sesuatu dari hal yang kecil. Dan juga menunjukkan kalau dia peduli kepada sosok yang sebenarnya nggak terpandang, dan mungkin nggak dianggap (si anak kecil). Yang terpenting, di sini Andreas juga menjadi saksi tindakan Yesus mengambil sesuatu yang kecil lalu menggunakannya untuk memberi makan banyak orang.

Andreas dan Orang Non-Yahudi

Suatu hari, beberapa orang Yunani (non-Yahudi) menghampiri Filipus untuk minta ketemu Yesus (Yohanes 12:20-22). Bisa dibayangkan, Filipus ragu, haruskah dia mempertemukan orang-orang ini kepada Yesus? Kan mereka bukan orang Yahudi. Kira-kira Yesus mau ketemu nggak ya? Karena itu, dia menyampaikan kepada siapa? Ya, kepada Andreas.

Dan sekali lagi, Andreas dengan ke-nekad-annya, menyampaikan ke Yesus. Andreas ternyata nggak ragu membawa bangsa manapun kepada Yesus, sekalipun di masa itu orang-orang non-Yahudi dimusuhi bahkan dianggap kafir.

GIG: Hadiah bagi saya hari ini adalah diingatkan untuk nggak berhenti menjangkau jiwa bahkan dengan aksi yang sangat kecil dan sepele. Karena dengan pertolongan Tuhan, kita nggak tahu potensi seperti apa yang dimiliki oleh jiwa yang kita bawa kepada-Nya.

Edward Kimball dan Billy Graham

Siapa yang nggak kenal Bily Graham? Walau nggak pernah dengar kotbahnya, saya rasa semua tahu kalau dia salah satu pengkotbah terbesar di masa ini. Tapi siapa yang kenal Edward Kimball?

Kimball adalah seorang guru sekolah minggu yang pada suatu hari menginjili seorang penjual sepatu muda, D.L. Moody. Moody kemudian menjadi penginjil yang menjangkau Inggris dan Amerika, dan ia membimbing seseorang bernama Wilbur Chapman. Chapman menjadi seorang pengkotbah, yang salah satu kotbahnya menjangkau pemain baseball, Billy Sunday. Billy Sunday menjadi penginjil yang membawa Mordecai Hamm kepada Kristus. Hamm menginjili Amerika. Dan salah satu kotbahnya ‘menobatkan’ Billy Graham.

Sorotan Iman-Preview

Judul: Sorotan Iman (The Spotlight of Faith), Memahami Arti Berjalan Bersama Allah
Penulis: Bill Crowder
Penerbit: Discovery Houser Publishers
Dina’s Rating: *****

YES! Dina’s Rating untuk buku ini FULL!!!

Kenapa? Kenapa? Karena temanya cukup unik, dibahas dengan point-point yang sederhana dan mudah dipahami, dilengkapi contoh-contoh yang bikin nggak bosan. Pembahasannya pun satu tokoh per-bab sehingga bacanya nyaman, nggak seabrek-abrek 😀

Saya kutip paragraf pertama dari Prakata buku ini:

Andy Warhol, seniman pop dan simbol budaya di tahun 1960 dan 1970-an mengatakan bahwa “pada masa mendatang setiap orang akan menjadi terkenal di dunia selama 15 menit”. Jika hal ini benar, Bob May mendapatkan 15 menitnya itu pada bulan Agustus 2000. dalam trunamen golf profesional PGA Championship tahun 2000, Bob, seorang pegolf biasa dan tak banyak dikenal orang, menjadi pusat perhatian bersama Tiger Woods, pegolf terhebat di planet ini. Dalam salah satu turnamen paling dramatis yang berlangsung selama ini, Bob menjadi sorotan karena permainannya yang gemilang dan bertanding melawan Tiger pukulan demi pukulan, putt demi putt, dan lubang demi lubang. Di akhir permainan normal sepanjang 72 lubang tersebut, mereka masih tetap bermain seri. pertarungan ini berlangsung sampai begitu larut malam, ketika mereka harus memainkan tambahan tiga lubang sebelum pertandingan tersebut dimenangi, dan pegolf terbesar di dunia pun akhirnya mengalahkan seorang yang :bukan siapa-siapa dari antah berantah:. Setelah turnamen tersebut, Bob May kembali menjadi seorang tak dikenal dalam dunia golf, tetapi selama “15 menit-nya” itu, ia merupakan salah seorang pegolf terbaik di dunia.

Bisa bayangin apa isi buku ini? Golf? Tentu bukan! 🙂

Buku ini berbicara tentang “Bob May -Bob May” yang ada di Alkitab. Buku ini menceritakan tentang tokoh-tokoh yang cuma disebut beberapa kali (atau sekilas) di Alkitab. Siapa yang nggak kenal Petrus? Siapa yang nggak tahu karakternya? Pasti semua tahu. Tapi siapa coba yang bisa menceritakan orang seperti apa sih Andreas? Dan siapa yang nggak kenal Paulus? Tapi siapa yang ingat siapa itu Barnabas?

Menarik banget buku ini bisa menelaah karakter-karakter tokoh-tokoh Alkitab melalui ayat-ayat yang selama ini mungkin kita ‘abaikan’. Dan tentu saja ada banyak hal menarik yang bisa kita pelajari dari ke-12 tokoh di buku ini: Andreas, Barnabas, Izebel, Yokhebed, Lidia, Marta, Miryam, Naomi, Filipus, Sara, Stefanus, dan Tomas.

Karena ada 12 tokoh, saya akan menulis apa yang saya dapat dari tiap tokoh dalam posting-posting yang terpisah. Satu posting untuk setiap tokoh. Jadi… ikuti terus ya!

Happy reading!

Next posting: Let’s talk about Andreas

GIG: Sebuah buku luar biasa yang saya pinjam tak sengaja satu tahun lalu dari Ario (orangnya juga kayanya lupa buku ini ada di saya). Thanks, Ario! Kalo udah kelar pasti saya balikin, kok!