Marriage

Entah kenapa, feeling saya agak buruk nih soal reaksi orang-orang pas baca judul posting saya ini. Pasti jadi banyak yg mikir saya udah mau nikah. Hahahahahaha. The truth? Yes, I wanna get married someday, tapi nggak dalam waktu dekat. Posting ini adalah rangkuman apa yang saya dapat dari kotbah Pdt. Flora Dharmawan Sabtu lalu di persekutuan pemuda. And I dedicate this posting to several good friends out there who are busy preparing ‘the day’. Yes, you know who you are! 😀

24Therefore shall a man leave his father and his mother, and shall cleave unto his wife: and they shall be one flesh. (Genesis 2:24 – NKJV)

Jadi, persekutuan kemarin agak beda karena dibuat dalam format debat. Peserta ‘dipaksa’ mengeluarkan pendapat, yang kemudian baru diakhiri oleh kotbah dari Ibu Flora. Ada dua mosi hari itu yang diajukan oleh pengurus. Saya akan share mosi dan pembahasannya Bu Flora aja ya. Debatnya ga perlu di-review toh? :). Enjoy!

Mosi 1: Membuat rekening tabungan bersama (joint account) dengan pacar. Setuju atau enggak?

Sebelumnya, mari kita bedakan dulu definisi pacaran dan pernikahan. Definisi pernikahan ada di Kejadian 2:24 yang saya kutip di atas. Di situ ada 3 kata kerja yang mendefinisikan pernikahan.

To leave – Meninggalkan. Dalam bahasa ibrani-nya malah berarti putus hubungan. Bukan berarti putus hubungan dengan ortu dan jadi nggak usah kenal lagi loh. Tapi kata ‘putus hubungan’ yang digunakan adalah kata yang sama dengan kata yang mendifinisikan pemutusan hubungan tali pusar bayi yang baru lahir dari plasenta di rahim ibu (bener nggak sih plasenta? Yah tapi kalian ngerti kan maksud saya?). Seorang janin di dalam rahim, mendapat ‘kehidupan’ dari ibunya. Makanan dari ibunya, oksigen dari ibunya, melalui tali pusar itu. Begitu dia lahir, tali pusar yang menghubungkan bayi dengan ibunya harus diputuskan, dan bayi harus bisa bernafas sendiri, mengkonsumsi makanan sendiri, bertumbuh besar perlahan-lahan hingga dewasa. Demikianlah sebuah pernikahan, seorang individu yang menikah berarti ‘putus hubungan’ dengan orangtuanya untuk kemudian menjadi pribadi yang benar-benar harus mampu menghidupi diri sendiri dan bertumbuh semakin dewasa.

To cleave – Bersatu, menjadi satu kesatuan dengan istri dalam sebuah pernikahan bagaikan sebuah dwitunggal. Dua orang tapi satu kesatuan.

To be one flesh – Menjadi satu daging dalam pernikahan, secara seksual.

Bagaimana dengan pacaran? Pacaran berarti sesuatu sebelum tahap itu. Belum ada ‘penyatuan’ di situ. Pacaran ‘hanya’ berarti persahabatan istimewa, spesial, atau apa lah namanya itu. Yang jelas, masih ada kemungkinan lanjut maupun nggak lanjut. Pribadi dalam sebuah hubungan pacaran masih berdiri sendiri-sendiri, jadi sebenarnya nggak perlu membuat joint account. Gimana dengan pertunangan? Sami mawon, selama belum dalam pernikahan, masing-masing adalah pribadi yang berdiri sendiri.

Untuk pengaturan dana pacaran, mungkin bisa dengan kesepakatan, gantian bayarin? 🙂

Mosi 2: Menikah tapi memilih untuk tidak mempunyai keturunan. Setuju atau enggak?

Kebanyakan orang akan menggunakan Kejadian 1:28

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

dan memutuskan untuk kontra (menolak) mosi ini.

Tapi menurut sebenarnya kata kerja dalam definisi pernikahan ya cuma 3 itu: to leave, to cleave, to be one flesh. Nggak ada “to have kids”.  Memang Tuhan memerintahkan untuk beranakcucu tapi nggak semua pasangan menikah dipanggil untuk memiliki keturunan. Ada pasangan yang memilih – berdasarkan kebijakan dari Tuhan – untuk nggak punya keturunan sendiri karena bagaikan menambah satu jiwa baru lagi dalam kesulitan dunia ini, dan lebih memilih untuk mengadopsi anak yang udah terlanjur lahir tapi nggak ada yang mengasihi. Bukankah ini alasan yang indah? 🙂

Asal jangan nggak mau punya keturunan karena alasan-alasan egois macam: menghambat karier, atau nggak siap (secara finansial misalnya). Karena Allah adalah Jehovah Jireh, Allah yang menyediakan. (seperti dalam peristiwa Abraham yang disuruh mengorbankan Ishak, pada akhirnya Allah yang menyediakan korban pengganti Ishak).

Yang penting, jadilah keluarga yang bertanggung jawab, termasuk juga sejauh mana bisa bertanggung jawab soal jumlah anak. Minta kebijaksanaan dari Tuhan soal hal ini, dan tentunya harus ada kesepakatan bersama antara suami dan istri. 🙂

 

GIG: Saya percaya proses pacaran adalah proses pengenalan menuju pernikahan dan karena itu setiap tambahan pengertian baru mengenai pernikahan adalah hadiah yang berharga bagi saya.