Maria, Simon, Saya

Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.

Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.”

Lalu Yesus berkata kepadanya: “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.”

Sahut Simon: “Katakanlah, Guru.”

“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?”

Jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.”

Kata Yesus kepadanya: “Betul pendapatmu itu.”

Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.”

(Lukas 7:36-47)

Masih ingat kisah ini? Ya, ini salah satu kisah yang populer diceritakan sejak masih di Sekolah Minggu. Saya sih juga selalu inget kisah ini. Tapi ada bagian yang sebenernya ‘mengganggu’ saya. Apa itu? Bisa tebak? Jawabannya perumpamaan yang Yesus kasih.

Saya tadinya nggak ngerti kenapa Yesus kasih perumpamaan kayak gitu. Kok rasanya kurang relevan dalam menjawab complain-nya Simon. Simon kan complain dalam hati soal keberdosaan si wanita dan ketidaklayakan dia menjamah Yesus. Kenapa dijawabnya malah dengan perumpamaan yang berbicara tentang rasa syukur (melalui perbuatan kasih)?

Lalu, di perumpamaan itu, Yesus juga bilang: “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih”. Bukankah ini malah makin memperkuat pendapat bahwa si perempuan memang dosanya lebih banyak daripada Simon si orang Farisi, makanya wajar-wajar aja kalo si perempuan berdosa lebih ekstrem pernyataan kasihnya. Dan wajar-wajar aja kalau Simon biasa aja pernyataan kasihnya karena dosanya cuma sedikit.

Ya nggak? Entah dengan kalian, tapi saya sih dulu sempat mikir gitu dan bener-bener bingung. Tapi waktu saat teduh beberapa hari lalu, saya ‘mendapatkan’ jawabannya.

Maria

Siapakah Maria? Hehe Maria adalah adalah nama perempuan berdosa itu. Dari mana tau nya? Di Yohanes 12:3 yang membahas bagian yang sama, disebutkan kalau namanya Maria. Maria adalah seorang perempuan berdosa (Luk 7:38). Yah kalo sampe dibilang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa, dosanya pasti bukan yang umum-umum kayak bohong atau sombong ya. Kemungkinan dosanya yang bisa ‘terlihat’ oleh banyak orang. Biasanya sih ada hubungannya dengan zinah. Dengan reputasi demikian, udah pasti butuh keberanian dan ke-nekad-an dari Maria untuk menghampiri Yesus, seorang pria, dan seorang guru.

Di Lukas memang nggak disebutkan dengan detail, minyak apa yang digunakan Maria (hanya dibilang minyak wangi yang mahal). Tapi di Yohanes 12:3, disebutkan kalau itu adalah minyak narwastu murni. Dan dengan membasuh kaki Yesus dengan minyak narwastu dan menyekanya dengan rambut, Maria telah memberikan seluruh hidupnya buat Yesus. Kenapa?

Karena Maria memberikan hartanya yang terbaik. Minyak Narwastu harganya MUAHAL. Berdasarkan sumber yang saya baca, harga minyak narwastu murni waktu itu sekitar 300 dinar, yang kalau dikonversi ke mata uang kita sekitar Rp. 3.822.867,- atau sebanding dengan upah pekerja selama 300 hari (hampir 1 tahun!).

Karena Maria memberikan masa depannya. Wanita Yahudi pada masa itu harus memiliki minyak narwastu untuk membasuh kaki suaminya pada hari pernikahan sebagai tanda cinta dan kesetiaan. Jadi dengan memberikan minyak narwastu yang dia punya (dan mungkin nggak akan sanggup dia beli lagi), hampir pasti nggak akan ada pria yang mau menikahinya.

Dan karena Maria memberikan harga dirinya. Di Israel, rambut seorang wanita merupakan sesuatu yang amat berharga. Tapi pada kesempatan itu, Maria rela melepaskan kerudung dan membasuh kaki Yesus dengan rambutnya itu.

Kenapa Maria sampai rela memberikan semuanya itu? Kemungkinan besar karena ia tahu kalau ia nggak layak. Bisa menghampiri Yesus saja udah merupakan anugerah yang luar biasa buat dia, sehingga ia merasa sudah sewajarnya memberikan yang terbaik.

Simon

Lalu siapakah Simon? Simon adalah nama orang Farisi yang mengundang Yesus ke rumahnya. Di Lukas, memang hanya itu saja penjelasannya (bahwa ia orang Farisi) dan sayangnya selama ini saya kurang rajin membuka kitab injil lain waktu baca bagian ini. Di Markus 14:3, Simon diperkenalkan sebagai Simon si kusta. Walaupun dia dibilang ‘si kusta’, bisa dipastikan waktu dia ngundang Yesus kustanya pasti udah sembuh. Kalau enggak, dia pasti ada dalam pengasingan dan kalau ngundang orang ke rumahnya, pasti nggak ada yang mau dateng. Hehe. Jadi, siapa yang sembuhin dia?

Ya, uda pasti Tuhan Yesus yang sembuhin dia. Mungkin juga itu sebabnya kenapa Simon undang Yesus ke rumahnya, mungkin sebagai tanda terima kasih.

Pas tahu ini, heran juga ya kenapa Simon nggak kasih pelayanan yang terbaik, padahal dia kan udah dapat anugerah luar biasa dari Yesus yaitu kesembuhan. Simon ‘cuma’ mengundang Yesus ke rumahnya. Tapi Simon nggak menyediakan air untuk membasuh kaki Yesus, Simon nggak mencium Yesus, dia juga nggak meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi. Singkatnya, kebalikan dari Maria, Simon nggak memberikan yang terbaik.

Bukan Soal Dosa, tapi Soal Ketidaklayakkan

Kenapa Maria memberikan yang terbaik sedangkan Simon tidak, padahal mereka sama-sama menerima anugerah luar biasa dari Tuhan? Apakah Maria dosanya memang lebih besar sehingga ketidak diampuni, dia jauh lebih bersyukur?

Tentunya bukan, karena di mata Tuhan kan nggak ada dosa besar dan dosa kecil. DOSA adalah DOSA. Sama aja di matanya.

Respon Maria demikian karena ia sadar kalau ia berdosa dan sesungguhnya TIDAK LAYAK. Karena itulah rasa syukurnya lebih besar. Sedangkan Simon, karena ia seorang Farisi yang mengutamakan Taurat, kemungkinan besar ia merasa sudah SEWARJARNYA Yesus memberikan anugerah kesembuhan. Karena itulah responnya biasa saja.

Merasa respon Simon nggak benar? Tunggu dulu… Kita bahas satu tokoh lagi.

Saya

Saya hanyalah manusia biasa. Seorang wanita yang sepertinya hampir tiap detik berbuat dosa. Kalaupun bukan dengan kata-kata atau perbuatan, dengan pikiran juga. Orang-orang bisa mengenali keberdosaan saya karena saya memiliki dosa-dosa yang terlihat. Tapi dosa yang nggak kelihatan jauh lebih banyak lagi.

Walaupun manusia berdosa, saya mendapatkan anugerah luar biasa setiap harinya. Mulai dari matahari dan okisgen setiap hari, rumah yang nyaman, keluarga yang menyenangkan, pacar yang sabar, pekerjaan yang baik, materi dan fasilitas yang tersedia. Tapi seringnya saya berespon biasa saja. Saat teduh terburu-buru. Doa agak malas. Baca buku rohani bersaing dengan nonton TV. Malah lebih dari itu, saya sering bersungut-sungut atas hal-hal yang seharusnya saya syukuri. Kenapa? Karena saya mulai menanggap hal-hal itu biasa saja, bukan lagi anugerah Tuhan yang luar biasa. Saya merasa layak menerimanya.

GIG: Hadiah saya hari ini adalah hari yang terasa lebih indah dan mood yang lebih baik, karena menyadari saya sudah dianugerahkan hal-hal yang nggak selayaknya saya dapatkan.

Have a great Tuesday!