Andreas, Saudara yang Kurang Dikenal

Note: posting ini disadur dari bab pertama buku Sorotan Iman

The Calling of Saints Peter and Andrew by Bernardo Strozzi - http://www.corbisimages.com

Siapa yang nggak kenal Simon Petrus? Saya yakin, buanyaaaaaak yang tahu kalo Petrus itu murid Yesus. Tapi siapa yang kenal Andreas? Yah sebagian besar mungkin tahu kalau dia juga murid Yesus. Tapi sebagian lagi mungkin ragu: bener gak ya dia murid Yesus? Dia tokoh Alkitab sih, tapi murid Yesus bukan, ya?

Andreas memang salah satu dari keduabelas murid Yesus, bahkan mungkin dia termasuk yang pertama dipanggil. Tapi dia nggak termasuk “lingkaran murid-murid terdekat” Yesus (Simon Petrus, Yohanes, Yakobus). Yohanes dan Yakobus yang bersaudara termasuk dalam “lingkaran” tersebut. Sedangkan Andreas yang saduara Simon (Petrus) nggak. Padahal, sesungguhnya Andreas loh yang “membawa” Simon kepada Yesus. Agak ironi ya?

Dengan semua latar belakang itu, kenapa ya tokoh Andreas jadi terasa sedikit perannya? Apa salah dia ya? hehe. Sebelum buru-buru menyimpulkan, mari kita kenal tokoh yang satu ini lebih jauh.

Siapa Dia?

Andreas tadinya adalah salah satu murid Yohanes Pembaptis yang berasal dari Kapernaum. Karena dia murid Yohanes Pembaptis, kemungkinan besar dia menyaksikan sendiri pertemuan gurunya dengan sang Mesias (Yesus). Bahkan Yohanes Pembaptis menyatakan sendiri kepada Andreas (dan temannya) bahwa Yesus adalah Mesias (Yohanes 1:35-40). Sejak itu, Andreas berinisiatif mengikut Yesus dan menjadi salah satu dari dua murid pertama Yesus.

Andreas Mengajak Petrus

Apa yang pertama kali dilakukan Andreas begitu tahu Yesus adalah Mesias dan mengikut-Nya? Dia pergi ke tempat saudaranya, Simon, dan membawanya kepada Yesus (Yohanes 1:41-42). Tindakan ini menunjukkan karakteristik Andreas yang peduli terhadap keselamatan tiap pribadi. Dan dengan menceritakan imannya kepada seorang Simon, Andreas sebenarnya punya tiga ‘kesulitan’.

Pertama, Simon adalah saudaranya. Buat kalian yang punya saudara seperti saya, pasti tahu kalo cerita tentang iman dan share pengalaman rohani paling susah ke anggota keluarga dan orang deket. Ya nggak? Mungkin nih… soalnya mereka kan yang paling kenal baik buruknya kita. Mereka berpotensi ‘melecehkan’ pengalaman rohani kita karena nggak sebanding dengan keburukan kita. Kedua, Simon adalah orang yang ‘sulit’. Tahu sendiri kan perangainya Simon yang suka heboh, impulsif, dan agak ngotot? Ketiga, Simon adalah orang yang ‘membayang-bayangi’ hidup Andreas.

Tapi di tengah kesulitan tersebut, toh Andreas tetap membawa Simon kepada Yesus. Dan apa hasilnya? Seorang rasul besar lahir! So, teman-teman, ingatlah bahwa kita nggak tahu akan jadi apa setiap jiwa yang kita bawa. Tapi setiap jiwa yang diubahkan Kristus mungkin memiliki potensi besar seperti Simon.

Andreas, 5 Roti, dan 2 Ikan

Pasti tahu dong peristiwa Yesus memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan? Coba baca lagi dengan teliti Yohanes 6:8-9. Siapa yang membawa anak kecil dengan bekal 5 roti dan 2 ikan tersebut kepada Yesus? Ya, betul! Andreas! Coba dibayangin deh adegannya. Ada 5000 orang lebih yang mulai kelaparan. Murid-murid mulai panik, nggak tahu harus gimana kasih makan segini banyak orang. Lalu tiba-tiba dari kerumunan, si Andreas nuntun seorang anak kecil sambil ngomong: “Guru, nih ada anak kecil yang bawa 5 roti dan 2 ikan”.

Kalau saya ada di situ dan dengar omongan dia, mungkin komentar saya: “Terus…???”

Ya… terus kalau ada anak kecil bawa bekal 5 roti dan 2 ikan, kamu mau apa? Mau dibagiin maksudnya? Menurut kamu bakal cukup?? Mikir yang benar dong! hehe

Nah makanya, ‘ke-nekad-an’ bang Andreas waktu membawa anak ini beserta bekal sederhananya, sebenarnya menunjukkan imannya bahwa Yesus bisa melakukan sesuatu dari hal yang kecil. Dan juga menunjukkan kalau dia peduli kepada sosok yang sebenarnya nggak terpandang, dan mungkin nggak dianggap (si anak kecil). Yang terpenting, di sini Andreas juga menjadi saksi tindakan Yesus mengambil sesuatu yang kecil lalu menggunakannya untuk memberi makan banyak orang.

Andreas dan Orang Non-Yahudi

Suatu hari, beberapa orang Yunani (non-Yahudi) menghampiri Filipus untuk minta ketemu Yesus (Yohanes 12:20-22). Bisa dibayangkan, Filipus ragu, haruskah dia mempertemukan orang-orang ini kepada Yesus? Kan mereka bukan orang Yahudi. Kira-kira Yesus mau ketemu nggak ya? Karena itu, dia menyampaikan kepada siapa? Ya, kepada Andreas.

Dan sekali lagi, Andreas dengan ke-nekad-annya, menyampaikan ke Yesus. Andreas ternyata nggak ragu membawa bangsa manapun kepada Yesus, sekalipun di masa itu orang-orang non-Yahudi dimusuhi bahkan dianggap kafir.

GIG: Hadiah bagi saya hari ini adalah diingatkan untuk nggak berhenti menjangkau jiwa bahkan dengan aksi yang sangat kecil dan sepele. Karena dengan pertolongan Tuhan, kita nggak tahu potensi seperti apa yang dimiliki oleh jiwa yang kita bawa kepada-Nya.

Edward Kimball dan Billy Graham

Siapa yang nggak kenal Bily Graham? Walau nggak pernah dengar kotbahnya, saya rasa semua tahu kalau dia salah satu pengkotbah terbesar di masa ini. Tapi siapa yang kenal Edward Kimball?

Kimball adalah seorang guru sekolah minggu yang pada suatu hari menginjili seorang penjual sepatu muda, D.L. Moody. Moody kemudian menjadi penginjil yang menjangkau Inggris dan Amerika, dan ia membimbing seseorang bernama Wilbur Chapman. Chapman menjadi seorang pengkotbah, yang salah satu kotbahnya menjangkau pemain baseball, Billy Sunday. Billy Sunday menjadi penginjil yang membawa Mordecai Hamm kepada Kristus. Hamm menginjili Amerika. Dan salah satu kotbahnya ‘menobatkan’ Billy Graham.

Sorotan Iman-Preview

Judul: Sorotan Iman (The Spotlight of Faith), Memahami Arti Berjalan Bersama Allah
Penulis: Bill Crowder
Penerbit: Discovery Houser Publishers
Dina’s Rating: *****

YES! Dina’s Rating untuk buku ini FULL!!!

Kenapa? Kenapa? Karena temanya cukup unik, dibahas dengan point-point yang sederhana dan mudah dipahami, dilengkapi contoh-contoh yang bikin nggak bosan. Pembahasannya pun satu tokoh per-bab sehingga bacanya nyaman, nggak seabrek-abrek πŸ˜€

Saya kutip paragraf pertama dari Prakata buku ini:

Andy Warhol, seniman pop dan simbol budaya di tahun 1960 dan 1970-an mengatakan bahwa “pada masa mendatang setiap orang akan menjadi terkenal di dunia selama 15 menit”. Jika hal ini benar, Bob May mendapatkan 15 menitnya itu pada bulan Agustus 2000. dalam trunamen golf profesional PGA Championship tahun 2000, Bob, seorang pegolf biasa dan tak banyak dikenal orang, menjadi pusat perhatian bersama Tiger Woods, pegolf terhebat di planet ini. Dalam salah satu turnamen paling dramatis yang berlangsung selama ini, Bob menjadi sorotan karena permainannya yang gemilang dan bertanding melawan Tiger pukulan demi pukulan, putt demi putt, dan lubang demi lubang. Di akhir permainan normal sepanjang 72 lubang tersebut, mereka masih tetap bermain seri. pertarungan ini berlangsung sampai begitu larut malam, ketika mereka harus memainkan tambahan tiga lubang sebelum pertandingan tersebut dimenangi, dan pegolf terbesar di dunia pun akhirnya mengalahkan seorang yang :bukan siapa-siapa dari antah berantah:. Setelah turnamen tersebut, Bob May kembali menjadi seorang tak dikenal dalam dunia golf, tetapi selama “15 menit-nya” itu, ia merupakan salah seorang pegolf terbaik di dunia.

Bisa bayangin apa isi buku ini? Golf? Tentu bukan! πŸ™‚

Buku ini berbicara tentang “Bob May -Bob May” yang ada di Alkitab. Buku ini menceritakan tentang tokoh-tokoh yang cuma disebut beberapa kali (atau sekilas) di Alkitab. Siapa yang nggak kenal Petrus? Siapa yang nggak tahu karakternya? Pasti semua tahu. Tapi siapa coba yang bisa menceritakan orang seperti apa sih Andreas? Dan siapa yang nggak kenal Paulus? Tapi siapa yang ingat siapa itu Barnabas?

Menarik banget buku ini bisa menelaah karakter-karakter tokoh-tokoh Alkitab melalui ayat-ayat yang selama ini mungkin kita ‘abaikan’. Dan tentu saja ada banyak hal menarik yang bisa kita pelajari dari ke-12 tokoh di buku ini: Andreas, Barnabas, Izebel, Yokhebed, Lidia, Marta, Miryam, Naomi, Filipus, Sara, Stefanus, dan Tomas.

Karena ada 12 tokoh, saya akan menulis apa yang saya dapat dari tiap tokoh dalam posting-posting yang terpisah. Satu posting untuk setiap tokoh. Jadi… ikuti terus ya!

Happy reading!

Next posting: Let’s talk about Andreas

GIG: Sebuah buku luar biasa yang saya pinjam tak sengaja satu tahun lalu dari Ario (orangnya juga kayanya lupa buku ini ada di saya). Thanks, Ario! Kalo udah kelar pasti saya balikin, kok!

The Purpose of Christmas


Judul: The Purpose of Christmas
Penulis: Rick Warren
Penerbit: Howard Books
Dina’s Rating: *****


Saya dan Buku Ini

Ya, saya tahu Natal sudah lewat nyaris dua bulan lalu dan membahas buku ini jadi terasa agak “salah”. Hehe. Sebenarnya buku ini saya beli menjelang Natal 2008 dan saya mulai baca ulang beberapa hari menjelang Natal 2010.Β  Membaca dan menyerapi buku ini di tengah kesibukan persiapan Natal dan Tahun Baru bikin proses membaca baru rampung di akhir Januari 2011. Hehe. Dan serius deh, buku ini talk a lot to me. Nggak cuma ngomong soal Natal, buku ini mengingatkan kembali hal-hal tentang kasih Tuhan yang mungkin kadang saya lupakan.

Tentang Buku Ini

Sekilas, buku ini terlihat ‘ringan’ karena dipenuhi selingan gambar-gambar dan tulisan yang ukurannya cukup besar. Beneran menang di design deh. Hehe. Apalagi waktu baca bagian awalnya, si penulis seolah menekankan bahwa buku ini untuk semua, membahas makna Natal secara Universal, bukan hanya untuk orang Kristen saja.

Dan memang buku ini dengan pintarnya membahas ajaran-ajaran Kristen dengan apik, nggak terlihat sedang membicarakan pengajaran. Cukup universal, nggak eksklusif untuk orang-orang Kristen yang hobi baca buku rohani. Ayat-ayat yang ada pun dikutip tanpa mencantumkan alamat ayatnya (Alamat ayatnya di tulis di bagian indeks) jadi kutipan ayat terasa menjadi bagian dari kalimat. Asoy dah.

Setelah menghabiskannya, bener-bener berasa buku ini walaupun memang ringan, tapi juga sangat padat. Saya tuh hobi stabilo bagian-bagian dari buku yang saya baca, yang memberi saya “AHA” moment. Dan pas baca buku ini ya, rasanya kaya buanyaaaaak banget yang pengen saya stabilo. Hehe. Banyak hal baru yang saya dapat, dan banyak juga yang sebenarnya saya udah tahu, tapi diingatkan lagi. πŸ˜€

Sekelumit Isi Buku Ini

Sesuai judulnya, buku ini bicara tentang tujuan (atau makna) Natal. Dan menurut Rick Warren, makna Natal adalah: Time for CELEBRATION (waktunya perayaan), time for SALVATION (waktunya penyelamatan), dan time for RECONCILIATION (waktunya pendamaian.).

Dari mana datangnya kesimpulan di atas? Dari berita Natal pertama yang dibawa para malaikat untuk para gembala. Bisa dilihat di Lukas 2:10-14 (di bawah ini adalah terjemahan NIV)

10 But the angel said to them, β€œDo not be afraid. I bring you good news that will cause great joy for all the people. (CELEBRATION)

11 Today in the town of David a Savior has been born to you; he is the Messiah, the Lord. 12 This will be a sign to you: You will find a baby wrapped in cloths and lying in a manger.”(SALVATION)

13 Suddenly a great company of the heavenly host appeared with the angel, praising God and saying,

14 β€œGlory to God in the highest heaven,
and on earth peace to those on whom his favor rests.” (RECONCILIATION)

Saya akan membahas beberapa point yang mengena buat saya dari tiap bagian tersebut.

Christmas is time for CELEBRATION

Di bagian ini, saya banyak diingatkan tentang kasih Tuhan. Hal-hal yang mungkin sudah saya tahu, sudah pernah di bahas juga di buku Rick Warren yang lain, Purpose Driven Life, tapi saya lupa menghayatinya dalam hidup saya sehari-hari. Peristiwa Natal adalah peristiwa perayaan kasih Allah bagi manusia. Salah satu bukti kasih-Nya adalah kemampuan kita untuk menikmati sesuatu. Bayangin aja kalo kita bisa melihat birunya langit, warna-warni pelangi, dan hijaunya dedaunan tapi nggak bisa ngerasain indahnya semua itu. Atau kalau kita bisa merasakan gurihnya tumis kangkung, manisnya cupcakes, atau asamnya rujak, tapi nggak bisa ngerasain nikmatnya semua itu? (duh jadi laper.. hehe).

Maka, ketika kita jatuh dalam dosa dan sangat membutuhkan keselamatan, satu-satunya jalan untuk menyatakan kasih Allah yang begitu besar adalah dengan datang ke dunia. Begitu besarnya kasih Allah sampai penyampaiannya nggak bisa diwakilkan oleh pihak lain.

Christmas is time for SALVATION

Salvation (penebusan), berarti dibebaskan dari sesuatu yang buruk (dosa). Tapi ada makna yang lebih dari itu, salvation juga bermakna dibebaskan untuk sesuatu yang baik (We are not only saved from something bad, we are saved for something good). Apa sih hal yang baik itu? Kemerdekaan dan kemampuan untuk memenuhi tujuan yang Tuhan tanamkan dalam hidup kita. Itu suatu hak yang luar biasa, kan?

Lalu kemerdekaan. Kemerdekaan dari apa? Dari rasa bersalah di masa lalu (sebagai akibat dari nggak taat sama Tuhan), dari kepahitan (kita nggak pernah bisa kontrol kelakuan orang ke kita, tapi kita bisa memilih respon yang tepat, kan?), dari ekspektasi orang lain (akuilah, kita suka terlalu sering hidup dengan berusaha memenuhi ekspektasi orang lain, bukankah ini melelahkan?), dari kebiasaan buruk (ayo apa? setiap orang pasti punya), dan dari ketakutan akan kematian.

Christmas is time for RECONCILIATION

Rekonsiliasi berarti menemukan kembali kedamaian dengan Tuhan, dengan orang lain, dan dengan diri sendiri.

Ada dua penyebab konflik. Yang pertama, karena sifat egosentris manusia. Dan yang kedua karena mengharapkan orang lain memenuhi kebutuhan kita yang sebenernya cuma Tuhan yang bisa penuhi (Sounds crazy? But lot of us did it, included me. Dan umumnya kita harapkan dari orang-orang terdekat.)

Nah gimana dengan peran kita sebagai pembawa damai? jadi pembawa damai bukan sekedar nggak cari ribut, tapi juga terlibat aktif dan beinisiatif untuk mengambil peranan mengakhiri konflik yang kita tahu ada. Termasuk juga memberikan pengampunan bagi mereka yang menyakiti hati kita (susaaaaah bener ya. Tapi saya termasuk salah seorang yang –by His grace – beneran mengalami miracle yang memampukan saya memaafkan seseorang yang saya kira udah saya ampuni sebelumnya tapi belum -sangat ribet nih bahasanya. Will be explain in next post πŸ™‚ )

GIG

Tepat di hari Natal, pacar (kedua) saya (Pacar Pertama saya adalah Tuhan saya – red) ngajak diskusi tentang orang-orang yang menolak merayakan Natal di tanggal 25 Desember. Salah satu teman pacar saya memang penganut denominasi tersebut dan katanya, “Berdasarkan sejarah dan penelitian, nggak mungkin Yesus lahir di bulan Desember, makanya kami nggak merayakannya. Lagipula kami merayakan Natal setiap hari kok.”

Saya nggak pro atau kontra soal tanggal Natal yang benar. Buat saya itu nggak terlalu penting. Tapi alangkah indahnya kalau kita bisa menghayati makna Natal setiap hari sepanjang tahun. Mungkin kita akan jadi orang yang paling bersyukur sedunia.

Jadi, GIG saya adalah sebuah ide baru untuk menghayati makna Natal bukan sehari dalam setahun tapi setiap hari sepanjang tahun. Sulit, tapi mari berusaha. Dan nggak ada yang mustahil kalau dengan pertolongan Tuhan, kan? πŸ™‚