First Anniversary

First anniversary apa? Sama Mas Ben jelas-jelas udah ngelewatin 4th anniversary. Punya pacar lain? Tentu tidak! *kalopun iya kan nggak bakal eke publish di sini* *langsung diinterogasi Mas Ben* :p

First anniversary of my love-hate-relationship with Delamibrands. *yihaaaa*

Suatu hari di akhir Juni 2009, seorang mahasiswi DKV akhirnya berhasil melewati sidang Tugas Akhirnya dengan lancar. Ia ingin segera hunting kerjaan, tapi satu dan lain hal membuatnya baru bisa kirim-kirim CV dan portfolio di bulan Agustus. Setelah hampir putus asa karena hampir dua bulan nyebar CV ke mana-mana, interview di sana sini, tapi nggak dapet-dapet panggilan…. Setelah sedikit demi sedikit menurunkan standar dan berkompromi dengan mimpi, akhirnya ia diterima di sebuah perusahaan. Sebuah perusahaan yang jauh dari impiannya, tapi setidaknya bisa memberikan ‘imbalan’ yang lumayan menjanjikan dan ketenangan bahwa ia bukan lagi pengangguran.

Awal Oktober, di hari pertama ia bekerja, ia sudah memutuskan untuk resign dalam waktu dekat.

Terlihat impulsif, tapi di hari pertama ia tahu ini bukan tempatnya. Masuk bulan ketiga, di awal Desember, ia menyatakan niatnya pada atasan, tapi ditolak. Ia diminta menunggu setidaknya dua bulan lagi, atau sampai ia bisa dapat pekerjaan pengganti. Dan ia setuju.

Pertengahan Januari, ia dipanggil ikut tes masuk sebuah perusahaan multinasional. Sebuah perusahaan, yang produknya ia pakai sehari-hari. Sebuah perusahaan raksasa baginya, di mana ia nggak pernah mimpi untuk masuk ke sana, di bidang yang sebenarnya bukan bidangnya: marketing. Ia dipanggil sebagai bagian dari beberapa ribu orang terpilih walaupun ia nggak pernah mencoba melamar. Perusahaan ini menjanjikan prospek yang amat besar. Jangan tanya gajinya atau jenjang kariernya, sudah pasti memuaskan. Maka si desainer pikir, apa salahnya dicoba? Iseng-iseng berhadiah.

Iseng-iseng membawanya mengikut tes pertama: semacam interview tertulis, dengan mengisi form yang sudah disediakan. Banyak temannya yang ternyata nggak lanjut ke tahap kedua: phone interview, tapi si desainer ternyata lulus. Lulus jenjang pertama mulai menumbuhkan bibit harapan. Sebelum masuk kantor, si desainer menyempatkan diri mengikuti phone interview. Ia pesimis, apalagi setelah kabar yang ditunggu tak kunjung tiba. Suatu sore di dalam bioskop, ponselnya berbunyi. Dan orang di seberang sana memanggilnya untuk ikut psikotes lanjutan. Ternyata ia lulus ke tahap tiga.

Dan di akhir Februari, si desainer optimis untuk resign dari tempatnya bekerja. Di titik ini ia sebenarnya sudah diterima di sebuah advertising agency yang cukup kondang, tapi ditolaknya karena masalah jarak *yang gak sepadan sama gaji hihi*

Tahap tiga dilaluinya dengan otak ngebul tapi cukup optimis. Dan ia ternyata dipanggil lagi ke psikotes tahap dua. Dan setelah ini adalah tahap terakhir: Assestment Center. Di mana para peserta yang udah diseleksi sedemikian rupa dikumpulkan seharian, ‘dipaksa’ debat-presentasi-debat-presentasi. Dan suatu hari ketika si desainer lagi ikut retreat di puncak, ia dikabari kalo ia lulus ke tahap akhir.

Harapan yang tadinya kecil, makin lama makin besar. Ia sudah gak punya pekerjaan tetap (freelance aja) dan ia sudah di tahap akhir. Tapi tahap akhir ini langsung bikin dia sadar kalo dia nggak akan lulus. Dan kalopun lulus, kayaknya dia juga nggak akan berani nerima pekerjaan ini. Otaknya ngebul, hatinya minder ngeliat para kandidat lain. Dan sesuai perikiraan, ia tidak lulus.

Pupus sudah. Antara kecewa tapi juga tahu kalau memang tak layak. Dua bulan terkatung-katung mencari kerja, akhirnya awal Mei mulai bekerja di sebuah advertising agency berusia muda.

Di sini ia bertekad bertahan minimal satu tahun karena ogah dapet predikat kutu loncat. Teman-teman di sana menyenangkan. Pekerjaan awalnya menyenangkan, tapi lama kelamaan mulai membuatnya enggan. Satu dua hal mengecewakan, tapi belum muncul ide resign di kepalanya.

Hingga suatu pagi, ia mendapat e-mail, undangan interview untuk posisi graphic designer di Delamibrands. Si desainer bingung, ngerasa nggak pernah ngelamar ke perusahaan ini. Jangankan ngelamar, denger namanya pun nggak pernah. Searching sedikit di Google, ternyata perusahaan ini membawahi brand-brand fashion yang udah dikenal (dan dipakainya) sejak abege. Hmmm.

Ia mulai tertarik.

Tapi ragu… karena komitmennya untuk bertahan satu tahun.

Singkat cerita, ia pergi tes, dan dengan proses yang cepat, ia diterima.

22 November 2010, ia menjadi salah satu graphic designer Delamibrands.

Dan disinilah si desainer – saya – setahun kemudian. Masih bertahan entah sampai kapan.

Dulu… saya suka mikir, apa orang kerja tuh kayak gini-gini aja ya… Sekedar memenuhi kewajiban. Datang pagi sekedar nggak terlambat. Kerja lembur sekedar memenuhi deadline. Masuk kerja tiap hari sekedar supaya bisa terima gaji.

Apalagi waktu rajin denger Rene si Career Coach, saya makin mempertanyakan apa passion saya.

Baru di Delami, saya bisa tahu rasanya kerja dengan passion. Saya nggak bilang tiap hari semangat kerja dengan sepenuh hati. Tapi saya jadi tahu gimana rasanya semangat ngajuin ide-ide baru, bukan cuma supaya dapet gaji, tapi karena saya peduli. Bukan berarti juga saya selalu hepi. Tapi saya jadi tahu gimana rasanya rela stress supaya bisa menghasilkan yang terbaik.

Saya nggak bilang ini passion saya. Somehow saya tahu bukan ini passion saya.

Tapi rasanya banyak hal-hal yang bikin saya passionate waktu kerja di perusahaan ini. Entah industrinya yang fashion retail, produk-produk fashion yang memanjakan mata, brand yang membuat saya bangga, atau ruang yang luas untuk memberi kontribusi. Rasanya gabungan semuanya.

Tapi salah satu yang punya andil besar ya boss saya.

Boss saya, macam tokoh antagonis di kantor. Tapi dia orang yang jelas dengan visinya. Dia juga pendidik yang luar biasa buat saya. Dia mementor saya yang buta soal retail, fashion, interior, dan nggak kehilangan kesabaran waktu saya nggak memberi kotribusi terbaik waktu dia memberikan kepercayaan. Pernah dengan pedenya dia bilang dia bisa bikin orang mencintai apa yang dia kerjakan. Dan dia melakukannya ke saya.

Kalau banyak yang nggak suka sama dia, saya nggak heran. Dia seringnya emang terlihat keras dan sulit disenangkan. Tapi dia juga boss yang repot mikirin kalo saya pulang malam, dan nungguin serta sibuk bolak-balik tanyain progress kerjaan saya waktu saya harus lembur ngerjain sesuatu yang bukan tanggung jawab dia.

Dia yang kadang bikin saya pengen resign aja. Tapi dia juga yang bikin saya merasa beruntung kerja di sini, sampe berani ngajak temen saya kerja di sini juga. Hihi.

Mmm sepertinya saya akan bertahan lumayan lama di sini ya?

 

 

Happy anniversary to me ­čÖé