Limitless

Katanya sih, manusia hanya bisa mengakses maksimal 20% dari total kemampuan otaknya. Nah, gimana kalo ada pil yang bisa membuat kita mengakses 100% kemampuan otak kita?

Isi film ini kurang lebih seperti itu. Jadi si tokoh utama, Edie Morra, adalah seorang penulis yang seharusnya hidupnya baik-baik saja. Dia punya kontrak untuk nulis sebuah buku, dia pernah cerai, tapi udah punya pacar tetap. Tapi nyatanya nggak begitu. Dia kesulitan menuangkan isi kepalanya dalam kata-kata, jadinya bukunya nggak maju-maju. Dia hidup nggak teratur, nggak mapan, dan akhirnya…. bisa ditebak, ditinggalin pacarnya.

Dalam kondisi desperado kaya gitu, dia ketemu Vernon, mantan adik iparnya. Vernon terkenal sebagi seorang drug dealer, dan dia tawarin sebuah pil (sebagai sample) yang bisa membuat Edie mengakses 100% kemampuan otaknya. Edie sempet takut juga ya cobainnya, tapi dia pikir apa ruginya, toh hidupnya udah ancur berantakan. Dan ternyata… dalam 30 detik, dia jadi seperti orang yang berbeda. Dia jadi cinta kerapihan, dia jadi bisa mengakses memori masa lalunya di saat-saat yang dibutuhkan, dan dia menyelesaikan sebagian besar bukunya dalam semalam.

Esok paginya, efek pil tersebut habis, dia kembali jadi Edie yang dulu. Setelah ngalamin segala keuntungan pil itu, dia jadi pengen lagi dong. Nah jadilah dia nyari lagi si Vernon. Ada hal tak terduga di sana, tapi akhirnya dia berhasil mendapatkan pil ajaib lagi. Singkat cerita, dengan bantuan pil tersebut, dia jadi orang super sukses, banyak uang, dan mendapatkan kembali pacarnya dalam waktu singkat. Seperti bisa ditebak lanjutannya, muncul banyak efek negatif yang dibawa pil itu dalam kehidupan Edie.

Efek negatif macam apa?
Berhasilkah Edie mengatasinya?
Happy ending atau sad ending atau gantung?

Nonton sendiri ya, nggak mau jadi spoiler.

Yah, yang jelas, ide dan trailer film ini menarik banget. Dari pertama saya liat, udah niat banget mau nonton ini. Setelah menunggu sekiat lama, diputer juga di Indonesia. Moment-nya pun pas, pas lagi nggak ada film bagus yang masuk, jadinya dia macam satu-satunya film bagus saat itu yang belum saya tonton. Haha

Awalnya, film lumayan menarik, tapi kok saya kecewa sama endingnya ya? Rasanya langsung pop-up dalam pikiran saya: “Yah, gitu aja?”

Kan dengan genre film kayak gini, saya berharap ending-nya bakal keren dan bikin saya mikirin dan berimajinasi bahkan setelah film-nya kelar. Yah, macam Inception atau Source Code gitu deh. Tapi ternyata endingnya sangat ‘clear’. Semua konflik seakan selesai begitu aja macam fairy tale. Saya sampe mikir, apa saya yg salah tangkep endingnya ya?

GIG: Tontonan yang overall lumayan lah sebagai tontonan di tengah padang yang gersang film bagus tapi dipenuhi pocong dan kuntilanak ini. Hehe

Advertisements

2 thoughts on “Limitless

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s