Hatiku Hilang!

Hari itu hari istimewa sekaligus menyedihkan. Tunanganku menghampiriku di hari perpisahan kami. Ya, kami harus berpisah hari ini, aku harus pergi ke negeri yang jauh, jauh dari rumah yang telah kami rancangkan sebagai rumah masa depan kami berdua. Aku sedih dan takut, aku tidak rela berpisah dengan kekasihku, tapi kami berjanji akan bertemu kembali. Dan pada saat itu aku akan menjadi pengantinnya.

Supaya aku tetap mengingatnya dan tetap mengingat janji kami, ia memberiku suatu benda yang sangat berharga, sebuah hati.

Sejujurnya, aku tidak mengerti mengapa ia menyebutnya berharga. Benda itu tidak berkilau seindah permata dan juga tidak sehalus sutra. Benda itu kelihatan lembek, rapuh, biasa saja, namun terlindungi oleh kain putih miliknya. Ia bilang aku boleh menggunakannya sesuai kebutuhanku di negeri asing nanti tapi aku harus selalu menjaganya. Aku tidak mengerti, tapi karena kekasihku bilang begitu, aku percaya saja.

Akupun pergi ke negeri yang jauh, yang sungguh membuatku merasa asing dan sendirian. Aku tidak punya kawan apalagi sahabat. Aku merasa rakyat negeri ini berbeda dan aku tahu mereka juga merasa aku berbeda, bahkan sepertinya mereka membenciku. Aku sedih dan kesepian. Hanya hati hadiah dari kekasihku yang selalu membuatku terhibur, membuatku teringat akan negeri asalku dan tentunya kekasihku.

satu tahun…dua tahun… tiga tahun…
Lama-kelamaan aku semakin menyesuaikan diri dengan rakyat di negeri asing ini. Ternyata mereka tidak seburuk yang aku sangka.
Anehnya, ketika aku mengingat kekasihku, ia malah terasa semakin jauh. Tapi…ya sudah, apa mau dikata. Waktu bertemu kami toh masih lama. Aku harus pandai-pandai menyesuaikan diri di negeri yang baru ini.

empat tahun…lima tahun…enam tahun…
Aku memiliki banyak kawan dan sahabat. Aku semakin merasa aku tidak berbeda dengan mereka. Aku merasa makin nyaman dan hampir tidak ingin pulang. Aku ingat kekasihku, aku ingat janji pernikahan kami, tapi aku hampir tidak peduli. Aku tidak yakin lagi kami akan bisa bertemu lagi. Sudah terlalu lama dan ternyata negeri asing ini cukup menyenangkan juga.

Lalu tiba-tiba hari itu datang. Kekasihku datang!

Ia datang dengan senyum, menghampiriku.
“Pengantinku, aku datang menjemputmu.”
Aku terpaku, tidak menyangka ia datang secepat ini. Dan dalam sekejap mata, aku teringat sesuatu. HATIKU!

Ya ampun! Sudah lewat begitu lama! Di mana kutaruh hatiku? Kekasihku pasti akan segera menanyakan keberadaan benda berharga itu.
Ah, kekasihku tak boleh sampai tahu. Aku harus menemukannya terlebih dahulu.
‘Kekasihku, akhirnya kau datang menjemputku. Tapi ada sesuatu yang harus aku urus terlebih dahulu sebelum pulang bersamamu.’
Aku segera berlari menjauhi kekasihku.

Di mana hatiku? Aku betul-betul lupa.
Mungkin di bawah ranjangku yang nyaman? Ya, aku pernah menyimpannya di sana karena sangat nyaman, kukira pasti aman. Mmm tidak ada.
Mungkin di dalam folder-folder penuh data di laptopku? Aku pernah menaruh hatiku dalam data-data pekerjaan kantorku. Kupikir itu investasi yang sepadan. Mmm tidak ada.
Mungkin di dalam buaian orangtuaku di negeri asing ini. Mereka selalu melindungiku, jadi sempat kuserahkan hatiku pada mereka. Mmm tidak ada.
Mungkin ada di dalam pelukan pacar baruku? (Kekasihku memang menganjurkan aku punya pendamping sepadan selama ada di negeri asing) Pacarku selalu menjaga dan menyayangiku (kupikir begitu). Mmm tidak ada.

Ah ini dia! Akhirnya kutemukan hatiku di pojok rumahku. Penuh debu, tapi kain putih yang melindunginya masih utuh. Aku membukanya.
Di situ ada hati yang obesitas karena terlalu nyaman di tempat tidur dan sofa yang empuk. Hati itu juga penuh virus komputer dan ambisi merajalela dari pekerjaanku. Hati itu terluka oleh tuntutan orangtua yang kurang masuk akal. Juga kotor oleh hasrat seksual pacar yang tidak mengerti betapa berharganya hati itu.

Aku berusaha memperbaikinya tapi tidak bisa dan ternyata kekasihku terlanjur melihat perbuatanku.

Ia menitikkan air mata. Aku menitikkan air mata.
Bagaimana mungkin benda yang begitu berharga bagi kekasihku, kuserahkan pada tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab dan tidak mengerti harganya?

Tapi kekasihku mengambil hatiku dan memperbaikinya dengan penuh kelembutan hingga menjadi seperti baru, sambil mengingatkanku:
‘Hati ini seharusnya jadi milikku, kekasihku’

Maafkan aku, kekasihku.

Sebuah ilustrasi tentang hidup bersama sang Kekasih jiwa yang sejati

Originally posted on October 22th, 2008, di sini
Advertisements

8 thoughts on “Hatiku Hilang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s