Limitless

Katanya sih, manusia hanya bisa mengakses maksimal 20% dari total kemampuan otaknya. Nah, gimana kalo ada pil yang bisa membuat kita mengakses 100% kemampuan otak kita?

Isi film ini kurang lebih seperti itu. Jadi si tokoh utama, Edie Morra, adalah seorang penulis yang seharusnya hidupnya baik-baik saja. Dia punya kontrak untuk nulis sebuah buku, dia pernah cerai, tapi udah punya pacar tetap. Tapi nyatanya nggak begitu. Dia kesulitan menuangkan isi kepalanya dalam kata-kata, jadinya bukunya nggak maju-maju. Dia hidup nggak teratur, nggak mapan, dan akhirnya…. bisa ditebak, ditinggalin pacarnya.

Dalam kondisi desperado kaya gitu, dia ketemu Vernon, mantan adik iparnya. Vernon terkenal sebagi seorang drug dealer, dan dia tawarin sebuah pil (sebagai sample) yang bisa membuat Edie mengakses 100% kemampuan otaknya. Edie sempet takut juga ya cobainnya, tapi dia pikir apa ruginya, toh hidupnya udah ancur berantakan. Dan ternyata… dalam 30 detik, dia jadi seperti orang yang berbeda. Dia jadi cinta kerapihan, dia jadi bisa mengakses memori masa lalunya di saat-saat yang dibutuhkan, dan dia menyelesaikan sebagian besar bukunya dalam semalam.

Esok paginya, efek pil tersebut habis, dia kembali jadi Edie yang dulu. Setelah ngalamin segala keuntungan pil itu, dia jadi pengen lagi dong. Nah jadilah dia nyari lagi si Vernon. Ada hal tak terduga di sana, tapi akhirnya dia berhasil mendapatkan pil ajaib lagi. Singkat cerita, dengan bantuan pil tersebut, dia jadi orang super sukses, banyak uang, dan mendapatkan kembali pacarnya dalam waktu singkat. Seperti bisa ditebak lanjutannya, muncul banyak efek negatif yang dibawa pil itu dalam kehidupan Edie.

Efek negatif macam apa?
Berhasilkah Edie mengatasinya?
Happy ending atau sad ending atau gantung?

Nonton sendiri ya, nggak mau jadi spoiler.

Yah, yang jelas, ide dan trailer film ini menarik banget. Dari pertama saya liat, udah niat banget mau nonton ini. Setelah menunggu sekiat lama, diputer juga di Indonesia. Moment-nya pun pas, pas lagi nggak ada film bagus yang masuk, jadinya dia macam satu-satunya film bagus saat itu yang belum saya tonton. Haha

Awalnya, film lumayan menarik, tapi kok saya kecewa sama endingnya ya? Rasanya langsung pop-up dalam pikiran saya: “Yah, gitu aja?”

Kan dengan genre film kayak gini, saya berharap ending-nya bakal keren dan bikin saya mikirin dan berimajinasi bahkan setelah film-nya kelar. Yah, macam Inception atau Source Code gitu deh. Tapi ternyata endingnya sangat ‘clear’. Semua konflik seakan selesai begitu aja macam fairy tale. Saya sampe mikir, apa saya yg salah tangkep endingnya ya?

GIG: Tontonan yang overall lumayan lah sebagai tontonan di tengah padang yang gersang film bagus tapi dipenuhi pocong dan kuntilanak ini. Hehe

Hatiku Hilang!

Hari itu hari istimewa sekaligus menyedihkan. Tunanganku menghampiriku di hari perpisahan kami. Ya, kami harus berpisah hari ini, aku harus pergi ke negeri yang jauh, jauh dari rumah yang telah kami rancangkan sebagai rumah masa depan kami berdua. Aku sedih dan takut, aku tidak rela berpisah dengan kekasihku, tapi kami berjanji akan bertemu kembali. Dan pada saat itu aku akan menjadi pengantinnya.

Supaya aku tetap mengingatnya dan tetap mengingat janji kami, ia memberiku suatu benda yang sangat berharga, sebuah hati.

Sejujurnya, aku tidak mengerti mengapa ia menyebutnya berharga. Benda itu tidak berkilau seindah permata dan juga tidak sehalus sutra. Benda itu kelihatan lembek, rapuh, biasa saja, namun terlindungi oleh kain putih miliknya. Ia bilang aku boleh menggunakannya sesuai kebutuhanku di negeri asing nanti tapi aku harus selalu menjaganya. Aku tidak mengerti, tapi karena kekasihku bilang begitu, aku percaya saja.

Akupun pergi ke negeri yang jauh, yang sungguh membuatku merasa asing dan sendirian. Aku tidak punya kawan apalagi sahabat. Aku merasa rakyat negeri ini berbeda dan aku tahu mereka juga merasa aku berbeda, bahkan sepertinya mereka membenciku. Aku sedih dan kesepian. Hanya hati hadiah dari kekasihku yang selalu membuatku terhibur, membuatku teringat akan negeri asalku dan tentunya kekasihku.

satu tahun…dua tahun… tiga tahun…
Lama-kelamaan aku semakin menyesuaikan diri dengan rakyat di negeri asing ini. Ternyata mereka tidak seburuk yang aku sangka.
Anehnya, ketika aku mengingat kekasihku, ia malah terasa semakin jauh. Tapi…ya sudah, apa mau dikata. Waktu bertemu kami toh masih lama. Aku harus pandai-pandai menyesuaikan diri di negeri yang baru ini.

empat tahun…lima tahun…enam tahun…
Aku memiliki banyak kawan dan sahabat. Aku semakin merasa aku tidak berbeda dengan mereka. Aku merasa makin nyaman dan hampir tidak ingin pulang. Aku ingat kekasihku, aku ingat janji pernikahan kami, tapi aku hampir tidak peduli. Aku tidak yakin lagi kami akan bisa bertemu lagi. Sudah terlalu lama dan ternyata negeri asing ini cukup menyenangkan juga.

Lalu tiba-tiba hari itu datang. Kekasihku datang!

Ia datang dengan senyum, menghampiriku.
“Pengantinku, aku datang menjemputmu.”
Aku terpaku, tidak menyangka ia datang secepat ini. Dan dalam sekejap mata, aku teringat sesuatu. HATIKU!

Ya ampun! Sudah lewat begitu lama! Di mana kutaruh hatiku? Kekasihku pasti akan segera menanyakan keberadaan benda berharga itu.
Ah, kekasihku tak boleh sampai tahu. Aku harus menemukannya terlebih dahulu.
‘Kekasihku, akhirnya kau datang menjemputku. Tapi ada sesuatu yang harus aku urus terlebih dahulu sebelum pulang bersamamu.’
Aku segera berlari menjauhi kekasihku.

Di mana hatiku? Aku betul-betul lupa.
Mungkin di bawah ranjangku yang nyaman? Ya, aku pernah menyimpannya di sana karena sangat nyaman, kukira pasti aman. Mmm tidak ada.
Mungkin di dalam folder-folder penuh data di laptopku? Aku pernah menaruh hatiku dalam data-data pekerjaan kantorku. Kupikir itu investasi yang sepadan. Mmm tidak ada.
Mungkin di dalam buaian orangtuaku di negeri asing ini. Mereka selalu melindungiku, jadi sempat kuserahkan hatiku pada mereka. Mmm tidak ada.
Mungkin ada di dalam pelukan pacar baruku? (Kekasihku memang menganjurkan aku punya pendamping sepadan selama ada di negeri asing) Pacarku selalu menjaga dan menyayangiku (kupikir begitu). Mmm tidak ada.

Ah ini dia! Akhirnya kutemukan hatiku di pojok rumahku. Penuh debu, tapi kain putih yang melindunginya masih utuh. Aku membukanya.
Di situ ada hati yang obesitas karena terlalu nyaman di tempat tidur dan sofa yang empuk. Hati itu juga penuh virus komputer dan ambisi merajalela dari pekerjaanku. Hati itu terluka oleh tuntutan orangtua yang kurang masuk akal. Juga kotor oleh hasrat seksual pacar yang tidak mengerti betapa berharganya hati itu.

Aku berusaha memperbaikinya tapi tidak bisa dan ternyata kekasihku terlanjur melihat perbuatanku.

Ia menitikkan air mata. Aku menitikkan air mata.
Bagaimana mungkin benda yang begitu berharga bagi kekasihku, kuserahkan pada tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab dan tidak mengerti harganya?

Tapi kekasihku mengambil hatiku dan memperbaikinya dengan penuh kelembutan hingga menjadi seperti baru, sambil mengingatkanku:
‘Hati ini seharusnya jadi milikku, kekasihku’

Maafkan aku, kekasihku.

Sebuah ilustrasi tentang hidup bersama sang Kekasih jiwa yang sejati

Originally posted on October 22th, 2008, di sini

Do Try This (but not) At Home

Jadi, tanggal 17 kemarin, yang merah di kalender itu, saya dan pacar nggak jadi ke Melrimba karena satu dan lain hal. Tapi karena pagi itu cuaca cerah banget, ditambah saya kalo nganggur di hari libur bawaannya bisa bad mood seharian, saya memutuskan untuk pergi sendirian, me time. Saya pengen ke suatu tempat yang nyaman buat duduk lama sampai sore buat baca buku. Kandidat saya tadinya ke tamannya Cetral Park, tapi bayanginnya kok gerah, panas, dan pasti rame ya? Kepikiran juga ke Serpong atau Karawaci, tapi kok ya nggak menantang ya…itu kan daerah ‘kekuasaan’ saya pas jaman kuliah. Sempet juga muncul ide main ke Outbondholic, Ancol, tapi dengkul saya lagi bonyok gara-gara jatoh pas di parkiran Taman Ismail Marzuki hari Minggu kemaren, mana mungkin kuat outbound?

Lalu saya terpikir…. Kebun Raya Bogor!

Adem, banyak pohon, ideal buat duduk-duduk lama dan baca buku, nggak mahal, ada cafenya juga, dan pastinya banyak tantangan secara saya belum pernah ke luar kota (kecuali Karawaci-Serpong) SENDIRIAN.

Saya sepertinya emang butuh dikasih ‘tantangan’ secara berkala buat boosting mood. Saya kan nyetir sendirian… not really sure rute nya bener atau nggak. Dan kegiatan nyetir itu aja udah berhasil bikin saya lebih hepi. Saya merasa menemukan kepercayaan diri yang selama ini agak ngumpet di bawah sana karena mungkin terlalu sering menggantungkan diri di balik perlindungan si pacar selama 4 tahun. Agak sulit jelasin perasaan saya kemaren itu, tapi kalian pasti ngerti dan pernah ngalamin kan? Ketika ada kombinasi antara ketegangan dan excitement, jantung mulai berdegup lebih kencang, adrenalin mengalir, trus jadi lebih hepi deh. Hahahahahahahahaha

Saya berangkat dari rumah pk 11.00 dan sampai Bogor hampir pk 12.30. Saya nggak ngerti Kebun Raya masuknya lewat mana, jadi bermodalkan ‘tanya orang’ akhirnya saya nyampe dan parkir di tepi jalan, seberang pintu 2 Kebun Raya. Untung parkiran nggak terlalu rame, soalnya saya kan nggak bisa parkir paralel. Hehe. Dengan Rp 8000,- saya bisa parkir seharian di situ.

Harga tiket masuk Kebun Raya Bogor Rp 9.500,- saja. Agak maksa nggak sih angkanya? Kenapa nggak Rp 10.000,- aja? Yah begitulah saya masuk, dan bengong beberapa menit di depan peta. Maklum, saya terakhir ke sana sepertinya waktu SMP waktu karyawisata sekolah. Dan saya memutuskan, tujuan saya adalah: Museum Zoologi, De Daunan Cafe, dan Ocrhid House. Saya udah melihat posisi ketiga tempat tujuan itu di peta, dan menentukan rute paling efektif untuk melewati ketiganya.

Yah jauh dari perkiraan saya… ternyata Kebun Raya itu buessaaaaar sekaliiiii dan jarak antara ketiga tempat itu juga jauuuuh sekali. Dan saya parkir di pintu 2, yang berarti tepat berseberangan dengan De Daunan Cafe, yang tadinya saya rencanakan jadi tempat singgah terakhir untuk lunch dan bersantai ria sebelum pulang. Alhasil saya jalan kaki sampe Museum Zoologi aja udah makan waktu lama.

Saya seneng di sana, bisa liat jenis-jenis hewan yang hampir nggak mungkin saya temui sehari-hari, walaupun dalam bentuk model dan binatang yang diawetkan. Amazed banget loh ngeliat betapa rumit, unik, sekaligus indahnya Tuhan ciptain macem-macem binatang. Dari serangga yang kecil-kecil, yang satu jenis aja bisa ada muacem-muacem bentuk, sampe yang gede-gede kaya badak dan gajah. Bentuk-bentuknya bener-bener variatif. Ada yang indah banget kayak kupu-kupu malam (saya baru tahu loh ada serangga yang namanya emang kupu-kupu malam) sampe yang ngeliatnya bikin geli sendiri, kayak ular dan kelabang. Hiiiy. Dan banyak banget yang unik…. ada burung yang bersayap tapi nggak bisa terbang, tapi ada juga tupai yang bersayap dan bisa melayang walaupun nggak terbang beneran. Ada hewan yang dikasih bulu lebat banget padahal aslinya badannya kecil, ada yang ‘cuma’ dikasih kulit yang agak bersisik. Ada hewan yang melindungi diri dengan bisa, ada yang dengan menggembungkan badan, ada juga yang dengan jarum.

Sebenernya, kita semua ‘kenal’ kan hewan-hewan ini? Tapi seberapa sering kita amazed sama penciptaan mereka? Kalo saya sih nggak terlalu sering secara saya nggak terlalu suka hewan. Nah, kesempatan ke tempat kaya gini, buka mata saya lagi tentang keberagaman dan keunikan mereka, karena semuanya seolah dijejer di depan mata saya.

O ya, satu pemandangan ‘manis’ lagi adalah seorang ibu muda yang dateng sama anak perempuannya (sekitar 7-8 tahun) dan si ibu aktif ngejelasin anaknya tentang hewan-hewan di situ. Awwwwww. Seneng ngeliatnya… Nanti kalo udah punya anak, bakal saya kenalin sama museum dari kecil ah. Moga-moga dia juga suka sama museum kayak mamanya. Hehe

Keluar dari Museum Zoologi udah jam 13.30-an, perut mulai complain, dan saya pun menuju ke De Daunan yang ternyata jauuuuuuuh boooook. Ditambah dengkul bonyok yang bikin jalan saya jadi lebih lambat gara-gara nahan rasa ‘pedes’nya, baru nyampe di De Daunan menjelang jam 2 siang. Dan woooow ternyata bagus banget ya tempatnya!!!! Maap ya kalo agak norak, maklum… walau udah beberapa kali ke Kebun Raya, saya nggak pernah makan di sana. Biasanya kalo ke sana ya piknik, duduk di tiker, bawa bekal dari rumah :p.

Saya duduk menghadap ke tamannya yang luas. senang rasanya melihat warna hijau daun di mana-mana, plus pemandangan sekelompok anak muda yang (sepertinya) sedang KTB, pasangan yang sedang menanggal, dan anak-anak kecil yang berlari-larian. Sungguh pemandangan makan siang yang indah. Saya order De Daunan Mix Grill dan De Daunan Fruit Punch. Minumannya top markotop! Enaaaak! Makanannya…. mmm bumbunya sih enak tapi dagingnya agak alot-alot. Yah OK-lah…. Trus karena mikir pulangnya bakal macet, saya pesen poffertjes buat take away. Total menghabiskan Rp 78.000,- Lumayan…

Jam 3 sore, saya akhirnya memutuskan nggak ke Orchid House, mengingat perjalanan saya ke tempat parkir bakal jauh dan makan waktu lumayan lama. Jalan santai menuju ke Pintu 2, sambil memandangi pepohonan di sekitar saya, rasanya damai sekali. Lalu saya menyadari Kebun Raya udah mulai sepi dan ini bikin saya rada kuatir. Maklum ya… ngebayangin ‘ilang’ atau diculik di Kebun Raya, bisa-bisa nggak ketemu lagi batang idung saya. Haha. Tapi keren banget loh di sana…. Ada pohon-pohon yang kayanya umurnya udah tuir banget, sampe batangnya superbesar menyerupai bebatuan. Jadi tambah ngerasa Tuhan keren deh…

Dan selesailah petualangan saya hari itu. Untungnya perjalanan pulang juga nggak terlalu macet. Satu setengah jam saja, jam 17.30 saya udah sampe rumah. Sampai rumah… saya hepi… tapi dimarahin Mama gara-gara nekad ke Bogor sendirian!!!! Haha ya udah lah ya, biar umur kepala dua gini, tetep aja di mata dia kan saya anak perempuan bontotnya yang nggak gede-gede.

PS: Jadi apa dong yang harus ‘dicoba’ seperti saya sebutkan di judul? Ya cobalah berpetualang, melihat-lihat hal yang di luar kebiasan, lebih bagus lagi kalo bisa ngeliat ciptaan Tuhan seperti pengalaman saya ini. Makanya, jangan dicoba di rumah ya… soalnya kalo di rumah ya sama aja dooong liatnya itu-itu lagi. Saya percaya, petualangan, keluar dari rutinitas, baik untuk kesehatan fisik dan mental. Dan menikmati ciptaan Tuhan, baik untuk spiritualitas kita. Selamat mencoba!

GIG: kekaguman sama Tuhan karena melihat ciptaan-Nya yang begitu artistik dan beragam, dan tentunya mood yang super hepi di akhir hari 😀

(foto-foto akan saya upload nanti malam kalo udah sampe rumah ya… *sekarang kan colongan blogging di kantor*)

About The Recipient

Nambah satu page baru nih, tengok di kanan atas dan klik About The Recipient… Yah maksudnya ini isinya mah “About Me” gitu.

Kan page satunya yang jelasin tentang blog ini, namanya “About The Gifts” nah biar kompak, yang tentang saya namanya “About The Recipient” dong (recipient of the gifts). Haha.

Yang jelas, waktu saya nulis 20 point tentang saya di sana, saya jadi seperti mengingat-ingat lagi banyaknya ‘hadiah’ dari Tuhan dalam hidup saya. Dua puluh tuh ternyata banyak juga ya, itu bikin saya jadi membuka-buka memori lama yang ternyata lucu-lucu dan membahagiakan.

Cukuplah preview nya… Silahkan disimak, dikomen, dikonfirmasi kalo bener, disanggah kalo salah

😀

Source Code

Saya dan Mas Ben dulu hobby banget ke 21. Dulu, biasanya tiap Rabu kita pasti nonton. Tapi ya sejak film-film blockbuster nggak masuk indo, jadi mulai jarang nonton deh. Sempet nyoba nonton film Thailand, macam Crazy Little Things Called Love kok saya kecewa ya. Padahal film ini banyak banget yang bilang bagus dan rekomen. Tapi pas nonton, saya kecewa. Huks.

Untung ada beberapa film barat yang tetep masuk walaupun bukan Blockbuster. Saya lumayan terhibur dengan Company Men dan Lincoln Lawyer. Kemarin sebenernya kami berencana nonton Breach. Tapi nggak disangka, film itu udah nggak tayang hampir di semua 21, kecuali Plaza Senayan. Jumat malam ke Plaza Senayan? Huh, no, thank you dah. Akhirnya, di antara film-film yang tayang di La Piazza, kita nonton Source Code.

Source Code diawali dengan adegan seorang laki-laki yang terbangun dari tidur singkatnya di kereta. Tapi dia keliatan shock banget dan bingung kenapa dia ada di kereta itu. Di depannya ada seorang perempuan yang ngajak ngobrol dia terus-menerus, seolah kenal dia, padahal dia nggak kenal sama sekali sama perempuan ini. Laki-laki ini kemudian buka dompetnya, ngeliat ID nya, dan namanya di situ kok namanya jadi Sean. Dia ke toilet, dan di kaca pun tubuhnya berubah jadi orang lain. Tambah shock-lah dia. Soalnya, aslinya dia adalah Colter Stevens, seorang pilot helikopter yang lagi tugas di Afghanistan, tapi kok tau-tau dia ada di badan orang lain? Dia langsung sibuk berusaha menjelaskan ke orang-orang kalau itu bukan dia, ketika tiba-tiba kereta meledak.

Setelah ledakan itu…. dia terbangun kembali di tubuhnya yang asli, terikat dalam sebuah kapsul. Di depannya ada sebuah monitor, tersambung ke seorang prajurit wanita, Coleen. Singkat cerita, Coleen menjelaskan, kalo si Colter Stevens sedang dalam tugas memasuki source code. Jadi teorinya gini, ketika seorang manusia baru aja mati, otaknya masih bekerja sebentar dan masih menyimpan memori selama 8 menit sebelum dia mati. Nah seorang profesor menemukan cara untuk ‘mengakses’ memori itu melalui orang lain dengan spesifikasi tertentu yang ‘dimasukkan’ ke dalam memori orang yang udah mati itu. Memori 8 menit itulah yang disebut souce code.

Jadi menurut mereka, Colter Stevens udah 2 bulan ‘diambil’ dari kesatuannya di Afghanistan untuk menjalankan tugas memasuki source code karena hanya dialah orang yang memenuhi spesifikasi tertentu untuk bisa melakukan tugas tersebut. Kasusnya sekarang adalah, pagi itu ada sebuah bom yang meledakkan sebuah kereta penumpang yang sedang menuju Chicago, dan sang teroris mengancam akan melakukan serangan kedua di downtown Chicago dengan menggunakan sampah nuklir, yang mana bisa membunuh jutaan orang.

Segeralah para aparat bersibuk-sibuk mencari identitas sang teroris. Caranya ya dengan nyuruh si Colter Stevens masuk ke souce code-nya Sean, salah satu korban di kereta tersebut. dan selama 8 menit, dia diperintahkan bisa menemukan sang teroris, supaya serangan kedua bisa dicegah. Karena hanya 8 menit, waktu yang terlalu singkat untuk melakukan suatu misi, Stevens dikirim berkali-kali ke source code, dan harus berulang-ulang mengalami adegan yang sama, dan harus berulang-ulang juga meledak karena bom. Hayooo gimana caranya coba si Stevens bisa menemukan pelaku pemboman di antara sekian banyak penumpang? Ditambah lagi, dalam proses itu, dia juga menemukan kenyataan yang membingungkan tentang dirinya.

Gimana penyelesaiannya? Yang jelas, ada satu indikator untuk mengukur film bagus atau nggak versi saya. Film yang bagus versi saya, biasanya akan nempel di kepala saya selama beberapa hari. Sedangkan yang jelek bakal ilang dari kepala saya begitu melangkah keluar studio. Dan… Source Code berhasil tuh bikin saya berimajinasi macem-macem, bahkan saya pikirin lagi pas sampe rumah. haha. Yah… film-film bikin mumet ala-ala Inception deh. Mungkin nggak sekeren inception, tapi film ini cukup recommended 🙂

GIG: Film yang bikin saya berimajinasi ke alam lain. Hehe

Reasons to Celebrate This Weekend

1. New Colorbox

Jumat termasuk weekend kan ya? Hehe. Ya, hari ini adalah opening Colorbox dengan konsep baru di MM Bekasi. Kurang lebih 3 bulan, tim kami bikin rancangan konsep baru ini. Mulai dari interiornya, logo, graphic, VM, semuanya baru. Segala keribetan akhirnya bisa dilihat eksekusinya. Kemaren sih saya udah ke sana. Tentunya banyak yang nggak sesuai harapan dan perkiraan lah ya. Tapi nggak keliatan kok. Tokonya memang keliatan lebih bagus dan cerah. Eh tapi kan ini opini saya yang termasuk behind the scene-nya. Gimana kalo coba aja ke sana langsung, dan buktikan sendiri *sekalian promosi*. Tapi beneran kok, look-nya lebih asik. Buktinya, kemaren pas kita lagi beres-beres, rolling door cuma dibuka setengah, udah banyak banget orang-orang yang nyelonong masuk, sampe harus “diusir-usirin”. Dari plan mau buka hari ini, jadi maju buka kemaren jam 8 malem. Tapi karena orang yang masuk udah terlalu banyak, akhirnya jam 7-an udah mulai transaksi.

2. Birthdays

Ada 2 orang penting yang ulangtahun di weekend ini. Yang pertama, besok, papa saya ulangtahun. Karena jatuhnya di hari Sabtu, kita udah nge-plan mau makan siang bareng di rumah. Beberapa tante diundang juga. Saya nggak terlalu suka pesta, tapi saya suka banget acara di mana keluarga kami bisa ngumpul di rumah (dibanding di restoran) soalnya jadi lebih santai, dan ponakan-ponakan saya bisa lebih bebas main.

Yang kedua sahabat saya, si ibu ratu kucing yang supersibuk. Ulangtahunnya pas hari Minggu. Nggak ada rencana apa-apa sih, saya cuma nyiapin hal kecil buat dia, tapi somehow seneng aja dia ulangtahun? *aneh ya?*

4. Carnival

Kurang lebih 17 tahun tinggal di Kelapa Gading, tahun ini adalah kedelapan kalinya JFFF (Jakarta Fashion & Food Festival) diadakan. Berarti udah 7 carnival yang saya lewatkan, entah karena lagi di Karawaci, bentrok sama acara lain, pokoknya ada-ada aja. Tapi tahun ini yang ke-8, besok ada carnival dan saya udah niat mau liat. Pas banget, taun ini saya juga nggak ada kegiatan apa-apa, jadi setelah acara keluarga di rumah, sorenya saya bisa jalan kaki bareng si pacar ke jalur carnival-nya.

5. Rora

Elizabeth Aurora Mentari. Panggilannya Rora. Dia adalah putri pertama dari Icha, salah satu Givers. Dari sehari sebelum dia lahir, Givers udah heboh banget, masing-masing merasa dapet ponakan baru. Nah, rencananya, hari Minggu setelah pulang dari gereja, saya mau ngeliat si Rora untuk pertama kalinya. Yeay!

6. Matah Ati

Ada yang tahu tentang “Matah Ati”? Matah Ati adalah sebuah pertunjukan sendratari Solo karya anak bangsa. Saya pertama kali denger tentang Matah Ati di Hardrock FM tahun lalu. Waktu itu mereka meng-interview Jay Subiakto yang menjadi penata artistiknya. Saya udah napsu banget tuh dengernya, secara saya selalu penasaran sama seni tradisional, dan ini ditangani seorang Jay Subiakto, jadi kebayangnya bakal kombinasi tradisional dan modern. Udah gitu ngedenger segala persiapannya, gimana mereka sampai pesan panggungnya spesial karena terbuat dari metal dan dibuat miring, supaya penonton paling belakang pun bisa ngeliat keseluruhan pertunjukan di atas panggung secara jelas, gimana mereka mempersiapkan sekian banyak seniman…. Semua itu bikin saya bener-bener pengen liat, sampai saya sadar, ternyata mereka menampilkannya di ESPLANADE! Singapura, saudara-saudara. Patah hati deh saya…

Sampai sekitar minggu lalu, Bitha SMS saya, kasih info bahwa ada sendratari Solo berjudul Matahati di TIM. Denger judul itu, saya berasa pernah denger, dan begitu saya ngeh itu adalah Matah Ati yang saya dulu pingin banget nonton, saya langsung semangat! Yey! Matah Ati, here I come! *gak sabar hari Minggu*

7. Boss Cuti

Perlu penjelasan lebih lanjut tentang ini? Ya, boss saya bakal cuti untuk ke Malaysia (ada kantor di sana). Dia berangkat Sabtu ini, dan baru akan balik tanggal 24 Mei 2011. Saya sih tetep ada kerjaan, tapi gimanapun, kalo nggak ada boss, saya kan bisa lebih sering blogging *loh*. Staff kurang ajar ya… padahal boss saya ini baik loh. Kalo saya pulang malem, pasti dia yang repot mikirin saya pulang naik apa. Haha. “Maap, boss. Jangan lupa oleh-oleh ya!” *oops*

8. Tanggal 17

Ayooo semua lihat kalender! Tanggal 17 ada apa hayooo? Kalo yang udah kerja, pasti tahu deh kalo tanggal 17 tuh TANGGAL MERAH! Yeay! Tanggal merah di tengah minggu selalu sukses membuat mood hari Minggu saya lebih ceria. Walaupun Senin-nya jadi kejepit, tapi toh nggak ada boss juga. Jadi nggak akan terlalu terasa. Hehe

Nah tanggal 17 ini lebih istimewa, soalnya saya udah ada plan sama si pacar. Tumben-tumbenan 2 minggu lalu, dia ngajak saya ke Melrimba. Tahu gak? Resto, cafe, tempat wisata yang ada di Puncak Pass. Di sana ada taman yang guede… ada resto nya juga, ada outbound kecil, dan kami emang suka banget tempat ini. Pernah beberapa kali ke sini bareng keluarga saya atau keluarga dia. Nah ini tumben-tumbenan dia ngajak saya berdua doang. Hihiy *mendadak romatis ye, car?*

Eh…tau deh dia inget gak ya plan ini? jangan-jangan udah lupa.

Yeay! TGIF… soalnya berarti wiken udah di depan mata! 😀

GIG: Berbagai rencana acara yang super-fun bersama orang-orang yang saya kasihi, betul-betul berkat luar biasa dari Dia.

A to Z of Cittasu

Berawal dari posting saya yang lalu tentang Friendster, beberapa teman mulai ‘terinspirasi’ juga untuk buka account Friendster masing-masing dan bernostalgia melalui testi-testi yang pernah mereka terima, termasuk si Cittasu ini. Dan setelah dia ber-mellow-mellow membaca posting saya di blog ini tentang testi dia, dia pun mencari-cari testi dari saya buat dia di jaman baheula itu.

Dan…. dia tidak menemukannya…..

Ternyata…. saya nggak pernah kasih dia testi….

Padahal udah 6 tahun kami jadi ‘semacam soulmates’ dan dia beberapa kali kasih saya testi…

Duh jadi enak… *loh*

Dan jadilah, sebagai penebusan rasa bersalah, saya membuat posting ini khusus untuk dia

Tanpa malu, minta foto sama si Jambul, maskot majalah Concept

Awalnya kami kenal karena kami ‘ditakdirkan’ duduk dalam satu kelas di jurusan DKV angkatan 2005, UPH.

Baru pertama ketemu, yang pertama ditanyakannya adalah: “Lo… udah daftar ulang belum?”

Cemas banget saya dengernya, secara setau saya, daftar ulang itu paling lambat bisa dilakukan sehari sebelum masa Ospek. Which is… seminggu yang lalu.

Dongdong juga nih anak —> pikir saya. *ampun, Git!* Kok nyantai banget,dan dia bener-bener tanya dengan santai….

Enggak mungkin rasanya saya bisa deket sama dia. Itu yang dulu saya pikir. Bukan soal ke’dongdong’an nya hahahahahaha, tapi soal ke’santai’an dan ke’datar’an-nya. Bisa-bisa dia nggak betah sama saya yang galak dan meledak-ledak. Haha. Eh tapi ternyata, entah bagaimana saya juga lupa, kami malah jadi deket banget.

Ferry, Gamal, Enike, Devi, Ina, Kent, Hendra, lalu Glory, Gitta, dan saya, akhirnya hampir tak terpisahkan. Kami hampir selalu sekelas (gimana enggak, wong ngisi FRRS nya contek-contekan) dan kami sering ‘main’ bareng.

Gitta dan Glory-lah yang paling dekat sampai sekarang. Ke mana-mana kita hampir selalu bertiga. Glory yang galak, Dina yang kepo, dan  Gitta yang… mmm… apa ya? baik hati? nrimo? absurd? yah iya kaya gitu deh dia.

Hatinya yang sangat baik itulah, yang seringkali membuatnya rela mengantar-jemput kami dari rumah ke kampus. Ya, dia si Gitta, wanita Tangerang yang nyetirnya nggak kalah sama sopir angkot 😀 Bahkan sampai sekarang, kalo lagi ketemuan, dia lah yang seringkali jadi sopirnya.

Ide-idenya seringkali out of the box, tapi brilliant banget. Contohnya nama cittasu itu, dia sendiri yang bikin. Singkatan dari Cecilia Brigitta Sutardjadi. Ciamik kan? Macam brand aja.

Jangan salah… walaupun di awal saya bilang itu datar, santai, dan cenderung lelet kali ya (lo ngaku kan git? jadi gw bukan lagi nyela lo! :p), tapi pada akhirnya, dia ini yang berkembangnya paling pesat. Di pertengahan hingga akhir masa kuliah, dia jadi salah satu orang yang punya peranan penting di gereja dan organisasi kampusnya. Dia juga yang sering mengutarakan filosofi-filosofi uniknya yang ‘dalem punya’. Padahal pertama kenal, dia cuek banget gitu. Keren ya pekerjaan Tuhan!

Kalo lagi ke daerah Tangerang, dan makan di daerah sana, hampir pasti ketemu kecap manis atau kecap asin merek SH. Ya jelaslah, ini emang brand kecap paling mantap daerah benteng, dibuat dengan resep turun temurun dinasti Sutardjadi, apalagi kalo bukan dinasti tempat si Gitta lahir dan hidup hingga hari ini. Haha

Lulus dari UPH, dia sempet bingung-bingung mau kerja atau kuliah lagi. Tapi akhirnya dia milih ambil MBA (eh bener kan git?) ke Melbourne pula! Loncatan yang sangat besar nih buat dia, soalnya dia loh yang dari dulu ngotot nggak pengen sekolah ke luar negeri (saya dan Glory malah pengeeeeen banget sekolah ke luar negeri, tapi nggak ada kesempatannya. Sedangkan dia dulu disuruh, tapi dia ngotot nggak mau). Dan mendadak dia jadi wanita yang sangat dewasa dan mandiri.

Menu ‘bersejarah’ buat saya, Gitta, dan Glory adalah waffle A&W. Maklum waktu itu kita adalah mahasiswa-mahasiswa pelit yang harus berhemat dan bertubuh agak subur sehingga takut gemuk. Jadinya, kami selalu makan satu porsi dibagi tiga! Biasanya kami makan ini untuk merayakan selesainya masa ujian, atau untuk menghibur diri kalo kuliah lagi sangat stressful.

Nomor 37 konon adalah nomor yang sangat sering muncul di kehidupan dia. Saya sih nggak inget apa aja. Tapi NIM nya emang 02320050037 dan nomor HP nya juga mengandung angka 37. Kebetulan? ada artinya? Nggak tau sih, tapi dia sampe pengen nyari pin yang berisi angka 37.

Orang yang seringkali saya cari kalo mau cerita hal yang menyek-menyek, unyu, atau memalukan ya dia ini. Kenapa? soalnya dengan ke-santai-an nya, dia suka lupa sama cerita saya *aman deh…fiuuuh*. Sifatnya itu juga bikin dia nggak pernah judging. Benar-benar pendengar yang baik. 

Pensil, bolpen, dokter, adalah kode-kode rahasia di antara kami (dan Glory). Kode rahasia untuk apa? Ada yang bisa tebak? Untuk COWO! ya itu adalah kode-kode pengganti nama cowo yang kita lagi omongin. Kenapa bisa pensil dan bolpen? Saya juga lupa tuh.

Quicktime, Adobe After Effect, dua program yang kami kenal dan pelajari dengan memaksa diri. Soalnya kami nggak pernah diajarin sebelumnya tapi tetep dituntut untuk bisa presentasi project DKV 4 dengan program tersebut. Saya inget, kami saling telepon-teleponan dan chattin buat saling ngajarin dan tanya-tanyaan.

Ritual kami tiap lewat di depan cermin besar di Kinasih kalo lagi Youth Camp adalah berhenti bertiga di depan kaca, sambil dulu-duluan ngomong: “Eh, mau liat yang bagus-bagus nggak?” (eh bener nggak sih kalimatnya? lupa-lupa inget). Haha lucu banget yah yang ini, Agak-agak sableng.

STMJ, singkatan yang dulu sering kita sebut-sebut. Ada tiga tahap dari STMJ:
#1: Semester Tiga Masih Jomblo
#2: Semester Tujuh Masih Jomblo
#3: Sampai Tua Masih Jomblo
Sebenernya, mungkin hal ini juga yang menyatukan saya, Gitta, dan Glory, karena kami makhluk-makhluk cantik *ehem* lumayan langka yang sama sekali belum pernah jadian waktu menaruh pantat di bangku kuliahan. Gitta udah melewati tahap dua, tapi saya yakin nggak akan sampai tahap tiga. Dia soalnya high quality jomblo. Pasti pangeran masa depannya *yang entah siapa itu* lagi mendoakan dia juga saat ini, sampai mereka bertemu nanti.

Tanda mata (cailah, demi diawali huruf ‘T’) yang dia bawa dari negeri tetangga sungguh kejutan buat saya. Dia bawain saya rok bunga-bunga. Katanya, pas liat rok itu, dia langsung inget saya. Ih padahal saya nggak pernah punya fashion item super girly macam itu loh. Eh eh tapinya… sekarang itu rok beneran jadi rok favorit saya.

Untuk pilihan warna, kita bertiga punya tipe masing-masing. Gitta selalu milih warna-warna yang earthy. Sampe sekarang masih nggak git?

Voice notes panjang yang dibagi dalam 3 file, dikirim dari Melbourne lewat BBM di hari ulangtahun saya, jadi hadiah yang sukses bikin saya berkaca-kaca di tengah jam kerja. Rasanya pengen disimpen sampe tua. 

Warna kesukaannya adalah hijau. Ya, rasanya semua yang kenal dia, tahu hal ini deh. Bukan sembarang hijau, tapi ijo royo-royo kalo kata Glory. Dia bisa beli barang yang sebenernya dia nggak suka-suka amat, hanya karena warnanya hijau. Saya juga jadi inget dia kalo liat warna hijau.

Xenia udah pasti bukan mobilnya. Mobilnya adalah Honda Jazz, setia menemani dia ‘ngangkot’ dari pertama kami kenal, sampai sekarang (eh… udah tuir juga ya)… Jangan protes ya kalo yang ini maksa! Coba aja lo cari kata yang depannya huruf X. Susah kan!!!! *bela diri*

Youth camp 2005 adalah event penting buat saya, Gitta, dan Glory. Mulai dari event inilah (dan tentunya ditambah proses-proses lain pelan-pelan), kami bertiga ‘bayar harga’ bareng dalam pelayanan kampus. Walaupun nggak literally bareng karena Glory dan saya di SG (Spiritual Growth – Christian based) dan Gitta di KMK (Catholic based), tapi kebersamaan kami selalu jadi bahan bakar yang menguatkan dan mendukung kami ketika kembali melayani sesuai bidang masing-masing.

Zzzz…. Barisan huruf ini sangat cocok untuk dirinya. Soalnya kalo deket-deket dia, dalam keadaan apapun, di manapun, seriiiiiing banget kedengeran kalimat: “Duh…jadi ngantuk nih….”

My fave photo with Gitta. YC 2008

GIG: A friend like her. Mau minta apa lagi, coba? 🙂