Dulu dan Sekarang

Empat tahun lalu…
‘Kostum’ wajibnya adalah kaos oversized, celana kain coklat gombrong, dan sandal om-om.
Sekarang…
Dia bawel soal pilihan kacamata, ikat pinggang, bahan jas, dan toko favoritnya di mal sekarang adalah toko perhiasan (cincin khususnya).

Empat tahun lalu…
Dia akan mengernyitkan dahi kalo saya pake baju yang sedikit modis dan dia nggak akan sadar dengan perubahan penampilan saya.
Sekarang…
Dia protes sama bentuk alis saya yang asimetris dan nyuruh saya bawa pinsil alis di tas. Dia juga mengusulkan saya keriting dan highlight rambut.

Empat tahun lalu…
Dia dengan ringannya bilang kalo dia nggak bisa dateng pas saya ultah. Teman-teman saya ‘menduga’ dia mau kasih surprise. Tapi saya tahu dia bukan tipe seperti itu. Kalo nggak bisa dateng ya berarti nggak bisa dateng karena dia anti surprise.
Sekarang…
Dia sering kasih surprise-surprise kecil tapi berarti. Yang paling berkesan ya surprise party 2 tahun lalu (kerjasama dengan mama saya) dan yang terakhir bulan lalu, tiket Teater Koma.

Empat tahun lalu…
Dia sering diam di mobil dan saya kerepotan mencari topik pembicaraan, sampai saya sempat nggak yakin bisa tahan nggak dengan cowo macam ini.
Sekarang…
Dia ngomong nggak berhenti (astaga!) dan momen kami berdua di mobil selalu jadi momen favorit saya. Karena di sini kami paling jadi diri sendiri, menggila, nyanyi-nyanyi fals, adu kenceng teriak, sampai saling nantangin untuk melakukan perbuatan bodoh ke mobil sebelah (dari balik kaca mobilnya yang tembus pandang itu).

Empat tahun lalu…
Dia sedikit gemetar kalau harus pegang mic dan ngomong di depan waktu mimpin rapat.
Sekarang…
Dia memimpin persekutuan doa dengan super santai dan penuh banyolan.

Empat tahun lalu…
Dia sering nggak sadar dan kurang peduli kalau saya sakit.
Sekarang…
Dia yang berinisiatif menemani waktu mama saya katerisasi, dan menemani keluarga saya waktu papa saya dirawat.

Empat tahun lalu…
Dia jengah kalau diajak sharing soal Tuhan dan kehidupan rohani.
Sekarang…
Dia masih ogah sharing tentang hal ini ke publik. Tapi waktu bareng saya, dialah yang selalu memimpin doa sebelum makan, dan saat-saat dia memimpin sate bareng selalu jadi momen yang saya nanti.

Happy 4th Anniversary, Dear.

Semoga hubungan kita sesuai kehendak-Nya dan menjadi alat-Nya.

Advertisements

Finally Moving

Yah, buat beberapa teman yang tahu, sejak 2005, atas hasutan seorang sahabat, saya mulai nulis blog di Friendster. Lalu berakhirlah era Friendster, dan sejak September 2008, saya pun pindah ke Blogspot. Lalu…. setelah sekian tahun, Desember 2010, saya mulai menduakan blogspot dengan wordpress (ya, blog yang sedang kalian baca ini). Sampai akhirnya saya tambah jatuh cintah dengan WP, dan setelah pertimbangan panjang *halah*, saya memutuskan untuk nggak meng-update lagi blog saya yang lama, dan untuk seterusnya pindah ke sini.

Buat yang pengen tahu kenapa saya sampai tadinya bisa punya 2 blog, dan kenapa akhirnya malah memutuskan pindah ke sini, bisa baca di sini. Tapi, blog lama itu juga nggak akan saya hapus, secara di sana begitu banyak kenangan khususnya di masa kuliah. Baca-baca tulisan di situ serasa sedang memutar ulang kehidupan saya waktu itu, dan menyelami pemikiran dan perasaannya kembali *ceilah*.

Jadi, selamat tinggal, Blogspot. Buat yang baik hati dan banyak waktu ingin menyimak kehidupan, pemikiran, dan perasaan saya di masa lalu, silahkan berkunjung ke sini:

Barnabas, Si Pemberi Semangat

*Aduh kasian banget blog ini ditelantarkan sedemikian waktu. Maaf ya, berbagai kesibukan dan hal-hal pribadi menghalangi saya nulis nih -banyak alasan ya- padahal udah lama mau tulis macem-macem.*

"Barnabas Befriends Saul" - gambar dipinjam dari http://www.goodsalt.com/details/stdas0677.html

Barnabas dan Saulus

OK, Setelah Andreas, mari kita bahas tokoh berikutnya, Barnabas. Hayoooo kenal nggak dia siapa? Dia ini salah satu rekan sepelayanan Paulus (yang dulunya adalah Saulus). Intermezzo sedikit…. saya ingat waktu pertama kali denger cerita tentang Saulus yang bertobat. Masih ingat kan, Tuhan ‘nyuruh’ seseorang bernama Ananias untuk ‘bimbing’ Saulus yang baru bertobat? Waktu kecil itu, dalam pikiran saya: “Haiyah, kasian banget sih si Ananias…. ada orang jahaaaaaaaat banget, baru bertobat, buta, bingung, tapi dia ‘terpaksa’ harus melayani ini orang karena disuruh Tuhan.” Yaaah maafkan pemikiran sangat-tak-penuh-kasih saya ini. Tapi itu pemikiran jujur dan polos saya waktu itu.

Nah, makanya pas saya baca tentang Barnabas di buku Sorotan Iman ini, saya jadi kagum banget sama dia, karena bisa dibilang dia adalah orang pertama yang kasih kepercayaan pada Saulus yang baru bertobat untuk bergabung dalam pelayanan rasul-rasul (Kis 9:27-28). Padahal waktu itu Saulus ditakuti karena masa lalunya yang suka menyiksa dan membunuh orang-orang percaya. Bayangin aja, dia sampe bersedia repot-repot ngurus surat ijin supaya dia bisa dengan leluasa memberantas pengikut-pengikut Kristus yang dia anggap sesat (Kis 7:54-8:3). Jelas aja waktu dia bertobat, jemaat di Yerusalem pada skeptis, jangan-jangan ni orang cuma pura-pura dan mau menghancurkan mereka dari dalam (Kis 9:26).

*yah sebagai intermezzo, coba bayangkan…. andai ada sebuah kelompok yang suka bakar-bakarin gereja, nyebar teror bom tiap ada hari raya Kristen, suka provokasi dan berusaha memberantas kekristenan. Lalu suatu saat si pemimpin kelompok itu mengaku udah bertobat dan terima Tuhan Yesus, dan mau gabung di pelayanan gereja kita, sebagai penginjil. Kira-kira gimana perasaan dan pikiran kita? Bisa langsung percaya gak?*

Tapi Barnabas beda sama orang-orang kebanyakan. Dia lebih memilih berbelas kasih daripada menghakimi dan lebih memilih menaruh kepercayaan pada orang lain sekalipun dengan risiko bisa kehilangan kepercayaan itu. Kalo dipikir-pikir secara manusia, mungkin ini kelihatan sebagai tindakan bodoh, impulsif, dan kurang pikir panjang, ya? Tapi kalo dipikir-pikir lagi, sudah pasti ada pekerjaan Roh Kudus yang memberi hikmat pada Barnabas untuk menjadi pendukung bagi si petobat baru ini. Kalo di Kis 11:24, malah dengan jelas dikatakan bahwa Barnabas adalah orang yang baik, penuh Roh Kudus, dan iman. Dan saya yakin, inilah yang melatarbelakangi tindakannya tersebut.

Dan, ternyata keputusannya itu nggak salah, toh? Berkat dukungannya, Paulus (Saulus) diterima dan diakui oleh para rasul. Melalui pelayanannya, Paulus menjadi salah satu perintis gereja terbesar dan merintis dasar pelayanan penjangkauan yang kemudian diikuti gereja-gereja hingga 2000 tahun ke depan. Paulus juga menjadi penulis dari sebagian besar kitab di Perjanjian Baru.

Karena apa? Karena sebuah kepekaan dan satu kesempatan yang dipercayakan oleh Barnabas (dengan siap menanggung segala risikonya).

Dan yang nggak kalah penting, karena teladan ini, Paulus di kemudian hari juga belajar menaruh kepercayaan terhadap orang lain (Timotius, Titus, Onesimus, Epafroditus, Febe, Priskila, Lidia, dan… ada lagi yang mau menambahkan?)

Barnabas dan Yohanes Markus

(Kis 15:36-40)

Nah nah… intermezzo lagi… Soal Yohanes Markus ini, dulu waktu pertama kali baca, saya juga punya pendapat tertentu. Saya suka bingung kenapa kok pelayan-pelayan Tuhan yang luar biasa ini sampai segitunya, berselisih, trus pisah pelayanan. Kok kayanya aneh ya… Trus, karena dari kecil, nama Paulus itu kayak tokoh utamanya gitu, saya jadi selalu mikir Barnabas yang salah. Udah tahu si Yohanes Markus salah, kok malah dibelain. Gimana sih. Gitu deh….

Di buku ini, dijelasin latar belakangnya. Jadi singkatnya gini: waktu Paulus, Barnabas, dan Yohanes Markus (dan entah siapa lagi, gak disebutin) untuk pertama kalinya pelayanan di Asia Kecil, ‘mendadak’ si Yohanes Markus ninggalin pelayanana itu (entah karena apa) sampai mereka kekurangan orang. Lalu, di kemudian hari, Paulus mau balik lagi ke Asia Kecil buat meninjau, dan dia nggak mau ajak Yohanes Markus karena kelalaian di waktu sebelumnya itu. Barnabas ‘ngotot’ mau kasih Yohanes Markus kesempatan kedua. Akhirnya, seperti tercatat di Alkitab, Barnabas dan Paulus pisah pelayanan. Barnabas ajak Yohanes Markus ke Siprus. Paulus ajak Silas ke Eropa untuk ke Makedonia.

Dari sini, kelihatan sebenernya nggak ada yang salah dan nggak ada yang benar. Cuma ada perbedaan karakter dan fungsi (dan karunia, mungkin?) yang saya yakin sih udah Tuhan tempatkan sesuai ‘tujuan hidup’ mereka masing-masing di dunia. Paulus adalah seorang dengan karakter penginjil, otak seorang teolog, dan sikap seperti nabi di Perjanjian Lama. Jadi dia keliatan lebih saklek, yang mana dalam banyak hal memang diperlukan pemimpin macam ini kan? (btw, saya ngefans loh sama Paulus, sampe sekarang). Sedangkan Barnabas punya hati sebagai seorang gembala yang penuh kesabaran dan kepedulian pada tiap pribadi.

Barnabas dan Saya

Nah gimana dengan saya? *loh kok jadi saya?* hehe.

Ya, kisah perenungan tentang kisah hidup Barnabas ini banyak menohok saya. Kenapa? Karena sebagai seorang melankolik-kolerik, saya punya kecenderungan untuk menghakimi orang lain, yang mana saya tahu salah, tapi sering secara otomatis suka susah dikendalikan.

Dan satu lagi, saya masih terlibat dalam melayani remaja. Ya, saya punya beberapa anak-anak bimbingan. Dan ketika melihat satu angkatan baru masuk untuk pertama kalinya, saya yang suka analitis ini, sering langsung mengkotak-kotakkan mereka secara nggak sadar: “ini kelompok gaul”, “ini kelompok inferior”, “ini kelompok agak bermasalah”, “ini kelompok butuh perhatian khusus”, “ini kelompok rajin dan anak alim”, dst dst.

Dan dalam perjalanan saya mengamati dan membimbing mereka, sebagian besar dari mereka justru bertumbuh luar biasa di luar ‘kotak’ yang saya lihat pada awalnya. Si kelompok ‘geng cantik dan gaul’ ternyata tumbuh menjadi seorang aktivis yang teramat ramah dan mampun merangkul segala lapisan adik-adik remajanya. Si remaja pendiam dan pemalu ternyata punya kemampuan memimpin dan kepedulian yang nggak terduga. Si anak gaul dan cuek ternyata sangat bertanggung jawab, kreatif, dan rela bayar harga dengan waktu dan tenaganya untuk mewujudkan suatu proyek pelayanan.

Yang saya lihat sendiri, seorang anak bimbingan saya, yang awalnya dikenal sebagai anak yang hobi ngomong kasar berubah menjadi seorang pelayan yang giat dan mau belajar, berkat doa serta beberapa kepercayaan yang diberikan oleh pengurus kepadanya.

GIG- Sebuah perenungan, bahwa Paulus, tokoh favorit saya, ‘lahir’ dari sebuah kepercayaan yang penuh risiko dari seorang Barnabas. Demikian, saya juga nggak boleh sembarangan under estimate sama seseorang, karena mungkin Tuhan akan memakai dia menjadi ‘paulus’ masa depan.