Maria, Simon, Saya

Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.

Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.”

Lalu Yesus berkata kepadanya: “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.”

Sahut Simon: “Katakanlah, Guru.”

“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?”

Jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.”

Kata Yesus kepadanya: “Betul pendapatmu itu.”

Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.”

(Lukas 7:36-47)

Masih ingat kisah ini? Ya, ini salah satu kisah yang populer diceritakan sejak masih di Sekolah Minggu. Saya sih juga selalu inget kisah ini. Tapi ada bagian yang sebenernya ‘mengganggu’ saya. Apa itu? Bisa tebak? Jawabannya perumpamaan yang Yesus kasih.

Saya tadinya nggak ngerti kenapa Yesus kasih perumpamaan kayak gitu. Kok rasanya kurang relevan dalam menjawab complain-nya Simon. Simon kan complain dalam hati soal keberdosaan si wanita dan ketidaklayakan dia menjamah Yesus. Kenapa dijawabnya malah dengan perumpamaan yang berbicara tentang rasa syukur (melalui perbuatan kasih)?

Lalu, di perumpamaan itu, Yesus juga bilang: “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih”. Bukankah ini malah makin memperkuat pendapat bahwa si perempuan memang dosanya lebih banyak daripada Simon si orang Farisi, makanya wajar-wajar aja kalo si perempuan berdosa lebih ekstrem pernyataan kasihnya. Dan wajar-wajar aja kalau Simon biasa aja pernyataan kasihnya karena dosanya cuma sedikit.

Ya nggak? Entah dengan kalian, tapi saya sih dulu sempat mikir gitu dan bener-bener bingung. Tapi waktu saat teduh beberapa hari lalu, saya ‘mendapatkan’ jawabannya.

Maria

Siapakah Maria? Hehe Maria adalah adalah nama perempuan berdosa itu. Dari mana tau nya? Di Yohanes 12:3 yang membahas bagian yang sama, disebutkan kalau namanya Maria. Maria adalah seorang perempuan berdosa (Luk 7:38). Yah kalo sampe dibilang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa, dosanya pasti bukan yang umum-umum kayak bohong atau sombong ya. Kemungkinan dosanya yang bisa ‘terlihat’ oleh banyak orang. Biasanya sih ada hubungannya dengan zinah. Dengan reputasi demikian, udah pasti butuh keberanian dan ke-nekad-an dari Maria untuk menghampiri Yesus, seorang pria, dan seorang guru.

Di Lukas memang nggak disebutkan dengan detail, minyak apa yang digunakan Maria (hanya dibilang minyak wangi yang mahal). Tapi di Yohanes 12:3, disebutkan kalau itu adalah minyak narwastu murni. Dan dengan membasuh kaki Yesus dengan minyak narwastu dan menyekanya dengan rambut, Maria telah memberikan seluruh hidupnya buat Yesus. Kenapa?

Karena Maria memberikan hartanya yang terbaik. Minyak Narwastu harganya MUAHAL. Berdasarkan sumber yang saya baca, harga minyak narwastu murni waktu itu sekitar 300 dinar, yang kalau dikonversi ke mata uang kita sekitar Rp. 3.822.867,- atau sebanding dengan upah pekerja selama 300 hari (hampir 1 tahun!).

Karena Maria memberikan masa depannya. Wanita Yahudi pada masa itu harus memiliki minyak narwastu untuk membasuh kaki suaminya pada hari pernikahan sebagai tanda cinta dan kesetiaan. Jadi dengan memberikan minyak narwastu yang dia punya (dan mungkin nggak akan sanggup dia beli lagi), hampir pasti nggak akan ada pria yang mau menikahinya.

Dan karena Maria memberikan harga dirinya. Di Israel, rambut seorang wanita merupakan sesuatu yang amat berharga. Tapi pada kesempatan itu, Maria rela melepaskan kerudung dan membasuh kaki Yesus dengan rambutnya itu.

Kenapa Maria sampai rela memberikan semuanya itu? Kemungkinan besar karena ia tahu kalau ia nggak layak. Bisa menghampiri Yesus saja udah merupakan anugerah yang luar biasa buat dia, sehingga ia merasa sudah sewajarnya memberikan yang terbaik.

Simon

Lalu siapakah Simon? Simon adalah nama orang Farisi yang mengundang Yesus ke rumahnya. Di Lukas, memang hanya itu saja penjelasannya (bahwa ia orang Farisi) dan sayangnya selama ini saya kurang rajin membuka kitab injil lain waktu baca bagian ini. Di Markus 14:3, Simon diperkenalkan sebagai Simon si kusta. Walaupun dia dibilang ‘si kusta’, bisa dipastikan waktu dia ngundang Yesus kustanya pasti udah sembuh. Kalau enggak, dia pasti ada dalam pengasingan dan kalau ngundang orang ke rumahnya, pasti nggak ada yang mau dateng. Hehe. Jadi, siapa yang sembuhin dia?

Ya, uda pasti Tuhan Yesus yang sembuhin dia. Mungkin juga itu sebabnya kenapa Simon undang Yesus ke rumahnya, mungkin sebagai tanda terima kasih.

Pas tahu ini, heran juga ya kenapa Simon nggak kasih pelayanan yang terbaik, padahal dia kan udah dapat anugerah luar biasa dari Yesus yaitu kesembuhan. Simon ‘cuma’ mengundang Yesus ke rumahnya. Tapi Simon nggak menyediakan air untuk membasuh kaki Yesus, Simon nggak mencium Yesus, dia juga nggak meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi. Singkatnya, kebalikan dari Maria, Simon nggak memberikan yang terbaik.

Bukan Soal Dosa, tapi Soal Ketidaklayakkan

Kenapa Maria memberikan yang terbaik sedangkan Simon tidak, padahal mereka sama-sama menerima anugerah luar biasa dari Tuhan? Apakah Maria dosanya memang lebih besar sehingga ketidak diampuni, dia jauh lebih bersyukur?

Tentunya bukan, karena di mata Tuhan kan nggak ada dosa besar dan dosa kecil. DOSA adalah DOSA. Sama aja di matanya.

Respon Maria demikian karena ia sadar kalau ia berdosa dan sesungguhnya TIDAK LAYAK. Karena itulah rasa syukurnya lebih besar. Sedangkan Simon, karena ia seorang Farisi yang mengutamakan Taurat, kemungkinan besar ia merasa sudah SEWARJARNYA Yesus memberikan anugerah kesembuhan. Karena itulah responnya biasa saja.

Merasa respon Simon nggak benar? Tunggu dulu… Kita bahas satu tokoh lagi.

Saya

Saya hanyalah manusia biasa. Seorang wanita yang sepertinya hampir tiap detik berbuat dosa. Kalaupun bukan dengan kata-kata atau perbuatan, dengan pikiran juga. Orang-orang bisa mengenali keberdosaan saya karena saya memiliki dosa-dosa yang terlihat. Tapi dosa yang nggak kelihatan jauh lebih banyak lagi.

Walaupun manusia berdosa, saya mendapatkan anugerah luar biasa setiap harinya. Mulai dari matahari dan okisgen setiap hari, rumah yang nyaman, keluarga yang menyenangkan, pacar yang sabar, pekerjaan yang baik, materi dan fasilitas yang tersedia. Tapi seringnya saya berespon biasa saja. Saat teduh terburu-buru. Doa agak malas. Baca buku rohani bersaing dengan nonton TV. Malah lebih dari itu, saya sering bersungut-sungut atas hal-hal yang seharusnya saya syukuri. Kenapa? Karena saya mulai menanggap hal-hal itu biasa saja, bukan lagi anugerah Tuhan yang luar biasa. Saya merasa layak menerimanya.

GIG: Hadiah saya hari ini adalah hari yang terasa lebih indah dan mood yang lebih baik, karena menyadari saya sudah dianugerahkan hal-hal yang nggak selayaknya saya dapatkan.

Have a great Tuesday!

Christian Flirting: “Aku Suka Dia, Lalu Apa?”

Note: Artikel ini ditulis untuk dimuat di buletin remaja GKI Gunsa, Shining Star edisi 2011 (SS137/XII/2011)
 

Gambar dipinjam dari http://www.gettyimages.com

Flirting mungkin sebuah istilah yang cukup akrab di telinga para remaja. Sebelum kita perdebatkan lebih jauh, kita bahas dulu makna dari kata ini. Flirt diterjemahkan sebagai “menggoda” didefinisikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai mengajak (menarik-narik hati) supaya berbuat dosa atau berbuat jahat. Wow! Dengan definisi di atas, kita pasti langsung setuju bahwa flirting nggak sesuai dengan ajaran Kristen, dan pasti melukai hati Tuhan.

So, there is no such thing as Christian Flirting because Christians don’t flirt.

Lalu, bagaimana kita sebagai remaja bisa punya pacar tanpa flirting?

Aku Suka Dia, Lalu Apa?

Memasuki usia remaja, kita mulai tertarik pada lawan jenis. Dan sebagai remaja Kristen yang mencintai Tuhan, kita mulai mengenal konsep pacaran sebagi persahabatan yang lebih dalam dengan lawan jenis sekaligus tahap persiapan sebelum pernikahan. Saat kita beranjak semakin dewasa, dan mulai memikirkan pernikahan, kita mulai berdoa dengan tekun supaya kita diberi kepekaan untuk mengenali pasangan hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Dan pada suatu hari…

Sosok seorang lawan jenis yang terlintas di hadapan kita membawa rasa yang berbeda. Jantung mulai berdegup lebih kencang dan tiba-tiba muncul semangat ketika berada di dekatnya. Kita mulai berpikir: “Apakah ini rasa suka?”. Kita mulai berdoa meminta petunjuk Tuhan dan bertanya kepada-Nya: “Tuhan, apakah Engkau berkenan jika aku mendekatinya?”.

Kita mulai lebih berusaha, bertanya tentang dia yang istimewa kepada teman-temannya. Dan semua mengatakan hal yang sama: dia memang istimewa. Ia tidak sempurna, namun ia punya banyak sifat baik, dan yang terpenting, ia mencintai Tuhan yang sama dengan kita. Lalu diam-diam kita mencari tahu mengenai keluarga dan tempat tinggalnya. Keluarganya juga keluarga Kristen yang sederhana. Papanya agak galak dan keras, tapi mencintai keluarganya. Mamanya seringkali terlalu bawel, tapi juga sangat ramah.

Ya, semua investigasi kita semakin meyakinkan hati kalau ini memang rasa suka. Tapi ada satu masalahnya. Si dia bahkan sepertinya tidak menyadari keberadaan kita. Lalu, bagaimana kita bisa lebih mengenalnya?

Flirting VS Being Attractive

Flirting jelas salah karena mengandung makna menggoda orang lain, mempermainkan perasaannya, tanpa tujuan serius. Tapi nggak ada yang salah dengan menjadi seseorang yang menarik dan menarik perhatian dia yang kita suka dan telah kita doakan. Tapi hati-hati terhadap motivasi kita.

Motivasi kita seharusnya hanyalah ingin mengenalnya lebih jauh, berteman lebih akrab, sambil terus mencari kehendak Tuhan, dan bukannya karena rasa ingin memiliki karena terlalu yakin dialah yang pasangan hidup yang diberikan Tuhan bagi kita. Hati-hati, apakah itu sungguh jawaban Tuhan atau ego kita yang berbicara?

Being an Attractive Christian NOW!

Menjadi pribadi yang menarik sebenarnya nggak cuma dibutuhkan waktu mau mendekati sang calon pacar. Pribadi yang menarik bisa mempermudah kita dalam bergaul dan berteman, dalam memimpin orang lain, bahkan dalam memberitakan Injil! Nah, sebagai orang Kristen, ada beberapa hal umum yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan daya tarik kita.

Ingatkah teman-teman bahwa Tuhan kita adalah Kasih? (1 Yoh 4:16). Karena itu, setiap ajaran-Nya sesungguhnya mengenai kasih, dan orang yang penuh kasih pasti akan menjadi pribadi yang menarik (Lihat saja Tuhan Yesus, Dia yang adalah kasih sangat menarik sampai diikuti ribuan orang setiap kali mengajar). Dan kasih yang Tuhan ajarkan dirangkum dalam Matius 22:37-39, yaitu mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Bagaimana prakteknya?

1.                  Kasihi Allah. Persembahkan hidupmu dengan melakukan segala sesuatu yang terbaik seperti untuk Tuhan (Kolose 3:23). Loh apa hubungannya??? Ketika kita memberikan yang terbaik dalam segala hal seperti untuk Tuhan, kita akan menjadi pribadi yang menarik. Ketikan kita memberi yang terbaik dalam studi, kita bisa menjadi pelajar yang berprestasi. Ketika kita memberi yang terbaik dalam pelayanan, kita bisa menjadi pelayan yang berintegritas. Dan ketika kita memberi yang terbaik dalam pergaulan, kita bisa menjadi sahabat yang setia. Dan semua kualitas ini tentunya akan memancar keluar dan membuat kita menjadi pribadi yang menarik.

2.                 God Esteem bukan Self Esteem. Sebelum mengasihi sesama, kita perlu mengasihi diri sendiri. Dan salah satu kunci untuk menjadi pribadi yang menarik juga rasa percaya diri dan mengasihi diri. Majalah dan acara Televisi seringkali mendorong kita untuk mengasihi diri dan percaya diri dengan “Be yourself”. Nggak ada yang salah dengan hal ini. Tapi kadang, dalam kondisi down, merasa jauh dari standar sempurna dunia, ketika kita merasa diri kita kurang cantik atau ganteng, nggak berguna, dan desperate karena ingin segera punya pacar, kita kesulitan untuk mengasihi diri kita sendiri. Kenapa? Karena kita terlalu bersandar pada self esteem (penghargaan terhadap diri) kita.

Mengasihi diri sendiri butuh self esteem, tapi lebih dari itu, yang akan selalu dengan sukses menimbulkan rasa percaya diri kita adalah ketika kita menyandarkan diri pada God Esteem, yaitu penghargaan yang diberikan Tuhan pada diri kita. Tuhan berkata bahwa kita diciptakan luar biasa (Mazmur 139), dan Dia begitu memikirkan kita hingga bersedia mati ketika kita masih berdosa (Roma 5:8). Tuhan yang menciptakan kita, yang sedemikian berkuasa, dan yang telah kita sakiti hatinya saja, begitu menghargai diri kita. Ketika kita menyadari hal ini senantiasa, kita belajar untuk mengasihi diri kita dengan segala talenta dan kekurangan sebagai bagian dari anugerah Tuhan.

3.                  Kasihi sesama manusia, sebarkan kasih. Tunjukan kasih kepada semua orang, bukan hanya kepada si dia yang sedang kita suka. Bagaimana bisa kita mengasihi satu orang yang spesial kelak jika kita nggak belajar mengasihi orang lain sebelum kita punya pacar? Jangan berpikir kita akan secara natural mampu mengasihi pacar kita dengan tulus setelah jadian. Hal yang kita tunda sekarang, hampir pasti tidak akan terjadi juga di masa depan. Lagipula, seseorang yang penuh kasih senantiasa menjadi pilihan pertama ketika orang-orang mencari teman atau pacar. Kasih jelas membuat pribadi kita lebih menarik dan bersinar, terutama ketika kita mengasihi dengan motivasi yang tulus, bukan karena ingin menonjolkan diri.

Nah, cobalah praktekkan hal-hal ini untuk menjadi seorang Kristen yang menarik. Tapi, bagaimana caranya menjadi seorang wanita dan pria Kristen yang menarik? Pastinya ada hal-hal spesifik dan praktis yang menjadi daya tarik gender tertentu. Untuk bagian ini, saya sudah berdiskusi dengan pacar dan beberapa teman yang sudah berpacaran, mengenai hal-hal yang pertama kali membuat kami tertarik pada pacar-pacar kami dan hal-hal apa yang membuat mereka bersinar di tengah “keramaian”.

Being an Attractive Christian for Boys:

1.     Memimpin dalam hal rohani. Hai para pria, jika kamu mencari seorang wanita yang cinta Tuhan, jadilah seorang yang hidup bagi Dia terlebih dahulu. Inilah daya tarik utama pria bagi seorang wanita Kristen. Seorang teman wanita saya begitu bangga menceritakan pacarnya yang dengan setia mengingatkannya untuk saat teduh dan membaca alkitab 4 pasal setiap harinya.

2.     Smile smile smile. Hal ini yang pertama kali membuat saya tertarik pada pacar saya sekarang. Jadilah seorang pemurah dalam memberi senyum. Senyum adalah hal gratis yang mampu memberi pengaruh positif dan mencairkan suasana.

3.     Menjadi pendengar yang cerdas. Yang ini memang susah-susah gampang. Wanita suka didengarkan, tapi bukan sekedar didengarkan, butuh juga diberi tanggapan yang tepat. Salah satu cara praktisnya, berlatihlah menjadi pendengar yang baik dan cerdas bagi mama, saudara perempuan, atau sahabat perempuanmu.

4.     Sopan dan penuh inisiatif. Sekalipun para wanita masa kini telah terbiasa dengan emansipasi sehingga mampu melakukan banyak hal sendiri, kebanyakan wanita tetap merasa istimewa jika menerima perhatian, bantuan, atau pertolongan dari pria. Terlebih perhatian yang diberikan atas dasar inisiatif si pria. Dan, pria yang penuh inisiatif membantu SEMUA orang (bukan hanya wanita yang ia suka) cenderung terlihat lebih ‘bersinar’.

5.     Humor. Bukan rahasia kalau humor adalah salah satu senjata ‘pamungkas’ para pria. Wanita umumnya nggak terlalu mempermasalahkan penampilan pria jika humor dan kepribadiannya sudah sangat terpancar.

6.     Passionate. Bukan sekedar pintar, tapi bergairah akan suatu hal. Pria yang passionate akan suatu hal tertentu akan memancarkan binar-binar di matanya ketika membicarakan hal tersebut. Dan banyak teman-teman saya yang jatuh cinta pada pacarnya sekarang karena hal ini. So, mulailah cari passion-mu.

7.     Mau tahu lebih banyak lagi? Nggak perlu buru-buru berburu pacar. Bersahabatlah dengan teman-teman wanita Kristen-mu. Rasanya mereka nggak akan keberatan berbagi mengenai hal ini.

Being an Attractive Christian for Girls:

1.     Ingin menjadi pacar seorang pria Kristen yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan? Jadilah terlebih dahulu seorang wanita Kristen yang bjiak dan memancarkan pribadi Tuhan dalam dirinya. Yang paling mudah dan praktikal: lembah lembut dan melayani. Lembah lembut bukan berarti harus lemah gemulai atau nggak bisa sporty. Lemah lembut lebih kepada sikap yang penuh kasih, pemaaf, nggak mudah emosi.

2.     Ceria, penuh senyum, penuh perhatian. Perhatikan teman-teman wanitamu yang terlihat banyak memiliki sahabat pria. Mereka umumnya pribadi yang ceria dan penuh senyum, bukan?

3.     Nggak bicara kasar atau kotor. Menurut pacar saya, ini adalah salah satu hal yang membuatnya tertarik pada saya di awal-awal perkenalan. Wanita memang cenderung lebih mudah jatuh karena ‘lidahnya’, mengeluarkan kata-kata negatif tentang orang lain misalnya juga nggak akan membuat kita menjadi lebih menarik.

4.     Membuka diri (berespon positif). Terkadang wanita terlalu menutup diri jika didekati pria, entah karena punya kesan pertama yang negatif terhadap si pria, udah terlanjur ke-geer-an, atau sekadar hanya karena malu. Nggak perlu terlalu memikirkan motivasi pria mendekati kita. Bersikap biasa saja, mungkin dia hanya mau berteman kan? Dan siapa tahu pria ini akan jadi sahabat sejatimu di masa depan, atau mungkin pasangan hidupmu?

5.     Bersikap penuh penghargaan terhadap hal-hal yang dilakukan pria bagi si wanita. Setiap orang, khususnya pria, butuh penghargaan terhadap tindakan-tindakan yang mereka lakukan dengan tulus bagi wanita. Bukan berarti mereka melakukannya dengan mengharapkan imbalan. Namun seorang wanita yang menghargai bantuan dan perhatian mereka pasti akan lebih memancarkan sinarnya. Nggak perlu susah-susah, cukup dengan sedikit pujian dan ucapan terima kasih.

6.     Mau tahu lebih banyak lagi? Nggak perlu buru-buru berburu pacar. Bersahabatlah dengan teman-teman pria Kristen-mu. Rasanya mereka nggak akan keberatan berbagi mengenai hal ini.

Say good bye to Flirting! Say hello to the new attractive Christians!

Profil penulis: Penulis hanyalah seorang wanita biasa yang baru memasuki usia pemuda, dan secara ‘ajaib’ mendapatkan anugerah menjadi seorang pengikut Kristus dan anak Allah. Penulis belum menikah dan baru berpacaran 3 tahun 8 bulan dengan seorang pria teman sepelayanan, yang dikenalnya ketika sama-sama menjadi pembimbing dan panitia dalam sebuah acara retreat remaja. Karena kurangnya pengalaman penulis, seluruh isi tulisan ini ‘hanyalah’ bersumber dari hasil ‘semedi’ penulis bersama Pacar pertamanya (Tuhan), berdasarkan pengalaman pribadi, diskusi-diskusi dengan pacar, teman-teman seiman, serta inspirasi dari beberapa artikel di buku-buku dan dunia maya seperti http://www.datingadvice4christiansingles.com, http://www.gotquestions.org, http://www.experiencefestival.com, dan http://www.adammeeteve.com.
Oleh karena keterbatasan ini, penulis memotivasi teman-teman pembaca untuk lebih menggali lagi dan mencari kehendak Tuhan tentang topik ini, dengan cara mendekatkan diri kepada-Nya dan berdiskusi dengan pembimbing rohani. Biarlah segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.

Andreas, Saudara yang Kurang Dikenal

Note: posting ini disadur dari bab pertama buku Sorotan Iman

The Calling of Saints Peter and Andrew by Bernardo Strozzi - http://www.corbisimages.com

Siapa yang nggak kenal Simon Petrus? Saya yakin, buanyaaaaaak yang tahu kalo Petrus itu murid Yesus. Tapi siapa yang kenal Andreas? Yah sebagian besar mungkin tahu kalau dia juga murid Yesus. Tapi sebagian lagi mungkin ragu: bener gak ya dia murid Yesus? Dia tokoh Alkitab sih, tapi murid Yesus bukan, ya?

Andreas memang salah satu dari keduabelas murid Yesus, bahkan mungkin dia termasuk yang pertama dipanggil. Tapi dia nggak termasuk “lingkaran murid-murid terdekat” Yesus (Simon Petrus, Yohanes, Yakobus). Yohanes dan Yakobus yang bersaudara termasuk dalam “lingkaran” tersebut. Sedangkan Andreas yang saduara Simon (Petrus) nggak. Padahal, sesungguhnya Andreas loh yang “membawa” Simon kepada Yesus. Agak ironi ya?

Dengan semua latar belakang itu, kenapa ya tokoh Andreas jadi terasa sedikit perannya? Apa salah dia ya? hehe. Sebelum buru-buru menyimpulkan, mari kita kenal tokoh yang satu ini lebih jauh.

Siapa Dia?

Andreas tadinya adalah salah satu murid Yohanes Pembaptis yang berasal dari Kapernaum. Karena dia murid Yohanes Pembaptis, kemungkinan besar dia menyaksikan sendiri pertemuan gurunya dengan sang Mesias (Yesus). Bahkan Yohanes Pembaptis menyatakan sendiri kepada Andreas (dan temannya) bahwa Yesus adalah Mesias (Yohanes 1:35-40). Sejak itu, Andreas berinisiatif mengikut Yesus dan menjadi salah satu dari dua murid pertama Yesus.

Andreas Mengajak Petrus

Apa yang pertama kali dilakukan Andreas begitu tahu Yesus adalah Mesias dan mengikut-Nya? Dia pergi ke tempat saudaranya, Simon, dan membawanya kepada Yesus (Yohanes 1:41-42). Tindakan ini menunjukkan karakteristik Andreas yang peduli terhadap keselamatan tiap pribadi. Dan dengan menceritakan imannya kepada seorang Simon, Andreas sebenarnya punya tiga ‘kesulitan’.

Pertama, Simon adalah saudaranya. Buat kalian yang punya saudara seperti saya, pasti tahu kalo cerita tentang iman dan share pengalaman rohani paling susah ke anggota keluarga dan orang deket. Ya nggak? Mungkin nih… soalnya mereka kan yang paling kenal baik buruknya kita. Mereka berpotensi ‘melecehkan’ pengalaman rohani kita karena nggak sebanding dengan keburukan kita. Kedua, Simon adalah orang yang ‘sulit’. Tahu sendiri kan perangainya Simon yang suka heboh, impulsif, dan agak ngotot? Ketiga, Simon adalah orang yang ‘membayang-bayangi’ hidup Andreas.

Tapi di tengah kesulitan tersebut, toh Andreas tetap membawa Simon kepada Yesus. Dan apa hasilnya? Seorang rasul besar lahir! So, teman-teman, ingatlah bahwa kita nggak tahu akan jadi apa setiap jiwa yang kita bawa. Tapi setiap jiwa yang diubahkan Kristus mungkin memiliki potensi besar seperti Simon.

Andreas, 5 Roti, dan 2 Ikan

Pasti tahu dong peristiwa Yesus memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan? Coba baca lagi dengan teliti Yohanes 6:8-9. Siapa yang membawa anak kecil dengan bekal 5 roti dan 2 ikan tersebut kepada Yesus? Ya, betul! Andreas! Coba dibayangin deh adegannya. Ada 5000 orang lebih yang mulai kelaparan. Murid-murid mulai panik, nggak tahu harus gimana kasih makan segini banyak orang. Lalu tiba-tiba dari kerumunan, si Andreas nuntun seorang anak kecil sambil ngomong: “Guru, nih ada anak kecil yang bawa 5 roti dan 2 ikan”.

Kalau saya ada di situ dan dengar omongan dia, mungkin komentar saya: “Terus…???”

Ya… terus kalau ada anak kecil bawa bekal 5 roti dan 2 ikan, kamu mau apa? Mau dibagiin maksudnya? Menurut kamu bakal cukup?? Mikir yang benar dong! hehe

Nah makanya, ‘ke-nekad-an’ bang Andreas waktu membawa anak ini beserta bekal sederhananya, sebenarnya menunjukkan imannya bahwa Yesus bisa melakukan sesuatu dari hal yang kecil. Dan juga menunjukkan kalau dia peduli kepada sosok yang sebenarnya nggak terpandang, dan mungkin nggak dianggap (si anak kecil). Yang terpenting, di sini Andreas juga menjadi saksi tindakan Yesus mengambil sesuatu yang kecil lalu menggunakannya untuk memberi makan banyak orang.

Andreas dan Orang Non-Yahudi

Suatu hari, beberapa orang Yunani (non-Yahudi) menghampiri Filipus untuk minta ketemu Yesus (Yohanes 12:20-22). Bisa dibayangkan, Filipus ragu, haruskah dia mempertemukan orang-orang ini kepada Yesus? Kan mereka bukan orang Yahudi. Kira-kira Yesus mau ketemu nggak ya? Karena itu, dia menyampaikan kepada siapa? Ya, kepada Andreas.

Dan sekali lagi, Andreas dengan ke-nekad-annya, menyampaikan ke Yesus. Andreas ternyata nggak ragu membawa bangsa manapun kepada Yesus, sekalipun di masa itu orang-orang non-Yahudi dimusuhi bahkan dianggap kafir.

GIG: Hadiah bagi saya hari ini adalah diingatkan untuk nggak berhenti menjangkau jiwa bahkan dengan aksi yang sangat kecil dan sepele. Karena dengan pertolongan Tuhan, kita nggak tahu potensi seperti apa yang dimiliki oleh jiwa yang kita bawa kepada-Nya.

Edward Kimball dan Billy Graham

Siapa yang nggak kenal Bily Graham? Walau nggak pernah dengar kotbahnya, saya rasa semua tahu kalau dia salah satu pengkotbah terbesar di masa ini. Tapi siapa yang kenal Edward Kimball?

Kimball adalah seorang guru sekolah minggu yang pada suatu hari menginjili seorang penjual sepatu muda, D.L. Moody. Moody kemudian menjadi penginjil yang menjangkau Inggris dan Amerika, dan ia membimbing seseorang bernama Wilbur Chapman. Chapman menjadi seorang pengkotbah, yang salah satu kotbahnya menjangkau pemain baseball, Billy Sunday. Billy Sunday menjadi penginjil yang membawa Mordecai Hamm kepada Kristus. Hamm menginjili Amerika. Dan salah satu kotbahnya ‘menobatkan’ Billy Graham.

Sorotan Iman-Preview

Judul: Sorotan Iman (The Spotlight of Faith), Memahami Arti Berjalan Bersama Allah
Penulis: Bill Crowder
Penerbit: Discovery Houser Publishers
Dina’s Rating: *****

YES! Dina’s Rating untuk buku ini FULL!!!

Kenapa? Kenapa? Karena temanya cukup unik, dibahas dengan point-point yang sederhana dan mudah dipahami, dilengkapi contoh-contoh yang bikin nggak bosan. Pembahasannya pun satu tokoh per-bab sehingga bacanya nyaman, nggak seabrek-abrek 😀

Saya kutip paragraf pertama dari Prakata buku ini:

Andy Warhol, seniman pop dan simbol budaya di tahun 1960 dan 1970-an mengatakan bahwa “pada masa mendatang setiap orang akan menjadi terkenal di dunia selama 15 menit”. Jika hal ini benar, Bob May mendapatkan 15 menitnya itu pada bulan Agustus 2000. dalam trunamen golf profesional PGA Championship tahun 2000, Bob, seorang pegolf biasa dan tak banyak dikenal orang, menjadi pusat perhatian bersama Tiger Woods, pegolf terhebat di planet ini. Dalam salah satu turnamen paling dramatis yang berlangsung selama ini, Bob menjadi sorotan karena permainannya yang gemilang dan bertanding melawan Tiger pukulan demi pukulan, putt demi putt, dan lubang demi lubang. Di akhir permainan normal sepanjang 72 lubang tersebut, mereka masih tetap bermain seri. pertarungan ini berlangsung sampai begitu larut malam, ketika mereka harus memainkan tambahan tiga lubang sebelum pertandingan tersebut dimenangi, dan pegolf terbesar di dunia pun akhirnya mengalahkan seorang yang :bukan siapa-siapa dari antah berantah:. Setelah turnamen tersebut, Bob May kembali menjadi seorang tak dikenal dalam dunia golf, tetapi selama “15 menit-nya” itu, ia merupakan salah seorang pegolf terbaik di dunia.

Bisa bayangin apa isi buku ini? Golf? Tentu bukan! 🙂

Buku ini berbicara tentang “Bob May -Bob May” yang ada di Alkitab. Buku ini menceritakan tentang tokoh-tokoh yang cuma disebut beberapa kali (atau sekilas) di Alkitab. Siapa yang nggak kenal Petrus? Siapa yang nggak tahu karakternya? Pasti semua tahu. Tapi siapa coba yang bisa menceritakan orang seperti apa sih Andreas? Dan siapa yang nggak kenal Paulus? Tapi siapa yang ingat siapa itu Barnabas?

Menarik banget buku ini bisa menelaah karakter-karakter tokoh-tokoh Alkitab melalui ayat-ayat yang selama ini mungkin kita ‘abaikan’. Dan tentu saja ada banyak hal menarik yang bisa kita pelajari dari ke-12 tokoh di buku ini: Andreas, Barnabas, Izebel, Yokhebed, Lidia, Marta, Miryam, Naomi, Filipus, Sara, Stefanus, dan Tomas.

Karena ada 12 tokoh, saya akan menulis apa yang saya dapat dari tiap tokoh dalam posting-posting yang terpisah. Satu posting untuk setiap tokoh. Jadi… ikuti terus ya!

Happy reading!

Next posting: Let’s talk about Andreas

GIG: Sebuah buku luar biasa yang saya pinjam tak sengaja satu tahun lalu dari Ario (orangnya juga kayanya lupa buku ini ada di saya). Thanks, Ario! Kalo udah kelar pasti saya balikin, kok!

Marriage

Entah kenapa, feeling saya agak buruk nih soal reaksi orang-orang pas baca judul posting saya ini. Pasti jadi banyak yg mikir saya udah mau nikah. Hahahahahaha. The truth? Yes, I wanna get married someday, tapi nggak dalam waktu dekat. Posting ini adalah rangkuman apa yang saya dapat dari kotbah Pdt. Flora Dharmawan Sabtu lalu di persekutuan pemuda. And I dedicate this posting to several good friends out there who are busy preparing ‘the day’. Yes, you know who you are! 😀

24Therefore shall a man leave his father and his mother, and shall cleave unto his wife: and they shall be one flesh. (Genesis 2:24 – NKJV)

Jadi, persekutuan kemarin agak beda karena dibuat dalam format debat. Peserta ‘dipaksa’ mengeluarkan pendapat, yang kemudian baru diakhiri oleh kotbah dari Ibu Flora. Ada dua mosi hari itu yang diajukan oleh pengurus. Saya akan share mosi dan pembahasannya Bu Flora aja ya. Debatnya ga perlu di-review toh? :). Enjoy!

Mosi 1: Membuat rekening tabungan bersama (joint account) dengan pacar. Setuju atau enggak?

Sebelumnya, mari kita bedakan dulu definisi pacaran dan pernikahan. Definisi pernikahan ada di Kejadian 2:24 yang saya kutip di atas. Di situ ada 3 kata kerja yang mendefinisikan pernikahan.

To leave – Meninggalkan. Dalam bahasa ibrani-nya malah berarti putus hubungan. Bukan berarti putus hubungan dengan ortu dan jadi nggak usah kenal lagi loh. Tapi kata ‘putus hubungan’ yang digunakan adalah kata yang sama dengan kata yang mendifinisikan pemutusan hubungan tali pusar bayi yang baru lahir dari plasenta di rahim ibu (bener nggak sih plasenta? Yah tapi kalian ngerti kan maksud saya?). Seorang janin di dalam rahim, mendapat ‘kehidupan’ dari ibunya. Makanan dari ibunya, oksigen dari ibunya, melalui tali pusar itu. Begitu dia lahir, tali pusar yang menghubungkan bayi dengan ibunya harus diputuskan, dan bayi harus bisa bernafas sendiri, mengkonsumsi makanan sendiri, bertumbuh besar perlahan-lahan hingga dewasa. Demikianlah sebuah pernikahan, seorang individu yang menikah berarti ‘putus hubungan’ dengan orangtuanya untuk kemudian menjadi pribadi yang benar-benar harus mampu menghidupi diri sendiri dan bertumbuh semakin dewasa.

To cleave – Bersatu, menjadi satu kesatuan dengan istri dalam sebuah pernikahan bagaikan sebuah dwitunggal. Dua orang tapi satu kesatuan.

To be one flesh – Menjadi satu daging dalam pernikahan, secara seksual.

Bagaimana dengan pacaran? Pacaran berarti sesuatu sebelum tahap itu. Belum ada ‘penyatuan’ di situ. Pacaran ‘hanya’ berarti persahabatan istimewa, spesial, atau apa lah namanya itu. Yang jelas, masih ada kemungkinan lanjut maupun nggak lanjut. Pribadi dalam sebuah hubungan pacaran masih berdiri sendiri-sendiri, jadi sebenarnya nggak perlu membuat joint account. Gimana dengan pertunangan? Sami mawon, selama belum dalam pernikahan, masing-masing adalah pribadi yang berdiri sendiri.

Untuk pengaturan dana pacaran, mungkin bisa dengan kesepakatan, gantian bayarin? 🙂

Mosi 2: Menikah tapi memilih untuk tidak mempunyai keturunan. Setuju atau enggak?

Kebanyakan orang akan menggunakan Kejadian 1:28

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

dan memutuskan untuk kontra (menolak) mosi ini.

Tapi menurut sebenarnya kata kerja dalam definisi pernikahan ya cuma 3 itu: to leave, to cleave, to be one flesh. Nggak ada “to have kids”.  Memang Tuhan memerintahkan untuk beranakcucu tapi nggak semua pasangan menikah dipanggil untuk memiliki keturunan. Ada pasangan yang memilih – berdasarkan kebijakan dari Tuhan – untuk nggak punya keturunan sendiri karena bagaikan menambah satu jiwa baru lagi dalam kesulitan dunia ini, dan lebih memilih untuk mengadopsi anak yang udah terlanjur lahir tapi nggak ada yang mengasihi. Bukankah ini alasan yang indah? 🙂

Asal jangan nggak mau punya keturunan karena alasan-alasan egois macam: menghambat karier, atau nggak siap (secara finansial misalnya). Karena Allah adalah Jehovah Jireh, Allah yang menyediakan. (seperti dalam peristiwa Abraham yang disuruh mengorbankan Ishak, pada akhirnya Allah yang menyediakan korban pengganti Ishak).

Yang penting, jadilah keluarga yang bertanggung jawab, termasuk juga sejauh mana bisa bertanggung jawab soal jumlah anak. Minta kebijaksanaan dari Tuhan soal hal ini, dan tentunya harus ada kesepakatan bersama antara suami dan istri. 🙂

 

GIG: Saya percaya proses pacaran adalah proses pengenalan menuju pernikahan dan karena itu setiap tambahan pengertian baru mengenai pernikahan adalah hadiah yang berharga bagi saya.

 

The Purpose of Christmas


Judul: The Purpose of Christmas
Penulis: Rick Warren
Penerbit: Howard Books
Dina’s Rating: *****


Saya dan Buku Ini

Ya, saya tahu Natal sudah lewat nyaris dua bulan lalu dan membahas buku ini jadi terasa agak “salah”. Hehe. Sebenarnya buku ini saya beli menjelang Natal 2008 dan saya mulai baca ulang beberapa hari menjelang Natal 2010.  Membaca dan menyerapi buku ini di tengah kesibukan persiapan Natal dan Tahun Baru bikin proses membaca baru rampung di akhir Januari 2011. Hehe. Dan serius deh, buku ini talk a lot to me. Nggak cuma ngomong soal Natal, buku ini mengingatkan kembali hal-hal tentang kasih Tuhan yang mungkin kadang saya lupakan.

Tentang Buku Ini

Sekilas, buku ini terlihat ‘ringan’ karena dipenuhi selingan gambar-gambar dan tulisan yang ukurannya cukup besar. Beneran menang di design deh. Hehe. Apalagi waktu baca bagian awalnya, si penulis seolah menekankan bahwa buku ini untuk semua, membahas makna Natal secara Universal, bukan hanya untuk orang Kristen saja.

Dan memang buku ini dengan pintarnya membahas ajaran-ajaran Kristen dengan apik, nggak terlihat sedang membicarakan pengajaran. Cukup universal, nggak eksklusif untuk orang-orang Kristen yang hobi baca buku rohani. Ayat-ayat yang ada pun dikutip tanpa mencantumkan alamat ayatnya (Alamat ayatnya di tulis di bagian indeks) jadi kutipan ayat terasa menjadi bagian dari kalimat. Asoy dah.

Setelah menghabiskannya, bener-bener berasa buku ini walaupun memang ringan, tapi juga sangat padat. Saya tuh hobi stabilo bagian-bagian dari buku yang saya baca, yang memberi saya “AHA” moment. Dan pas baca buku ini ya, rasanya kaya buanyaaaaak banget yang pengen saya stabilo. Hehe. Banyak hal baru yang saya dapat, dan banyak juga yang sebenarnya saya udah tahu, tapi diingatkan lagi. 😀

Sekelumit Isi Buku Ini

Sesuai judulnya, buku ini bicara tentang tujuan (atau makna) Natal. Dan menurut Rick Warren, makna Natal adalah: Time for CELEBRATION (waktunya perayaan), time for SALVATION (waktunya penyelamatan), dan time for RECONCILIATION (waktunya pendamaian.).

Dari mana datangnya kesimpulan di atas? Dari berita Natal pertama yang dibawa para malaikat untuk para gembala. Bisa dilihat di Lukas 2:10-14 (di bawah ini adalah terjemahan NIV)

10 But the angel said to them, “Do not be afraid. I bring you good news that will cause great joy for all the people. (CELEBRATION)

11 Today in the town of David a Savior has been born to you; he is the Messiah, the Lord. 12 This will be a sign to you: You will find a baby wrapped in cloths and lying in a manger.”(SALVATION)

13 Suddenly a great company of the heavenly host appeared with the angel, praising God and saying,

14 “Glory to God in the highest heaven,
and on earth peace to those on whom his favor rests.” (RECONCILIATION)

Saya akan membahas beberapa point yang mengena buat saya dari tiap bagian tersebut.

Christmas is time for CELEBRATION

Di bagian ini, saya banyak diingatkan tentang kasih Tuhan. Hal-hal yang mungkin sudah saya tahu, sudah pernah di bahas juga di buku Rick Warren yang lain, Purpose Driven Life, tapi saya lupa menghayatinya dalam hidup saya sehari-hari. Peristiwa Natal adalah peristiwa perayaan kasih Allah bagi manusia. Salah satu bukti kasih-Nya adalah kemampuan kita untuk menikmati sesuatu. Bayangin aja kalo kita bisa melihat birunya langit, warna-warni pelangi, dan hijaunya dedaunan tapi nggak bisa ngerasain indahnya semua itu. Atau kalau kita bisa merasakan gurihnya tumis kangkung, manisnya cupcakes, atau asamnya rujak, tapi nggak bisa ngerasain nikmatnya semua itu? (duh jadi laper.. hehe).

Maka, ketika kita jatuh dalam dosa dan sangat membutuhkan keselamatan, satu-satunya jalan untuk menyatakan kasih Allah yang begitu besar adalah dengan datang ke dunia. Begitu besarnya kasih Allah sampai penyampaiannya nggak bisa diwakilkan oleh pihak lain.

Christmas is time for SALVATION

Salvation (penebusan), berarti dibebaskan dari sesuatu yang buruk (dosa). Tapi ada makna yang lebih dari itu, salvation juga bermakna dibebaskan untuk sesuatu yang baik (We are not only saved from something bad, we are saved for something good). Apa sih hal yang baik itu? Kemerdekaan dan kemampuan untuk memenuhi tujuan yang Tuhan tanamkan dalam hidup kita. Itu suatu hak yang luar biasa, kan?

Lalu kemerdekaan. Kemerdekaan dari apa? Dari rasa bersalah di masa lalu (sebagai akibat dari nggak taat sama Tuhan), dari kepahitan (kita nggak pernah bisa kontrol kelakuan orang ke kita, tapi kita bisa memilih respon yang tepat, kan?), dari ekspektasi orang lain (akuilah, kita suka terlalu sering hidup dengan berusaha memenuhi ekspektasi orang lain, bukankah ini melelahkan?), dari kebiasaan buruk (ayo apa? setiap orang pasti punya), dan dari ketakutan akan kematian.

Christmas is time for RECONCILIATION

Rekonsiliasi berarti menemukan kembali kedamaian dengan Tuhan, dengan orang lain, dan dengan diri sendiri.

Ada dua penyebab konflik. Yang pertama, karena sifat egosentris manusia. Dan yang kedua karena mengharapkan orang lain memenuhi kebutuhan kita yang sebenernya cuma Tuhan yang bisa penuhi (Sounds crazy? But lot of us did it, included me. Dan umumnya kita harapkan dari orang-orang terdekat.)

Nah gimana dengan peran kita sebagai pembawa damai? jadi pembawa damai bukan sekedar nggak cari ribut, tapi juga terlibat aktif dan beinisiatif untuk mengambil peranan mengakhiri konflik yang kita tahu ada. Termasuk juga memberikan pengampunan bagi mereka yang menyakiti hati kita (susaaaaah bener ya. Tapi saya termasuk salah seorang yang –by His grace – beneran mengalami miracle yang memampukan saya memaafkan seseorang yang saya kira udah saya ampuni sebelumnya tapi belum -sangat ribet nih bahasanya. Will be explain in next post 🙂 )

GIG

Tepat di hari Natal, pacar (kedua) saya (Pacar Pertama saya adalah Tuhan saya – red) ngajak diskusi tentang orang-orang yang menolak merayakan Natal di tanggal 25 Desember. Salah satu teman pacar saya memang penganut denominasi tersebut dan katanya, “Berdasarkan sejarah dan penelitian, nggak mungkin Yesus lahir di bulan Desember, makanya kami nggak merayakannya. Lagipula kami merayakan Natal setiap hari kok.”

Saya nggak pro atau kontra soal tanggal Natal yang benar. Buat saya itu nggak terlalu penting. Tapi alangkah indahnya kalau kita bisa menghayati makna Natal setiap hari sepanjang tahun. Mungkin kita akan jadi orang yang paling bersyukur sedunia.

Jadi, GIG saya adalah sebuah ide baru untuk menghayati makna Natal bukan sehari dalam setahun tapi setiap hari sepanjang tahun. Sulit, tapi mari berusaha. Dan nggak ada yang mustahil kalau dengan pertolongan Tuhan, kan? 🙂