Pindah *lagi*

Simply karena saya sudah menikah, dan kata Pak Pendeta kami sudah menjadi satu daging, jadi nggak ada point-nya lagi untuk memisahkan blog pribadi dengan blog berdua,

dengan ini… blog GIG ditutup.

*padahal alasan sebenernya sih karena nggak sangguh ngurus 2 blog sekaligus*

==========================

Haha, OK versi seriusnya… Ternyata secara tidak direncanakan, kami mendulang *emangnya emas(?)* lebih banyak pembaca di Cerita Bendi dibanding di GIG. Dan melalui blog itu, saya bisa kenalan dan *merasa* berteman sama beberapa orang yang sampe sekarang sebenernya belum pernah ketemu.

Dan memang, karena udah nikah, toh kisah hidup saya pasti nyambung-nyambungnya sama si Mas yang satu itu. Jadi… pointless juga kan untuk mencoba memisahkan yang mana yang harusnya masuk GIG dan yang mana yang harusnya masuk Cerita Bendi.

Jadi…. mari kita pindah *lagi*. GIG nggak akan saya tutup, tapi nggak akan saya update lagi. Saya (dan si Mas Ben) akan share kisah dan pemikiran kami di blog Cerita Bendi.

Dan emang saya kerepotan sih ngurus 2 blog *teteup*

Yah…anggaplah semua alasan saya ini valid lah ya… lalu, silahkan rajin-rajin klik screenshot di bawah ini.

See you di Cerita Bendi!

Believe

“JalanMu tak terselami
Oleh setiap hati kami
Namun satu hal kupercaya
Ada rencana yang indah

Tiada terduga kasihMu
Heran dan besar bagiku
Arti kehadiranMu slalu
nyata di dalam hidupku

PenyertaanMu sempurna
RancanganMu penuh damai
Aman dan sejahtera
Walau di tengah badai

Ingin ku slalu bersama
Rasakan keindahan
Arti kehadiranMu Tuhan”

(A song by Jonathan Prawira)

Ya, Tuhan, aku percaya. Rancangan Tuhan tak pernah salah

2011 Review by WordPress

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Happy New Year, semuanyaaaa!!!!!

Jiaaah canggih aja nih WordPress. Saya aja belom sempet upload review hidup saya selama 2011, WordPress malah udah colong start, bikin review blog saya selama 201. Singkat cerita, beginilah ‘rapor evaluasi’ blog saya

Blog ini dikunjungi sekitar 4400 kali selama tahun 2011

Dengan posting yang paling sering dikunjungi:

  1.  10 Kali Pertama dalam 24 Jam – 8 comments – June 2011
  2.  Something Borrowed dan Persahabatan Tiga Turunan – 16 comments – July 2011
  3.  My Sassy Girl – 6 comments – May 2011
  4.  Limitless – 2 comments – May 2011
  5.  Rahasia – 3 comments – January 2011

 

Sedangkan temen-temen yang paling sering komen adalah:

  1.   dea – 22 comments
  2.   bun ( -> ini maksudnya Mas Ben) – 17 comments
  3.   Brigitta – 10 comments
  4.   gloryekasari – 3 comments
  5.   nirmala – 3 comments

Makasih ya, Man-Teman!!!!!!! *kiss kiss*

 

Dan hari ter-ramai buat blog ini adalah 2 Juni 2011, dengan 188 views *eh serius loh eke melotot kaget liat angka ini!*. Dan di hari itu, posting yang paling sering diliat adalaaaah……. 10 Kali Pertama dalam 24 Jam.

 

Giling saya nggak pernah kebayang bisa diliat 188 kali dalam sehari. Dari mana ya orang-orang itu dapet link blog saya? Ternyata eh ternyataaaa, WordPress kasih tahu juga jawabannya. Banyak dari mereka di-refer dari:

Buat Dea, Laras, Mel O, dan Mark Zuckerberg…..trimkisi very much!

Dan buat temen-temen yang penasaran betapa kerennya report yang dibuat sama si WP ini, bisa klik link di bawah.

Click here to see the complete report.

 

 

GIG: Review blog yang melebihi ekspektasi… ternyata tulisan curahan hati dan pemikiran banyak dibaca orang juga yah…. semoga banyak juga yang terberkati, semoga nama-Nya bisa dimuliakan melalui tulisan-tulisan ini.

Rambut? Siapa Takut?

Saya yang takut…. hihihihi

 

Sejak kecil, saya dianugerahi rambut tebal. Gak cuma di kepala, tapi juga di kaki. *hiks hiks*. Dan karena berasal dari keluarga konservatif, yang sebelumnya nggak pernah ada wanita dengan rambut kaki setebal dan sebanyak saya, saya nggak dapet ijin (dan nggak terpikir) buat menghilangkan rambut-rambut itu. Salah satu alesannya juga karena saya sering ditakut-takutin, kalo dicukur ato di-wax, nanti tumbuhnya tambah tebel.

Lalu… menjelang lulus SMA, temen-temen saya mulai ada yang wax rambut kaki, dan tentu saja saya minat ngeliat kaki-kaki mulus mereka. Walau masih sedikit parno, pemandangan rambut subur di kaki saya udah semakin mengganggu. Jadi setelah mencari info ke sana ke mari, saya (dengan minta ditemani Mami saya yang funky) memberanikan diri ke salon untuk waxing.

Ternyata waxing nggak seseram dan sesakit yang biasa digambarkan di film-film. Rasa sakitnya biasa aja. Dan pada tarikan pertama, komentar spontan Mami saya adalah:

“Waaaah ternyata kaki kamu putih ya!!!!”

JEGER.

Yah begono deh, saya juga baru tahu sebenernya. Jadi karena seumur idup ketutup rambut, kaki saya keliatan agak dekil, dan begitu kertas wax pertama ditarik, langsung ada pitak yang memamerkan kulit putih saya *tsah*. Dan dari sinilah, saya mendapat restu sepenuhnya dari Mami untuk membumihanguskan rambut-rambut kaki setiap kali mereka mulai menampakkan diri.

Selama kuliah, saya rajin waxing di salon langganan deket kampus. Setidaknya sebulan sekali lah, demi kaki mulus senantiasa.

Lulus kuliah, saya nggak berhasil menemukan salon yang bisa waxing murah meriah di daerah rumah saya. Jadilah saya beralih ke razor, yang ternyata bawa masalah baru: rambut-rambut saya ada yang numbuh ke dalam. *duh*. Kebayang ga? Jadi ada beberapa rambut yang numbuh, keliatan ada rambutnya, tapi nggak bisa dipegang, karena dia tumbuh di bawah lapisan kulit paling atas yang bening. Ckck. Dan setelah baca-baca, ternyata itu memang salah satu efek samping razor.

Lalu saya beralih, beli gel untuk wax sendiri di rumah, yang mana nggak segampang yang saya bayangkan. Rambutnya nggak bener-bener bersih. Dan puncaknya, sekitar pertengahan tahun ini, saya nyoba waxing di salon Y*P*E… yang ternyata mengakibatkan kaki saya iritasi lumanjen parah. Lapisan kulit saya yang paling atas kayak ikut ketarik, jadi ninggalin bekas kemerahan berukuran lumayan besar-besar dan gatal. Hiks hiks.

Saya pun ke beautician buat ngilangin bekasnya. Dan dia saranin saya buat nyoba laser hair removal.

Sebenernya, saya udah denger metode itu dari beberapa tahun lalu, dan udah bikin ngiler banget, secara janjinya bisa ilangin rambut permanen. Tapi begitu denger harganya, saya langsung melotot. Huks, mahal bener. Dan karena ngilangin rambut tentunya bukan prioritas, saya milih razor aja deh.

Tapi kan sekarang kondisinya saya lagi mentok sana sini nih. Razor bermasalah, waxing bersamasalah. Hiks. Nelangsa banget hati ini rasanya, bagai ditutup semua pintu bagiku untuk menjadi sedikit lebih mulus *nangis garuk-garuk pintu*

Tapi ehtapi… walau semua pintu ditutup, Tuhan bukain jendela tuh. Hihi.

Di waktu yang genting itu *OK saya lebay*, paaaaas ada promo laser hair removal dari Coslab di Disdus

Kira-kira kaya gini prosedurnya

Owalah menariknyooooo. Promo ini paket 6x laser hair removal untuk armpit dan kaki. Apalagi promonya di Coslab yang mana deket bener sama rumah saya. Plus lagi, diskonnya sampe 90%…. yang tragisnya… tetep mahal buat kantong saya. Huks huks.

Setelah beberapa hari mencari wangsit, mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya saya merelakan nominal itu, karena mengingat my hubby-to-be semacam phobia rambut-yang-kurang-pada-tempatnya. Ckck. Mengapakah Tuhan mempertemukan pria phobia rambut dengan wanita berambut banyak, ya? 😀

Iya bayangin ye… pernah suatu ketika, waktu lagi main di rumahnya, nggak sengaja dia ngeliat my armpit hairs yang nongol dikit. Beneran dikit looooh… masih pendek numbuhnya, bukan yang semacam Ev* Arnaz itu….. Dan apa dong yang dia lakukan? Dia langsung ngasih saya razor, suruh bumihanguskan saat itu juga. *tsk* Dan tak lupa dia mengingatkan saya untuk mencukur segala rambut-rambut itu setiap hari. Astaga, bayangkan hidup bersama dia seumur idup, dibangunkan dengan  razor di depan muka setiap pagi?!

Jadi….okelah, anggaplah ini investasi seumur hidup.

Dan kemarin saya udah ambil session keenam (terakhir) saya. Hasilnya gimana? Puasssss. Memang belum mulus-mulus banget karena menurut mereka, yang mulus itu biasanya sekitar 10x (tapi kan mahaaaaal buat nambah paketnya *kekepin dompet*). Tapi segini juga udah bikin saya hepi. Yang numbuh tuh tinggal rambut-rambut yang agak tebal. Selebihnya menghilang ditelan bumi. *Yeay*. Ah senangnya… semoga beneran permanen yaaaaaa minimal jangka panjang deh ah.

 

GIG: Otak manusia-manusia pintar yang udah nyiptain teknologi laser hair removal, otak manusia-manusia cerdas yang udah nyiptain situs-situs jualan voucher diskon….

First Anniversary

First anniversary apa? Sama Mas Ben jelas-jelas udah ngelewatin 4th anniversary. Punya pacar lain? Tentu tidak! *kalopun iya kan nggak bakal eke publish di sini* *langsung diinterogasi Mas Ben* :p

First anniversary of my love-hate-relationship with Delamibrands. *yihaaaa*

Suatu hari di akhir Juni 2009, seorang mahasiswi DKV akhirnya berhasil melewati sidang Tugas Akhirnya dengan lancar. Ia ingin segera hunting kerjaan, tapi satu dan lain hal membuatnya baru bisa kirim-kirim CV dan portfolio di bulan Agustus. Setelah hampir putus asa karena hampir dua bulan nyebar CV ke mana-mana, interview di sana sini, tapi nggak dapet-dapet panggilan…. Setelah sedikit demi sedikit menurunkan standar dan berkompromi dengan mimpi, akhirnya ia diterima di sebuah perusahaan. Sebuah perusahaan yang jauh dari impiannya, tapi setidaknya bisa memberikan ‘imbalan’ yang lumayan menjanjikan dan ketenangan bahwa ia bukan lagi pengangguran.

Awal Oktober, di hari pertama ia bekerja, ia sudah memutuskan untuk resign dalam waktu dekat.

Terlihat impulsif, tapi di hari pertama ia tahu ini bukan tempatnya. Masuk bulan ketiga, di awal Desember, ia menyatakan niatnya pada atasan, tapi ditolak. Ia diminta menunggu setidaknya dua bulan lagi, atau sampai ia bisa dapat pekerjaan pengganti. Dan ia setuju.

Pertengahan Januari, ia dipanggil ikut tes masuk sebuah perusahaan multinasional. Sebuah perusahaan, yang produknya ia pakai sehari-hari. Sebuah perusahaan raksasa baginya, di mana ia nggak pernah mimpi untuk masuk ke sana, di bidang yang sebenarnya bukan bidangnya: marketing. Ia dipanggil sebagai bagian dari beberapa ribu orang terpilih walaupun ia nggak pernah mencoba melamar. Perusahaan ini menjanjikan prospek yang amat besar. Jangan tanya gajinya atau jenjang kariernya, sudah pasti memuaskan. Maka si desainer pikir, apa salahnya dicoba? Iseng-iseng berhadiah.

Iseng-iseng membawanya mengikut tes pertama: semacam interview tertulis, dengan mengisi form yang sudah disediakan. Banyak temannya yang ternyata nggak lanjut ke tahap kedua: phone interview, tapi si desainer ternyata lulus. Lulus jenjang pertama mulai menumbuhkan bibit harapan. Sebelum masuk kantor, si desainer menyempatkan diri mengikuti phone interview. Ia pesimis, apalagi setelah kabar yang ditunggu tak kunjung tiba. Suatu sore di dalam bioskop, ponselnya berbunyi. Dan orang di seberang sana memanggilnya untuk ikut psikotes lanjutan. Ternyata ia lulus ke tahap tiga.

Dan di akhir Februari, si desainer optimis untuk resign dari tempatnya bekerja. Di titik ini ia sebenarnya sudah diterima di sebuah advertising agency yang cukup kondang, tapi ditolaknya karena masalah jarak *yang gak sepadan sama gaji hihi*

Tahap tiga dilaluinya dengan otak ngebul tapi cukup optimis. Dan ia ternyata dipanggil lagi ke psikotes tahap dua. Dan setelah ini adalah tahap terakhir: Assestment Center. Di mana para peserta yang udah diseleksi sedemikian rupa dikumpulkan seharian, ‘dipaksa’ debat-presentasi-debat-presentasi. Dan suatu hari ketika si desainer lagi ikut retreat di puncak, ia dikabari kalo ia lulus ke tahap akhir.

Harapan yang tadinya kecil, makin lama makin besar. Ia sudah gak punya pekerjaan tetap (freelance aja) dan ia sudah di tahap akhir. Tapi tahap akhir ini langsung bikin dia sadar kalo dia nggak akan lulus. Dan kalopun lulus, kayaknya dia juga nggak akan berani nerima pekerjaan ini. Otaknya ngebul, hatinya minder ngeliat para kandidat lain. Dan sesuai perikiraan, ia tidak lulus.

Pupus sudah. Antara kecewa tapi juga tahu kalau memang tak layak. Dua bulan terkatung-katung mencari kerja, akhirnya awal Mei mulai bekerja di sebuah advertising agency berusia muda.

Di sini ia bertekad bertahan minimal satu tahun karena ogah dapet predikat kutu loncat. Teman-teman di sana menyenangkan. Pekerjaan awalnya menyenangkan, tapi lama kelamaan mulai membuatnya enggan. Satu dua hal mengecewakan, tapi belum muncul ide resign di kepalanya.

Hingga suatu pagi, ia mendapat e-mail, undangan interview untuk posisi graphic designer di Delamibrands. Si desainer bingung, ngerasa nggak pernah ngelamar ke perusahaan ini. Jangankan ngelamar, denger namanya pun nggak pernah. Searching sedikit di Google, ternyata perusahaan ini membawahi brand-brand fashion yang udah dikenal (dan dipakainya) sejak abege. Hmmm.

Ia mulai tertarik.

Tapi ragu… karena komitmennya untuk bertahan satu tahun.

Singkat cerita, ia pergi tes, dan dengan proses yang cepat, ia diterima.

22 November 2010, ia menjadi salah satu graphic designer Delamibrands.

Dan disinilah si desainer – saya – setahun kemudian. Masih bertahan entah sampai kapan.

Dulu… saya suka mikir, apa orang kerja tuh kayak gini-gini aja ya… Sekedar memenuhi kewajiban. Datang pagi sekedar nggak terlambat. Kerja lembur sekedar memenuhi deadline. Masuk kerja tiap hari sekedar supaya bisa terima gaji.

Apalagi waktu rajin denger Rene si Career Coach, saya makin mempertanyakan apa passion saya.

Baru di Delami, saya bisa tahu rasanya kerja dengan passion. Saya nggak bilang tiap hari semangat kerja dengan sepenuh hati. Tapi saya jadi tahu gimana rasanya semangat ngajuin ide-ide baru, bukan cuma supaya dapet gaji, tapi karena saya peduli. Bukan berarti juga saya selalu hepi. Tapi saya jadi tahu gimana rasanya rela stress supaya bisa menghasilkan yang terbaik.

Saya nggak bilang ini passion saya. Somehow saya tahu bukan ini passion saya.

Tapi rasanya banyak hal-hal yang bikin saya passionate waktu kerja di perusahaan ini. Entah industrinya yang fashion retail, produk-produk fashion yang memanjakan mata, brand yang membuat saya bangga, atau ruang yang luas untuk memberi kontribusi. Rasanya gabungan semuanya.

Tapi salah satu yang punya andil besar ya boss saya.

Boss saya, macam tokoh antagonis di kantor. Tapi dia orang yang jelas dengan visinya. Dia juga pendidik yang luar biasa buat saya. Dia mementor saya yang buta soal retail, fashion, interior, dan nggak kehilangan kesabaran waktu saya nggak memberi kotribusi terbaik waktu dia memberikan kepercayaan. Pernah dengan pedenya dia bilang dia bisa bikin orang mencintai apa yang dia kerjakan. Dan dia melakukannya ke saya.

Kalau banyak yang nggak suka sama dia, saya nggak heran. Dia seringnya emang terlihat keras dan sulit disenangkan. Tapi dia juga boss yang repot mikirin kalo saya pulang malam, dan nungguin serta sibuk bolak-balik tanyain progress kerjaan saya waktu saya harus lembur ngerjain sesuatu yang bukan tanggung jawab dia.

Dia yang kadang bikin saya pengen resign aja. Tapi dia juga yang bikin saya merasa beruntung kerja di sini, sampe berani ngajak temen saya kerja di sini juga. Hihi.

Mmm sepertinya saya akan bertahan lumayan lama di sini ya?

 

 

Happy anniversary to me 🙂

 

 

 

BIL dan Papi-Mami

Andaikan blog ini seperangkat perhiasan imitasi, saya rasa warnanya udah mulai menguning ke arah menghitam.
Andaikan blog ini mahasiswa baru, saya rasa udah mau menghadapi UTS pertamanya.
Andaikan blog gudang tak terisi, saya rasa sarang laba-laba di dalamanya udah memenuhi setiap pojokan.

OK, cukup berandai-andainya, kesimpulannya, udah dua bulan saya nggak ngeblog di sini.

Di sini? Ya di sini… karena salah satu alasan saya nggak ngeblog di sini adalah karena saya punya BIL.

BIL

Saya pernah denger, kata orang tahun kedua dan keempat pacaran adalah masa-masa rawan. Either lo putus ato lo lanjut dan jadi pasangan yang solid. Dan buat saya (setidaknya buat saya sih, Mas Ben kayanya adem-adem aja), mitos ini kayanya beneran kejadian (walaupun saya baru tahu mitosnya setelah kejadian :p). Seinget saya di tahun kedua ada masa-masa ‘seru’, tapi berhasil kami lewati dengan sukses. Dan di tahun keempat, tepatnya sekitar akhir 2010 kemarin juga masa-masa seru buat kami. Hihi.

Tapi tiap kali lewat dengan selamat dari masa-masa seru itu, hubungan kami rasanya makin solid dan komitmen makin jelas *eh curhat*. Nah kayaknya inilah awalnya saya berpikir untuk mempunyai BIL – Blog Idaman Lain. Yah maapkan ke-tidaklucu-an saya karena menciptakan istilah BIL ini. Hihi.

Waktu itu, karena lagi hepi-hepinya dan lagi merasa penuh kemenangan karena berhasil melewati rintangan, saya jadi pengen mendokumentasikan hepi-hepi dan lucu-lucunya hubungan kami, dengan tujuan kalo nanti suatu saat ketemu ‘masa seru’ lagi, saya bisa melihat ke belakang dan inget lagi betapa bersyukurnya saya akan hubungan ini.

Karena itu, buat yang berminat, atau sedikit kepo, silahkan menikmati ‘kisah cinta’ kami *mendadak geli sendiri* dengan meng-klik screenshot di bawah ini. Enjoy!

Note: Sejujurnya, sekarang saya rada bingung yg mana yang mau ditulis di blog ini, yang mana yang mau ditulis di si BIL. Sekarang sih segmentasinya, si BIL hanya berisi kisah-kisah antara saya dan pacar. Sedangkan blog ini berisi kisah-kisah pribadi, menyangkut kehidupan saya sehari-hari bersama Pacar Pertama yang menciptakan saya. Tapi nanti…. kalo sang pacar udah bener-bener menjadi bagian dari kehidupan saya *tsah* gimana ngebaginya ya? Ah… ya lihat saja nanti biar waktu yang akan menjawab. wkwkwkwk

Papi-Mami

Apa hubungannya dengan Papi-Mami saya? Jawabannya: Nggak ada. Lagi pengen cerita aja. Haha

Baru-baru ini waktu lagi denger kotbah tentang Samuel di gereja, saya tiba-tiba inget sebuah momen waktu Mami saya ceritain ke saya kisah tentang Tuhan memanggil Samuel sampai tiga kali. Samar-samar saya masih inget gimana Mami ceritain kisah ini dengan seru, walaupun nggak akurat banget, soalnya waktu itu kayanya saya bayangin Samuelnya lagi tidur di kamar (mungkin Mami kerepotan jelasin tentang Ruang Mahakudus ke anak balita, jadi dia cuma bilang lagi tidur, dan saya langsung mikir tidur itu di ranjang, di kamar. Hehe). Lalu Mami mencontohkan ‘suara Tuhan’. Suaranya diberat-beratin, lalu manggil:: “Samuel… Samuel…”. Dan the rest kalian tahu lah ceritanya.

Saya jadi mikir, kisah ini salah satunya yang bikin saya jadi anak yang berani tidur sendirian di kamar dengan tenang (padahal awalnya saya rada penakut deh). Saya selalu mikir ada Tuhan yang jagain saya (dan emang bener kaya gitu kan). Samuel aja dipanggil sama suara yang nggak ada wujudnya, tahunya itu suara Tuhan. Hehe.

Dari memori itu, saya jadi inget satu demi satu momen-momen di mana Mami ngajarin saya tentang Tuhan dengan cara-cara uniknya.

Bapak Yesus Disalib

Saya masih balita dan Mami nemenin saya main, lalu dia keluarin kertas HVS dan bolpen, lalu gambar sebuah garis lengkung dengan kurva ke atas, sambil ngomng: “Ini bukit, namanya bukit Golgota.” Terus dia gambar orang-orangan (yang lingkaran, terus dikasih garis jadi badan, kaki, dan tangan) di kaki bukit itu, dengan salib di pundaknya. “Ini namanya Bapak Yesus. Bapak Yesus mau disalib di atas bukit. Dia harus mikul salibnya sendiri naik ke atas.”. Lalu dia gambar si ‘Bapak Yesus’ ini di tengah-tengah lereng bukit (ceritanya udah di tengah jalan gitu), dilanjutkan gambar beberapa orang-orangan di kaki bukit. “Orang-orang jahat teriak-teriak ke Bapak Yesus, bilang ‘Salibkan Dia! Salibkan Dia! Padahal sebenernya Bapak Yesus orang baik, tapi Dia harus disalib supaya Dina bisa masuk surga.”

Yah begitulah kira-kira. Saya pastinya nggak inget persis ya Mami ceritanya kayak gimana, wong udah 20 tahun yang lalu *mendadak berasa tua*. Rasanya saya waktu itu bener-bener masih terlalu kecil, sampe nggak keluar pertanyaan apa-apa akan cerita yang ‘aneh’ itu (seperti: apa itu disalib? Saya bahkan nggak ngeh kalo disalib=dibunuh). Saya cuma tertarik sama cara Mami cerita. Sampe di waktu-waktu berikutnya, nggak sekali-dua kali saya dateng ke Mami sambil bawa kertas putih dan bolpen terus ngomong “Mami, ceritain lagi yang orang disalib” (kok kedengerannya sadis ya sekarang? Haha).

Tapi caranya bercerita sukses menanamkan di otak saya (belom sampe hati) kalo ada sebuah sosok bernama Bapak Yesus (entah kenapa Mami selalu nambahin kata ‘Bapak’ kalo cerita Yesus ke anak kecil) yang harus disalib supaya saya bisa masuk surga.

Bayi Yesus Lahir!

Usia saya waktu itu sepertinya sekitar 5 tahun. Menjelang bulang Desember, Mami ngajak saya ke toko buku Immanuel. Kami ngeliat satu set pajangan tokoh-tokoh Natal (Yusuf, Maria, bayi Yesus, malaikat, gembala, orang majus, lengkap dengan palungannya) dari keramik dan langsung dibeli mami. Sampe di rumah, saya langsung nggak sabar ngebuka kotaknya, dan dibiarin aja sama Mami. Dia sama sekali nggak kuatir saya bakal pecahin pajangan-pajangan itu sebelum Natal lewat. Terus… dia malah menghampiri saya, dan mulai cerita deh pake pajangan-pajangan itu. Mulai dari Maria didatengin malaikat, lalu Maria datengin Yusuf, lalu Maria dan Yusus pergi ke Betlehem naik keledai, lalu cari-cari penginapan tapi semua penuh. Saya inget karena nggak ada tokoh pemilik penginapan di pajangan itu, si pajangan gembala biasanya jadi dapet ‘peran’ dobel. Hehe. Lalu Maria melahirkan di palungan, lalu gembala dateng, lalu orang Majus dateng ngikutin bintang, ketemu Herodes, lalu berhasil nemuin bayi Yesus.

Dan sama seperti cerita penyaliban, setelah Natal lewat dan pajangan ini tersimpan dalam box-nya, sekali-kali saya dateng ke Mami bawa-bawa box ini: “Mami, ceritain lagi cerita Natalnya”. Dan mami akan mulai cerita lagi pake pajangan-pajangan itu. Dan yang saya inget, next-nya, malah saya yang ceritain ke Mami pake pajangan-pajangan itu: “Mami, gini bukan ceritanya…?”.

Cerita Alkitab

Yang saya maksud dari cerita Alkitab adalah sungguh-sungguh menceritakan isi Alkitab. Hehe. Dari dua cerita di atas, bisa menyimpulkan dong kalo Mami saya memang punya talent bercerita? Nah ada masa-masa di mana, buku bacaan saya udah abis dibaca, dan belum ada majalah Bobo yang baru. Di masa kayak gini, Mami akan suruh saya buka kitab Lukas dan cari perikop buat dia ceritain. Kenapa Lukas? Karena menurut Mami, kitab itu yang paling banyak perumpamaan buat diceritain. Jadi saya bakal milih perikop yang menarik hati saya, yang belom pernah saya denger, lalu Mami akan ceritain ke saya sambil baca langsung Alkitabnya. Tentunya dengan bahasa anak-anak yah, ceritanya. Dan kalo itu perumpamaan, dia jelasin juga maknanya. Canggih kan Mami saya.

Nyanyi Sebelum Tidur

Selain cerita, ada kegiatan lain yang sering Mami lakukan sebagai pengantar tidur: ngajarin nyanyi. Hehe. Nah kalo ini kejadiannya waktu saya sekitar kelas 1 SD. Waktu itu, sekolah saya mewajibkan murid-murid SD punya sebuah buku nyanyian. Saya lupa namanya apa, tapi bentuknya kecil dan warnanya merah. Lulusan SD Penabur tahun 90-an pasti tahu buku ini.

Buku ini berisi lagu-lagu rohani anak-anak, lengkap dengan not angka dan teks-nya. Sebelum tidur, waktu nggak ada lagi bacaan untuk diceritakan, kita buka buku nyanyian ini, dan nyari lagu yang kita sama sekali nggak tahu. Lalu…? Lalu kita belajar nyanyi sambil baca not angkanya pelan-pelan. Ya, jadi saya udah belajar baca not di kelas 1 SD, diajarin Mami saya, di atas ranjang. Hehe. Canggih ya. Mungkin anak kecil emang lebih gampang nyerep ilmu ya, saya bisa aja tuh ngikutin Mami saya baca not.

Berkat ajaran ini, saya belajar banyak lagu rohani anak-anak. Saya juga jadi bisa belajar lagu baru dengan cepat, dan nolong banget waktu saya jatuh cinta dengan paduan suara di kemudian hari.

—o0o—

Inget-inget semua ini, bikin saya bersyukur banget, Mami udah memperkenalkan Yesus dengan cara-cara yang sangat fun, sehingga nggak ada beban sama sekali buat saya mempelajari hal-hal tentang Dia. Mami mau menginvestasikan waktu dan tenaganya, optimal, untuk hal yang satu ini. Dan suatu saat, kalo saya juga punya anak, saya mau banget meniru kretifitasnya. Saya mau anak saya juga nanti bisa belajar tentang Tuhan dengan hepi.

Sampai di point ini, saya nyaris merasa Mami saya superhero sementara Papi saya nothing, dalam hal memperkenalkan Yesus ke saya. Haha iya, ini ungkapan yang lebay sih, tapi yah gitu lah pokoknya… :p Tapi langsung berubah dong… begitu Mami cerita kalo Dulu Papi yang ngotot buat ‘maksa’ saya ke Sekolah Minggu walaupun saya ngerengek nggak mau pergi.

Jadi ceritanya, sekitar umur 3 tahun saya udah dibawa ke Sekolah Minggu. Karena masih kecil, kerjaannya ya banyakan gambar-gambar, lipet-lipet, gunting-tempel, mewarnai. Gitulah. Nah si guru SM ini entah kenapa selalu salah nyebut saya dengan nama GINA. Dan ini udah diralat loh beberapa kali, tapi dia tetep panggil saya Gina. Puncaknya, suatu hari saya gambar ayam dan si guru SM ‘mengkritik’ gambar ayam saya. Saya lupa deh, dia pokoknya bilang: “Ayam kok begitu? Harusnya begini kan.”. Sementara saya di rumah kalo gambar ayam ya kaya begitu dan nggak ada yang complain tuh, jadi saya agak kesal (sensi-nya segede badan. Hahaha). Lalu…. kan gambarnya dikumpulin buat ditulisin nama kita sama si guru SM (kita kan umur 3 tahun, nggak semuanya bisa nulis). Dan dia nulis nama saya GINA! (saya kayanya udah bisa baca deh, tapi belom lancar nulis).

Saya pun tambah sebel. Mutung. Minggu depannya, saya milih nonton Doraemon dan Candy-Candy sementara keluarga saya ke gereja semua. Dan bolos ke Sekolah Minggu berlangsung kira-kira sebulan. Sampai akhirnya Mami saya membujuk rayu pelan-pelan, nyariin temen buat saya, dan akhirnya saya mau ke Sekolah Minggu lagi walaupun bukan SM yang dulu (jadinya pindah SM gituuuh).

Dan ternyata aktor intelektual di balik pemaksaan saya kembali ke SM ini adalah Papi saya. Eksekutor emang Mami saya sih… tapi tetep aja otaknya ya Papi saya ituh…

GIG: Hadiah terindah adalah memiliki orangtua seperti mereka. Saya bangga dan bersyukur banget punya orangtua seperti mereka. Kalo Papi nggak dengan tegas mengharuskan saya ke Sekolah Minggu…. Kalo Mami nggak dengan lembut dan kreatif menceritakan kisah Alkitab… mungkin sekarang saya akan jadi orang yang berbeda. Dan suatu saat nanti, saya mau jadi orangtua yang seperti itu juga.

Something Borrowed dan Persahabatan Tiga Turunan

Perhatian: Mungkin mengandung spoiler. Jadi kalo yang masih niat pengen nonton “Something Borrowed” mendingan jangan lanjut baca dulu. Abis nonton, baru balik lagi aja yaaaaaa, buat baca dan komen… *ngarep*

Sebelumnya, saya mau beralasan dulu kenapa saya jadi jarang nge-blog, padahal ada buanyaaaak banget ide di kepala saya yang siap ditumpahkan. Mm gini… Kira-kira satu bulan belakangan, meja kantor saya pindah ke lantai satu dengan posisi monitor persis ke hadapan meja boss saya. Sebelumnya… saya duduk di lantai tiga, pojokan, jauh dari peradaban. Hehe. Dan tahu sendiri dong, waktu-waktu paling produktif untuk nge-blog ya pas lagi nggak ada kerjaan di jam kantor *oops * dan nggak mungkin dong saya nge-blog dengan monitor yang ngadep ke muka si bu Boss? Nanti ketahuan kalo saya blogger kondang #eh? Sedangkan begitu sampe rumah, udah teler dengan kemacetan ibukota, dan pengennya cuma nempel sama sofa. Jadi mohon dimaklumi *nyengir manis *

Dengan belum adanya penyelesaian masalah pajak film impor, saya lumayan girang waktu liat ada film comedy romance yang kelihatannya lumayan di page ‘NOW PLAYING’. Aniway, kategori lumayan saya waktu itu: ada Kate Hudson. Hehe. Dan langsung deh ajak nonton si pacar.

Poster yang ini bagus

Poster versi yang ini juga bagus...

Tapi kenapa yang keluar di sini malah versi yang ini? Biasa banget gak sih?! *protes aje*

Something Borrowed entah kenapa terasa mirip banget temanya sama Bride Wars, ditambah lagi yang main juga Kate Hudson dengan karakter peran yang juga mirip: suka mendominasi dan jadi pusat perhatian secara berlebihan, tapi sangat sayang pada sahabatnya.

Ya, singkat cerita, film ini tentang sepasang sahabat cewe sejak kecil: Darcy dan Rachel. Darcy ceria dan menikmati hidup, Rachel serius dan terpelajar. Darcy suka mendominasi dan mengutarakan pikirannya, Rachel bersedia ditindas dan selalu mengutamakan sahabatnya. Tipikal kan? Hehe. Lalu di mana konfliknya?

Diceritakan, Darcy udah bertunangan dengan Dex, yang sebenernya sahabat Rachel di masa kuliah. Di hari ulangtahun Rachel ke-30, dalam keadaan setengah mabuk, dia keceplosan bilang kalo dia had a crush on Dex di masa kuliah. Nggak disangka, gayung bersambut, Dex juga sebenernya tertarik pada Rachel. Lalu di sinilah konfliknya, gimana Rachel harus memutuskan antara persahabatan dan cinta impiannya. Dan gimana Dex harus memutuskan perasaannya.

Endingnya? Saking klisenya, sampe nggak ketebak. Bingung kan? Buat saya dan pacar sih, rasanya kayak nggak ‘puas’ dengan endingnya. Pas credit title muncul, komen yang keluar dari mulut kita: “Lah kok gini sih filmnya?” Haha.

Tapi tema ceritanya bikin saya membayangkan satu orang di sepanjang film. Bukan si pacar, tapi si Dea. Hahahahahahahahaha. Siapakah Dea?

—o0o—

Dea, nama panggilan dari Amadea Sulia Limas. Singkat cerita, Omanya Dea dan Engkong saya, rumahnya dekat, dan mereka saling kenal cukup baik. Karena itulah, Mama saya sering main ke rumah Oma Dea untuk main dengan tantenya Dea. Karena itu juga, begitu saya masuk TK yang sama, dan seangkatan pula, kita seperti ‘ditakdirkan’ untuk berteman begitu saja. Saya nggak punya kesan apa-apa tentang Dea waktu TK, karena kami nggak sekelas dan punya teman main masing-masing. Saya cuma kenal dia sebagai anaknya teman Mama saya.

Momen pertama yang saya inget saya mulai lebih ‘notice’ keberadaannya, adalah waktu kelas 1 SD dan saya nggak tahu jawaban dari salah satu PR pelajaran agama. Mama saya suruh saya telepon Dea buat tanya jawabannya karena keluarga dia emang kelihatan lebih religius daripada keluarga saya. Hehe. *eniwei si Dea pasti nggak inget kejadian ini*. Dan sejak itu, image Dea di mata saya adalah anak baik, rajin, alim, dan cinta Tuhan yang datang dari keluarga baik-baik dan harmonis. Tapi kami tetep nggak berteman dekat, dan sibuk dengan teman masing-masing.

Lalu *kalau nggak salah* kelas 5 SD kami akhirnya sekelas, dan entah gimana, jadi sering main bareng. Nggak main berduaan aja, tapi rame-rame sama beberapa temen cewe dan cowo yang lain. Malah, sebenernya temen saya yang paling deket waktu itu juga bukan Dea. Tapi lucunya, saya punya beberapa foto berdua dia waktu lagi karyawisata ke Taman Safari.

Hidup geeks!!!! Saya (kiri) kok bulet banget ya? *kayak sekarang kurus aje*

Ckckck… sungguh penampilan yang kurang patut dibanggakan. Haha. Ya, kami dua kutubuku-berkacamata-langganan ranking tiga besar. Dea emang udah berkacamata tebal dari kelas 1 atau 2 SD, sedangkan saya di foto itu baru mulai pake kacamata. Tapi kenapa gaya kami kecentilan gitu yah? haha

Sejak itu, kami makin deket, suka pinjem-pinjeman komik, main kejar-kejaran bareng, ikut kolintang bareng, nari bareng, naksir cowo yang sama…. *oops*. Dan lalu kami masuk SMP dan SMA yang berbeda.

Tapi karena kami emang satu gereja, saya dan Dea tetep sering ngobrol bareng. Lalu waktu saya mulai ikut pembinaan pembimbing kelompok kecil, saya berhasil rayu-rayu dia untuk ikut juga, jadilah kami pelayanan bareng. Dan mungkin emang jodoh, tiap kali retreat gereja, sampai saat ini, baik sebagai peserta, sebagai pembimbing, sebagai panitia, entah kenapa, kita BELUM PERNAH pisah kamar! Padahal yang nyusun kamar nggak selalu tahu loh kalo kita itu bertemen. Sungguh aneh tapi nyata. Sampe ada seorang temen kami yang nggak bisa bedain yang mana Dea, yang mana Dina. Bukan karena kami mirip, tapi karena kami “dituduh” selalu bareng ke mana-mana.

Sampai tiba waktunya, menjelang lulus SMA, kami sharing soal mau kuliah apa setelah lulus. Dan bener-bener nggak diduga dan nggak janjian, kami ternyata naksir Univ yang sama. Kalo dipikir-pikir sekarang, creepy juga ya. Dia milih desain interior, saya milih DKV. Dan mulailah muncul wacana untuk ngekost bareng, dan akhirnya beneran kami jadi housemate selama empat tahun.

Langsunglah kami ditakut-takutin soal kalo tinggal serumah suka jadi berantem dan bla bla bla… Tapi ternyata kita lulus “ujian hubungan” selama empat tahun dengan selamat!!! *YEAY* yang ada kita malah jadi tambah saling menyayangi. Hihiy. Kita ternyata cukup saling mengenal, jadi kalo salah satu lagi bete ato nggak mood, yang satu langsung ngeh dan jaga jarak.

Masa kuliah. Udah cakepan kan? Hidup softlense!!!!

Pose gila menjelang ujian. Tiap mau ujian kita selalu impulsif: belanja ato bikin foto aneh. Eniwei itu mulut saya nggak beneran segede gitu yeeeeee. Optical illusion

Semasa kuliah, kita sangat akur, juga gabung di komunitas kristen yang sama di kampus. Kami saling menumbuhkan dan membangun satu sama lain, dalam karakter, pengenalan diri, dan kehidupan rohani (ya gak, De?). Dan begitu lulus kuliah, saya dan Dea mulai menjalani hidup kami masing-masing, sesuai profesi.

Tapi hawa-hawa ‘creepy’ mulai terendus lagi, waktu Dea ngeluh-ngeluh bosen kerja di kantornya, dan beberapa waktu kemudian tiba-tiba boss saya tanya: “Do you have a friend with interior backgorund”. JEGER!!!! *petir menyambar ceritanya* *ala sinetron Tersanjung* Dan… ya…. saya sekarang sekantor sama manusia satu itu. Bukan hanya itu aja, meja kita sebelahan, dan kita share extention telepon yang sama. Kurang luar biasa apa lagi, coba?

April 2011, foto berdua terbaru. makin cakep-cakep kan kita *nunggu ada yang berinisiatif memuji*

Kenapa pose saya selalu aneh-aneh gini, sementara dia selalu bermanis-manis ya? *ketahuan siapa yang pecicilan*

—o0o—

Balik lagi ke Something Borrowed, sepanjang film saya jadi inget sama Dea. Kenapa? Karena mirip sama Darcy dan Rachel, saya dan Dea juga bertemen sejak kecil sampe sekarang. Saya jadi mikir, dalam persahabatan kami, siapa ya yang lebih dominan seperti Darcy? Mari kita telaah.

Saya sebenernya ngerasa mirip Rachel, selalu merasa nggak ada apa-apanya dibanding Darcy. Ya, kalo liat dari foto-foto di atas, bisa diliat dong si Dea ini cuantik bener. Saya mah nggak ada apa-apanya dibanding dia. Dia juga lebih lively dan manis daripada saya. Kalo saya orangnya susah basa-basi, kalo lagi nggak mood ya saya diem aja, dan kalo kurang tertarik sama pembicaraan orang, saya kurang bisa bermanis-manis menanggapi. Nah si Dea ini kebalikannya. Dia bisa beramah tamah dan bermanis-manis sama siapa aja, dan bisa bikin orang betah ngobrol sama dia. Satu lagi, saya dari dulu kesulitan bergaul sama cowo, sementara dia bisa dipastikan selalu punya temen deket cowo. Temen-temennya pun berjibun, sementara saya ngerasa temen saya ya itu-itu aja.

Kami lulus SMA dengan track record pacaran yang masih bersih (belom pernah pacaran maksudnya). Jadi kami masuk kuliah dengan sedikit harapan bakal dapet pacar di kampus (yang nggak kejadian sama sekali, kami berdua ketemu pacar nggak di kampus). Waktu memutuskan serumah sama Dea, jujur aja saya sih udah rada parno, suatu saat saya bakal jadi kambing congek di rumah, sementara cowo-cowo ‘antri’ untuk ngapelin dia. *sungguh lebay*. Yah wajar dong ya… tiap kali jalan sama dia, dan ketemu temen cowo saya, buntutnya pasti minta dikenalin sama si Dea ini. Eh tapi, ternyata malah saya yang ngalamin diapelin duluan di rumah itu *nyengir* *nyombong dikit* *maap ya deaaaaa… yang penting lo hepi sekarang*

Nah seminggu sebelum dia masuk kantor saya, saya juga sempet ketar-ketir. Saya berasa terintimidasi… gimana kalo dia lebih disukai boss kami, secara dia lebih detail orangnya? Gimana kalo dia lebih gampang deket sama temen-temen saya… secara dia lebih pinter bergaul…? Dan pas dia masuk, emang bener tuh… segera terjadi kehebohan, dan semua ribut bertanya: “itu temen lo?”. Yah inilah nasib wanita biasa kalo bertemen sama bidadari. *nunduk di pojokan* hahahahahahahahahahahahaha.

Intinya, kalo dipikir-pikir, emang saya dan Dea nggak ada mirip-miripnya sama Rachel dan Darcy. Kalo kata si pacar mah: “Mana mirip sih… kalo kalian mah dua-duanya galak!” hahahahaha *tampol*. Iya bener… kita berdua sama-sama tegas dan keras. Dea punya berbagai kelebihan di atas, tapi kami juga tau kekurangannya *ssttt*. Begitu juga dengan saya, si Dea mah udah tau borok-boroknya saya, tapi dia juga tau dong baik-baiknya saya, buktinya betah temenan belasan tahun *nyengir lagi*

Ada satu moment di film itu, di mana si Rachel sadar dan bilang gini intinya: “Selama ini ternyata Darcy nggak mengambil apa yang aku miliki. Aku sendiri yang menyerahkan milikku kepadanya.”

Di situlah perbedaan Darcy-Rachel dan kami. Dea mungkin meraih hal-hal yang luar biasa, demikian juga saya, tapi kami meraihnya masing-masing dong yaaaaaaa… Enak aje!!!! Kite mah perhitungan biar sama temen juga ye….

Sungguh akhir posting yang ga jelas. hahahahaaha

Intinya….Dea… ai lop yu pul dah!!!! Kapan kite nyoba baju? *oops* *spoiler*

 

GIG: Persahabatan tiga turunan dong… Kita lagi ‘merencanakan’ nih biar bisa lanjut sampe empat turunan…. sapa tahu bisa dijodohin *ngawur*